
Dita merasa jika kedua orang tuanya semakin berubah dan membiarkan dirinya menjalani kehidupannya secara lebih dewasa. Mungkin mereka menganggap jika setelah melewati beberapa kali kegagalan pernikahan, pola pikirnya lebih matang dan bijak.
Padahal sebenarnya ia belum cukup untuk menjadi sosok yang seperti mereka inginkan, karena kenyataannya Dita membutuhkan tempat untuk bersandar. Beruntung ada Mbok Nem yang setia mendampingi Dita di kala susah ataupun senang.
"Mereka bahkan tidak peduli kepadaku, setelah beberapa kali aku mengalami kegagalan pernikahan."
Hati Dita terasa teri-ris, bagaikan ters-ayat sembilu dan ditus-uk ribuan jarum. Kedua orang tua yang dulunya sangat dekat kini terasa menjauh dan menjadi orang asing.
Mbok Nem bisa melihat kekecewaan yang mendalam di dalam wajah Dita, tetapi ia tidak melihat kebencian itu di dalam matanya. Setidaknya masih ada hati yang bersih ketika suatu saat nanti Dita dan kedua orang tuanya bisa akur
Meskipun hanya sebagai seorang pembantu, Mbok Nem tidak pernah mencoba menghasut atau merac-uni pikiran Dita. Kalau junjungannya merasa salah jalan, maka ia membimbingnya untuk pulang.
"Jangan berkata seperti itu Den Ayu. Jangan pula pernah menyalahkan takdir. Tuhan memberikan ujian kepada kita agar kita semakin mendekatkan diri kepadanya dan tidak terlena dengan kebahagian semu yang bisa kita dapatkan di dunia."
"Iya, Mbok. Terima kasih banyak untuk nasehatnya."
Dita mengulas senyum, ia menurunkan egonya dan memilih untuk bersabar kembali. Bagaimanapun saat ini Dita masih bersama kedua orang tuanya.
"Akhirnya aku bisa merasa jika beban pikiranku sedikit berkurang. Terima kasih ya, Mbok."
"Sama-sama, Den Ayu."
Mbok Nem mengambil tempat makan khusus Dita, "Monggo sarapannya dimakan Den Ayu, mumpung masih anget."
"Kok tumben Mbok nggak menyuruh aku untuk makan bareng dengan Ibu dan Bapak?"
"Sepertinya tanpa disuruh pun De Ayu juga nggak bakalan mau. Jadi simbok berinisiatif untuk membawakan sarapan ini untuk Den Ayu, biar langsung bisa dinikmati."
"Mumpung masih anget lebih enak. Apalagi sayurnya masih segar karena simbok baru petik dari kebun subuh tadi."
Dita terkekeh karena ucapan Mbok Nem. Entah mengapa semakin mengenal beliau, Dita semakin menyayanginya. Padahal dahulu untuk melihat wajahnya saja Dita merasa takut, tetapi semakin lama terlihat jika Mbok Nem sangat keibuan dan lebih sayang kepadanya daripada kedua orang tua Dita.
Sementara itu di kamar Tuan Handoko dan Nyonya Sekar, keduanya masih membincangkan sesuatu yang beberapa hari ini mengusik tidur Nyonya Sekar.
"Apa karena itu kamu meminta segera pulang ke rumah?"
Punya Sekar menoleh, "Iya Mas, maaf. Aku sungguh khawatir dengan keadaan Dita, putri kita."
"Apa yang kau takutkan saat ini? Apakah kamu ingin melihat Dita menjadi janda sampai tua atau kita akan memaksa Dita agar segera menikah kembali?"
"Cukup, Mas."
Nyonya Sekar menutup kedua telinganya.
"Jangan membebani pikiranku kembali. Aku sudah sangat pusing dengan mimpi-mimpi itu. Kalau kamu sudah mempunyai solusi yang tepat, sebaiknya kamu mengatakannya langsung kepada Dita."
"Egois," gumam Tuan Handoko.
Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran Nyonya Sekar akhir-akhir ini. Terlebih saat ia sering meninggalkan putrinya demi baktinya menemani suami bekerja.
Sering kali Nyonya Sekar bermimpi buruk. Ada saja sosok yang mendatanginya, sama seperti dua hari yang lalu ketika ia melihat sosok wanita yang hendak mencek-ik leher Dita.
"Lepaskan anakku! Apa yang kamu mau dari dia, biarkan aku menanggung dosa yang aku lakukan di masa lalu."
