
Selepas dari kamar Fano, pikiran Mbok Nem sangatlah tidak tenang. Ingin rasanya ia segera pergi dan mengatakan kepada Nyonya Kirana tentang pertanyaan dari Fano tadi.
Meskipun ia bukan bagian dari Keluarga Raharja namun sudah menjadi tugasnya untuk mengabdi kepada keluarga tersebut. Hingga apapun yang terjadi ia harus terus menjadi tameng di garda terdepan.
Keesokan harinya
"Selamat pagi, Sayang."
"Selamat pagi, Ma."
"Nanti malam kamu tidak ada acara, bukan?"
"Sepertinya aku ada meeting sampai malam, memangnya kenapa?"
Nyonya Kirana memandang suaminya, lalu setelahnya ia baru mengucapkan sesuatu.
"Nanti malam, Mama sama Papa ada pertemuan dengan rekan kerja Papamu, sebaiknya kamu meluangkan waktumu untuk itu."
Fano menoleh kerah ibunya, "Mama maksa nih, ceritanya?"
"Bukan maksa sih, cuma kalau kamu nggak ikut, ya buat apa?"
"Aku kok ngerasa dipaksa, ya?" ucap Fano dengan sedikit tersenyum.
Agar putranya mau mengikuti perkataannya, Nyonya Kirana seolah-olah mengambek. Fano pun sempat meliriknya.
"Iya ... iya nggak usah pake ngambek lah, Ma, ntar cantiknya hilang, loh ...." ucap Fano disertai kerlingan mata sehingga membuat Nyonya Kirana tersenyum.
"Makasih putra kesayangan Mama."
"Nah gitu dong. Kalau senyum kan makin cantik."
Tuan Admaja tergelak dengan tingkah konyol ibu dan anak tersebut. Akan tetapi ia begitu bahagia ketika menyadari setidaknya Fano mau mengikuti keinginan mereka.
Kediaman Handoko.
Terlihat jika pagi itu Dita buru-buru berangkat ke toko. Bahkan ia sampai melewatkan jam sarapan paginya. Nyonya Sekar yang melihat putrinya terburu-buru meniggalkan rumah hanya bisa menghela nafasnya.
Sampai-sampai ia tidak menyadari jika suaminya berdiri di sampingnya.
"Ehem!"
"Astaga Bapak, mengagetkan ibu saja," seru Nyonya Sekar sambil membelai dadanya.
"Ya maaf, Bu. Lagi pula kenapa pagi-pagi bukannya menemani aku sarapan malah berdiri melamun di sini."
"Bukan begitu, Pak. Tadi ibu hanya mengejar Dita yang melupakan sarapan paginya."
"Memangnya kenapa? Bukannya sudah biasa seperti itu."
"Ah, Bapak nggak seru!"
Selepas istrinya masuk, Tuan Handoko segera mengirim pesan kepada Dita agar nanti malam ia bisa mengikuti ajakannya pergi ke sebuah jamuan makan malam. Saat fokus menyetir, Dita sempat melirik ponselnya yang berada di atas dashboard.
"Tumben Bapak mengirim pesan?" gumam Dita.
Namun, karena ia terburu buru, oleh karena itu Dita membiarkannya terlebih dahulu. Hingga satu jam kemudian saat mobilnya sudah memasuki halaman toko dan memarkirkannya di sisi jalan.
Setelah melepas seatbelt, Dita baru membuka pesan tersebut. Ternyata memang benar, pertemuan nanti malam, semuanya sudah diatur oleh kedua orang tuanya. Meski dengan berat hati Dita mengiyakan permintaan kali ini, namun entah kenapa perasaannya sangat tidak nyaman.
Dari seberang jalan, tanpa Dita sadari Fano sudah menunggunya di sana. Namun Fano tidak berniat untuk mendatanginya. Hari ini ia hanya membutuhkan asupan energi positif, meski hanya mengintip Dita dari balik kaca kemudi mobil.
Dita yang sudah selesai membalas pesan, segera melangkah masuk ke toko. Begitu pula dengan Fano yang segera melajukan mobilnya ke kantor.
Menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari kejauhan, Dita segera menoleh. Sayang, mobil Fano sudah tidak berada di sana.
“Kenapa tidak ada orang, padahal aku yakin jika tadi ada mobil di sana, tetapi dimana ya, sekarang?”
Dita masih sibuk memperhatikan ke sekelilingnya. Tidak menemukan apa yang ia cari membuat Dita segera masuk toko. Karena tidak memerhatikan jalan. Nurul yang sedang ingin membuang sampah jadi menabrak bahu Dita.
“Eh, Mbak Dita. Maafkan saya,” ucapnya sambil menunduk.
“Enggak kenapa-napa, Nurul. Memang aku yang lagi oleng, kok,” ucap Dita sambil tersenyum.
Sementara itu di dalam mobil Fano, sang pemilik mobil terus mengembangkan senyumnya sepanjang perjalanan. Fano benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dita.
Buktinya asupan semangat yang ia inginkan dari Dita tidak harus bersentuhan secara fisik. Hanya dengan melihat dari kejauhan saja semangat Fano sudah bertambah berkali-kali lipat.
Fano memang lelaki yang sangat sulit jatuh cinta. Meskipun berkali-kali dijodohkan oleh ibunya, hati Fano sama sekali tidak tergerak. Mungkin inilah akhir pelabuhan cinta seorang Fano.
Malam harinya.
Akhirnya malam ini Dita sudah duduk bersama kedua orang tuanya di sebuah meja panjang yang diatasnya sudah berjajar segala macam menu masakan Nusantara. Di sisi seberang sebuah keluarga laki-laki sudah duduk di sana. Saling memandang dan terdiam tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
“Nah, itu dia putra saya,” ucap Nyonya Kirana sambil menunjuk kepada salah seorang CEO muda yang baru saja datang.
Fano berjalan santai ke meja keluarganya yang telah ia pesan. Di tangannya ia membawa sebuah buket bunga mawar putih. Sosok yang gagah dan tinggi itu mampu membuat senyum kedua orang tua Dita, yaitu Nyonya Sekar dan Tuan Handoko terus mengembang.
Setelah sampai Fano memberikan hormat kepada tamu undangan keluarganya lalu meminta maaf karena telah datang terlambat.
“Maafkan saya karena telah datang terlambat,” ucap Fano seraya membungkuk.
Namun, saat ia mendongakkan wajahnya, tatapannya bertemu dengan tatapan Dita.
“Ka-kau ....” ucap mereka secara bersamaan.
.
.
BERSAMBUNG