
"Sudah lama kita menunggumu, mari kita segera makan."
Keluarga Handoko tampak bahagia pagi itu. Ketakutan yang sempat mendera Nyonya Sekar dan Tuan Handoko sirna sudah. Akhirnya menantu mereka selamat dari malam keramat.
Malam pertama di dalam Keluarga besar Handoko adalah sebuah malam mencekam penuh aura mistik. Biasanya di malam pertama itulah menantu mereka akan meregang nyawa.
Ke-ma-ti-an ketiga menantu mereka sebelumnya membuat sebuah pertanda jika ada sesuatu yang salah di dalam garis takdir Dita. Seberapa banyak mereka menyangkal maka akan semakin banyak pula bukti yang datang.
"Bagaimana pertempuran semalam?" tanya Nyonya Kirana pada menantunya.
Tentu saja hal itu membuat Dita tersedak. Buru-buru Dita meneguk air minum yang diberikan Tito.
"Ma ...." ucap Tito sambil memelas.
"Iya, iya, maaf."
Sementara itu Nyonya Sekar dan Tuan Handoko menahan senyumnya. Tentu saja mereka tidak akan menanyakan hal-hal sensitif seperti itu.
"Maafin Mama ya, Sayang. Mama cuma becanda saja."
"I-iya, nggak apa-apa."
Selepas sarapan Ibunda Tito permisi untuk segera pulang ke kediamannya. Sementara waktu Tito akan tetap berada di rumah Dita selama sepekan, baru setelahnya ia akan ikut Tito pulang.
Hari itu Nyonya Sekar dan Tuan Handoko harus menghadiri undangan salah satu kerabat, sehingga untuk dua hari ke depan yang tinggal di rumah itu hanyalah Dita dan Tito.
"Kamu baik-baik di rumah ya, Nak. Jaga Dita untuk kami."
"Baik, Pak. Saya akan menjaga Dita sebaik mungkin."
"Terima kasih."
Selepas berpamitan, keduanya segera kembali ke dalam kamar. Rasanya sangat canggung ketika mereka sudah menjadi suami istri. Bagaimana tidak, Tito begitu baik dan sangat memperlakukan Dita secara lembut.
Melihat Tito dari kejauhan, Mbok Nem amat tidak tenang. Ia tahu sebenarnya Tito siapa, akan tetapi ia tidak punya hak untuk mencampuri kehidupan majikan mereka.
"Semoga Nona Dita tidak terluka setelah ini," gumamnya di balik pintu.
Mbok Nem sengaja membiarkan majikannya bersama suaminya, sementara itu ia hanya membersihkan halaman luar.
Sore harinya.
Hawa panas kembali menyerang Tito. Di kala senja mulai muncul, Tito sudah pasti merasakan hal yang aneh mulai melawan dirinya. Dita yang kebetulan mengetahui Tito bertingkah aneh segera mendekati Tito.
"Mas, kamu kenapa?"
Tidak kuat dengan serangan yang dilakukan oleh Jin itu, arwah Tito melesat keluar dari raganya. Sontak saja Dita terkejut bukan main.
"Mas Tito?" seru Dita dengan pandangan tidak percaya.
Tito yang baru saja keluar dari tubuh Tiyo sama terkejutnya dengan Dita.
"Ka-kamu?"
"Iya, aku sudah meninggal, Sayang."
"Argh!" Dita memegangi kepalanya yang berdenyut kencang lali beberapa saat kemudian ia terduduk lesu
Tepat di waktu senja kala, ternyata arwah Tito bisa keluar dari tubuh Tiyo. Sayang, saat itu Dita sedang berada di sana dan ja melihat semuanya.
Dita masih terisak di dalam kamar. Rasanya ia tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini.
"Maaf ...."
Itulah kata yang terucap dari bibir Tito saat ini, tangannya memegang kedua tangan Dita dengan lembut. Meskip3un begitu, saat ia menyadari jika ia suaminya berbeda alam membuat Dita semakin sakit.
"Apa salahku, Mas?"
Dita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya sangat tidak nyaman ketika ia harus menghadapi masalah yang baru lagi. Kedatangan Tito yang ia anggap bisa menjadi berita baik untuk takdirnya pada kenyataannya justru membuat luka baru.
"Meskipun kita berbeda tetapi aku sangat mencintaimu Dita, tidak bisakah kamu memberikan sedikit cinta kepadaku?" tanya Tito dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Tapi kenapa harus membohongiku, bukankah aku tidak menyakitimu?" tanya Dita penuh air mata.
Tito yang tidak kuasa segera memeluk Dita seperti biasa. Ada kehangatan yang menjalar di sana, tetapi ia tidak mau lagi kebohongan lebih lama.
Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing.
Apakah Dita akan menerima kehadiran Tito, atau ia akan memusnahkannya?
Bersambung.
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini bestie, dijamin suka.