Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 89. DENDAM


Seketika berita kematian Bisma mencuat ke permukaan. Menjadi tranding topik ke seluruh desa dan rekan kerja Bisma. Bagaimana tidak, karena Bisma merupakan seorang pebisnis muda yang sangat ramah dan terkenal akan kebaikan hatinya.


Ibunda Bisma hanya bisa mengirimkan doa-doa untuk mendiang putranya. Meskipun ia sudah tau akan resiko yang diambil putranya, beliau tidak mau membuat patah rasa cinta dari Bisma untuk Dita.


Jauh sebelum semuanya terjadi, Bisma telah mendapatkan banyak wejangan darinya. Semua tragedi yang menimpa Dita tidak pernah ada yang disembunyikan dari Bisma. Ia pun sudah mengikhlaskan jika pada akhirnya semua ini akan menimpa dirinya.


"Semoga kamu meninggal dengan tenang ya, Nak. Ibu hanya bisa mendoakan semua kebaikan untukmu. Semoga engkau mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya. Aamiin."


......................


Pernikahan mereka memang baru beberapa hari, belum juga ada satu minggu, tetapi kini Bisma telah menjadi mayat. Padahal esok hari baru sepasar hari pernikahan Dita dan Bisma.


Namun, semuanya telah terjadi dan esok adalah peringatan sepasar pernikahan Dita dan Bisma sekaligus peringatan tiga hari untuk meninggalnya Bisma.


Tampak sekali gurat kesedihan di wajah Dita dan Ibunda Bisma. Seikhlas apapun yang namanya ditinggal mati pasti ada rasa kehilangan yang teramat sangat.


Rasa trauma di dalam hati Dita semakin besar. Ia mengurung dirinya dan tidak mau keluar dari kamar sepulang pemakaman Bisma. Begitu pula dengan Nyonya Sekar. Bayangan masa lalu saat hamil Dita kini kembali menghantuinya.


Seolah merasa bersalah karena dahulu ia sering mengabaikan nasehat ibu mertuanya membuat Dita terkena masalah seperti ini.


"Maafkan aku, Nak. Mungkin semua ini terjadi karena ibu yang selalu mengabaikan nasehat nenekmu," ucapnya tergugu.


FLASH BACK ON


"Nduk, kamu tidak boleh memaksa suami atau putrimu untuk menuruti semua keinginanmu. Kamu tahu bahwa semua hal itu berjalan sesuai takdir. Ada sebab maka akan ada akibat yang harus ditanggung."


"Iya, iya Bu. Aku juga tidak akan pernah memaksa siapapun!" ucapnya dengan nada sedikit kesal.


"Orang tua kok bawel amat," gumam Sekar muda.


Bagaimana tidak merasa kesal, dahulu saat masih berada di dalam keluarganya ia selalu dimanja, tetapi apa setelah menikah kehidupannya seolah selalu diatur. Bahkan seolah tidak bisa hidup dengan bebas. Makan, tidur, bahkan bernafas pun diatur.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang bakal terjadi di masa depan?" gumam Nenek Dita dari tempat duduknya.


Melihat perilaku menantunya, beliau seolah ragu jika menantunya akan melakukan semua hal yang ia larang. Mungkin itulah kehebatan Nenek Dita.


Meskipun kelihatannya hanya seperti orang biasa, tetapi nyatanya memiliki ilmu kejawen yang lumayan tinggi. Hanya saja beliau tidak memperlihatkannya secara langsung.


Sebelum meninggal ia memang selalu menjadi penentu keputusan tertinggi di dalam Keluarga Handoko, tetapi setelah beliau meninggal maka kedudukan Nyonya Sekar naik menjadi Kanjeng Ibu dan suaminya menggantikan posisi ibunya.


Sejak saat itu, Dita kecil dididik dengan sangat ketat seperti keinginan Nyonya Sekar. Suaminya juga selalu mendukung keinginan istrinya itu. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan dia kecuali bisa membesarkan Dita dan menjadikannya menantu di sebuah keluarga yang sangat kaya raya.


FLASH BACK OFF


Tok ... tok ... tok ....


Tiba-tiba saja pintu kamar Nyonya Sekar diketuk dari luar. Tentu saja hal itu membuatnya semakin ketakutan hingga beringsut mundur sampai di sudut tempat tidur. Seolah di dalam penglihatannya hanya ada bayangan hitam di sana, yang seolah tidak pernah lelah mengawasinya.


Cekrek


Pintu terbuka dengan sendirinya. Lalu sesaat kemudian muncul Tuan Handoko di sana.


"Sedari tadi kamu belum keluar, memangnya ada apa? Bagaimana caraku menanggapi pandangan dari orang-orang di luar sana!"


Tuan Handoko terlihat sangat marah terhadap istrinya. Bagaimana bisa ia tidak bisa mengantisipasi pertanda yang sudah terjadi selama dua hari ini. Hal itu ditambah lagi dengan sikap Nyonya Sekar yang seolah terlihat sangat ketakutan jika bertemu orang.


Ia mengusap gusar wajahnya, mencoba menenangkan dirinya agar ia tetap terlihat tenang ketika pandangan aneh dari orang-orang di luar sana.


"Kapan duka nestapa ini akan berakhir!" ucap Tuan Handoko sambil menunduk lesu.


Sementara itu hal yang lain jelas terlihat di dalam Kediaman Yudistira. Ibunda Yudistira tampak sangat puas dengan pekerjaan Mbah Darno. Meskipun bukan Dita yang meninggal tetapi suaminya sudah meninggal.


"Ha ha ha, bagaimana rasanya menjadi janda untuk ketiga kalinya, Anindita Puspa Ayu Batari? Sangat menyenangkan sekali bukan?"


"Seperti itulah rasa sakit hati yang sampai saat ini masih aku rasakan! Menangis setiap hari, sampai mataku bengkak, bahkan seperti orang gila ketika sosok Yudistira pulang ke rumah dengan tangisan da-rahnya."


"Kini nikmatilah semua karma yang telah terjadi, karena ditinggalkan itu rasanya sangat menyakitkan!"


Gema suara tawa dari Ibunda Yudistira terdengar memenuhi ruangan itu. Terlihat sekali jika ia sangat bahagia dengan kejadian besar saat ini.


"Pasti pandangan buruk akan menimpanya sekali lagi dan akan menggemparkan semuanya, dan kau Handoko terimalah penghinaan abadi dariku!"