
Dita mulai mengerjapkan kedua matanya ketika cahaya matahari mulai menembus ke dalam kamar. Namun, badan yang terlalu letih meskipun hanya bisa digerakkan untuk sesaat membuat Dita tidak bisa bangun sendiri.
Sesaat kemudian pintu kamarnya terbuka dan terlihat jika Mbok Nem sedang membawa sarapan pagi untuk Dita. Dita menampilkan senyum manisnya kepada Mbok Nem.
"Selamat pagi Den Ayu, bagaimana keadaannya pagi ini?"
Dita tersenyum canggung karena pada kenyataannya tubuh Dita memang sangat sakit. Apalagi semalam ia baru saja bertemu dengan hantu. Biasanya orang yang habis bertemu dengan makhluk dari dunia lain akan merasakan tubuhnya tidak enak badan.
Hal itu terjadi karena aura dari keduanya saling berbenturan satu sama lain. Kalau tidak beruntung maka keduanya akan mengalami nasib sial.
Dita teringat ketika semalam ia bertemu dengan seorang wanita tua dengan bentuk yang sangat menyeramkan. Kedua bola mata yang hampir keluar dan rambut penuh belatung. Dita sama sekali tidak pernah mengenalnya. Bagi Dita wajah mahluk itu sangat asing.
Mbok Nem yang menyadari jika junjungannya melamun segera melambai-lambaikan tangannya di hadapan Dita.
"Loh, kok Den Ayu justru melamun? Ini masih pagi Lo, Den."
Dita gelagapan menjawab pertanyaan dari Mbok Nem.
"A-aku? Aku tidak melamun, Mbok. Hanya saja ..."
Dita nampak menggantung kalimatnya. Ia begitu berat mengatakan apa yang ia alami semalam, tetapi satu-satunya orang yang bisa diajak bicara tentang hal itu hanya Mbok Nem.
"Tidak ada orang lain yang bisa aku ajak bicara kecuali Mbok Nem. Bagaimana kalau aku membagi cerita itu kepadanya. Mungkin beliau bisa memberikan sebuah nasehat atau solusi untukku, ya aku harus bercerita saat ini."
"Mbok Nem, bolehkah aku bercerita tentang sesuatu kepadamu. Namun, aku berharap kau tidak menceritakan hal ini kepada siapapun meskipun itu kedua orang tuaku. Bagaimana, Mbok?"
"Jika itu bisa membuat Den Ayu lebih bahagia dan nyaman, simbok tidak keberatan mendengarkan cerita dari Den Ayu."
"Benarkah?"
"Serius!"
Mbok Nem adalah orang yang benar-benar baik, ia sudah menganggap Dita sebagai putrinya sendiri. Maka dari itu Dita lebih percaya kepada Mbok Nem daripada kepada kedua orang tuanya.
Dita terbiasa bercerita kepadanya tentang semua hal. Bahkan ada beberapa pengalaman yang ia lewati bersama Mbok Nem dan hal itu dirahasiakan dari Nyonya Sekar dan Tuan Handoko.
Setelah cukup merenung, Dita mulai mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Mbok, dengarkan perkataanku baik-baik dan jangan sekali-kali menyela sebelum aku selesai mengatakan semuanya."
"Baik, Den Ayu."
"Aku mengatakan hal ini sekaligus ingin meminta pendapat kepadamu, bagaimana aku harus melewati ujian kali ini."
"Aku tidak ingin salah jalan dalam memilih langkah apa yang seharusnya aku ambil, karena aku yakin semua ini ada hubungannya dengan kematian para suamiku yang terdahulu atau sebuah rahasia yang memang disembunyikan oleh ibu terhadapku."
Kening Mbok Nem berkerut setelah mendengarkan ucapan Dita. Mbok Nem bisa merasakan jika hal ini sangat penting maka dari itu ia pun meminta izin kepada Dita untuk menutup jendela terlebih dahulu sebelum junjungannya tersebut mulai bercerita.
"Menurut saya hal ini sangat penting. Sebelum Den Ayu memulai cerita, sebaiknya saya menutup jendela dan memastikan tidak ada orang di luar."
"Ya, Mbok. Memang saya tidak ingin ada orang lain yang akan mencuri informasi yang akan aku sampaikan kepadamu."