Wanita tua itu terkekeh, "Baiklah, maka bersiaplah untuk menjemput ajalmu!"
Tidak berselang lama, wanita tua itu mence-kik lehernya hingga membuat Nyonya Sekar sesak nafas. Di dalam kelopak mata tua itu terlihat kebencian yang mendalam kepada dirinya.
"Kalau kamu tidak bisa aku sakiti, maka bersiaplah keturunanmu akan menjadi sasaran kemarahanku hahaha ...."
"Tidakkkk!"
"Bu, Bu ... bangunlah, ada apa?"
Tuan Handoko menggoyang-goyangkan tubuh Nyonya Sekar, berharap jika istrinya segera bangun. Bersyukur tidak lama kemudian, Nyonya Sekar membuka mata.
"Nggak ada apa-apa, kok Mas. Aku minta tolong ambilkan air putih saja sekarang!"
Nyonya Sekar tampak mengusap lehernya, lalu dengan penuh kasih sayang Tuan Handoko memberikan air minum untuk istrinya. Ia merendahkan dan melembutkan suaranya agar Nyonya Sekar tidak merasa tertekan akan ucapan yang terlontar dari mulutnya.
"Kalau kamu takut terjadi apa-apa pada Dita, seharusnya kamu membawanya pergi ke tempat dukun yang biasa kamu datangi, Sekar."
Tuan Handoko membelai lembut kepala Nyonya Sekar.
"Kok, dari nada bicaramu kamu selalu menyalahkan aku ya, Mas? Padahal Dita 'kan juga anak kamu juga."
Bukan merasa terhibur dengan ucapan suaminya, Nyonya Sekar justru merasa terpancing emosi pagi itu.
"Kalau dulu aku tidak mau mengikuti semua permintaanmu, mungkin putriku akan lebih bahagia saat ini. Namun setelah kedatanganmu semuanya seolah terasa lain."
"Sabar, Sekar. Akan aku bawa putri kita bangkit. Percayalah padaku."
"Semoga saja, Mas. Pokoknya jangan cuma bisa janji mulu! Aku sudah lelah dengan semua ini!"
Untuk menenangkan jiwa istrinya, Tuan Handoko memeluknya. Ia sebenarnya juga belum punya solusi atas semua bencana yang dialami oleh putrinya. Oleh karena itu ia hanya bisa berdoa semoga takdir kelam ini segera berakhir.
Sebagai seorang kepala keluarga, Tuan Handoko bisa saja meminta putra dari beberapa rekan bisnisnya untuk menikah dengan Dita. Hanya saja riwayat pernikahan Dita yang selama ini kelam membuat Tuan Handoko mengurungkan niatnya.
"Lebih baik aku membiarkan Dita mencari jodohnya sendiri daripada harus mencoreng nama baik keluarga yang telah aku bangun sejak dulu. Entah dosa apa yang dilakukan oleh kami sehingga mendapat kutukan seperti ini," ucap Tuhan Handoko sambil memandang hamparan perkebunan teh di halaman rumahnya.
Berharap jika takdir ini segera selesai, nyatanya hal ini masih akan berlanjut lagi setelah ini. Mungkin ujian yang akan datang jauh lebih besar daripada yang sudah menerpa Dita beberapa bulan yang lalu.
Kediaman Fano.
Beberapa hari yang lalu saat Fano nekat datang ke rumah Dita, ternyata mobilnya justru mengalami kecelakaan hebat. Saat ini ia sedang terbaring lemah di atas brankar Rumah Sakit.
Nyonya Kirana dan juga Yuli menangis karena sampai saat ini Fano tidak kunjung membuka mata, bahkan jika dua hari lagi Fano tidak membuka mata maka ia dinyatakan koma.
"Apa ini takdir buruk yang kamu maksud, Yul?"
"Iya, ini adalah salah satu kekhawatiran yang sempat membuat aku sangat melarang jika Fano berdekatan dengan Dita."
"Oh, jadi begitu?"
"Iya, aku meminta maaf karena aku tidak secara langsung mengatakan hal ini pada kakak."
Nyonya Sekar menghela nafasnya, ia tidak menyangka jika Fano terkena imbas dari hubungan yang belum terjadi antara Dita dan Fano.
"Apakah kamu tidak bisa mengurangi dampak dari semua ini?"
"Akan aku usahakan, Kak."
"Lebih baik kita berdoa agar semuanya tidak akan menjadi lebih buruk dari ini.