"Kalau begitu, tunggu sebentar."
Dita mengangguk, lalu setelahnya Mbok Nem mulai menutup pintu kamar Dita dan juga jendela kamarnya.
"Jadi begini, Mbok ... semalam aku bertemu dengan sosok hantu yang sangat menyeramkan."
"Ha-hantu?"
"Iya, hantu Mbok."
"Karena aku terlalu ketakutan, membuatku tidak berani kembali ke kamar dengan segera. Aku lebih memilih untuk datang ke kamar Mbok Nem. Akan tetapi tidak ada siapapun yang menjawab panggilan dariku. Aku pun mengurungkan niat dan segera kembali ke kamar.
"Oh, ya ... apakah semalam Mbok Nem tidak bersemedi?"
Mbok Nem pun menggeleng, "Tidak Den Ayu."
"Pantas saja saat aku mengetuk pintu kamar Mbok tidak ada jawaban dari sana, tetapi tidak mengapa yang terpenting saat ini aku sudah bisa bercerita kepadamu, Mbok."
"Maafkan saya Den Ayu. Semalam saya kurang enak badan, sehingga selepas semua keluarga tidur saya pun ikut tidur. Sekali lagi saya mohon maaf karena tidak mendengar panggilan dari Den Ayu."
"Nggak apa-apa Mbok, setidaknya saya tahu kenapa Mbok Nem tidak menjawab panggilan dari saya."
"Tapi anehnya, kenapa ya, Mbok ... semalam saat saya kembali dari kamar Mbok, saya melihat bayangan hitam itu berada di gazebo belakang dan ketika saya hendak membuka pintu, sosok itu sudah berada di belakang saya dan wajahnya sangat menyeramkan."
"Memang sosoknya seperti apa Den Ayu?"
"Sosoknya berwujud seorang wanita tua. Dia memakai kebaya dan juga jarik. Ya, seperti orang zaman dahulu itu, loh Mbok. Mereka suka memakai pakaian kuno."
"Akan tapi ketika ia menegurku, bola matanya hampir keluar. Belum lagi dari rambutnya keluar belatung yang sangat banyak. Bau yang menguar dari tubuhnya sangat tidak enak, Mbok. Bahkan aku pun hampir mual dibuatnya."
"Oh, ya. Satu lagi katanya aku harus menolong dia.Kalau tidak dia akan menghantuiku sepanjang hidup."
"Apa iaa tidak meninggalkan pesan yang lagi?"
Dita nampak menggeleng, tetapi ia tidak bisa menggambarkan dengan jelas sosok itu.
"Maaf Mbok, saya tidak bisa menggambarkan dengan jelas sosok itu."
Mbok Nem menggeleng.
"Tidak apa-apa, Den Ayu. Oh, ya ... semalam saat menolong Den Ayu di depan pintu, simbok sudah mendapatkan gambaran secara jelas sosok wanita tersebut. Hanya saja, simbok tidak tahu siapa sebenarnya ia dan kenapa selalu menghantui Den Ayu."
"Apakah aku boleh mengatakan hal ini kepada Ibu ataupun Ayah?"
"Kalau Den Ayu tidak keberatan, kita bisa membahasnya kepada Kanjeng Ibu maupun kepada Bapak."
"Apa mereka sudah kembali dari luar kota, Mbok?"
"Sudah, Den Ayu. Tadi pagi Kanjeng Ibu dan juga Ayah sudah sampai di rumah. Mungkin saat ini, mereka sedang beristirahat."
Wajah Dita terlihat sendu, "Pasti mereka tidak akan menanyakan bagaimana keadaanku saat ini?"
Mbok Nem tidak bisa menyalahkan Dita. Apa yang dipikirkan olehnya saat ini memang benar. Ia pun berpikiran hal yang sama tentang itu, sebab dari berapa kegagalan pernikahan yang dialami oleh Dita, oleh tidak peduli dan membiarkan Dita tenggelam ke dalam keterpurukannya.
"Benar kataku 'kan Mbok, mereka memang seperti itu. Entahlah, aku menjadi sanksi apakah aku benar anak mereka atau bukan?"
"Sabar Den Ayu, saya yakin Anda pasti bisa melewati semua ini dan akan mendapatkan kebahagiaan."