
Gemericik air terdengar dari kamar Dita sejak satu jam yang lalu. Tidak ada yang tau keadaan Dita saat ini kecuali dirinya sendiri. Akan tetapi Dita sudah berdamai dengan keadaan. Meskipun begitu ia masih membatasi dirinya saat bertemu dengan orang yang belum ia kenal.
"Aku tidak boleh seperti ini, Mas Bisma pasti tidak akan menyukai hal ini," gumam Dita di bawah guyuran air shower.
Ia mencoba menikmati setiap guyuran air mengalir memenuhi nadinya. Suara gemericik air sangat menenangkan jiwa.
Di luar kamar Dita, Mbok Iyem masih mempersiapkan sarapan pagi untuk Nona Mudanya. Ia belum menyadari jika Dita sudah bersiap untuk keluar dari kamar.
Namun dengan telaten, Mbok Iyem selalu merawat Dita. Setiap tiga kali sehari, beliau mengantarkan makanan pada Dita. Entah itu di makan ataupun tidak, beliau selalu mengirimkan makanan dan minuman ke kamar tersebut.
Awalnya Dita acuh, tetapi melihat perhatian Mbok Iyem ia pun terenyuh dan memakan apapun yang beliau sajikan meskipun tidak sampai habis. Akhirnya Dita sudah selesai mandi dan Mbok Iyem sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Apa Non Dita sedang mandi, ya?" gumam Mbok Iyem sejak berdiri di depan kamar Dita.
Mendengar seseorang berbicara di luar, Dita bergegas mendekati arah pintu. Tidak lama kemudian, pintu kamar Dita terbuka. Ia tampak lebih segar setelah mandi. Wajahnya sudah tidak sepucat beberapa hari yang lalu. Hal itu membuat Mbok Iyem tertegun.
"Loh, Mbok sejak kapan berada di situ?" tanya Dita saat pertama kali melihat Mbok Iyem.
"Sejak tadi, Non. Hanya saja karena pintunya terkunci, Mbok tidak berani masuk."
Dita terkekeh akan ucapan pembantu rumah tangganya. Tidak disangka, tawa renyah Dita kembali terlihat pagi itu setelah semalam Dita sudah tertidur lelap, pagi harinya ia segera pergi keluar rumah untuk menuju perkebunan milik Tuan Handoko.
Melihat jika nona mudanya baik-baik saja, setidaknya membuat hati Mbok Iyem tenang.
"Alhamdulillah akhirnya Non Dita kembali lagi."
"Mulai saat ini, Mbok tidak perlu mengantarkan makanan lagi ke kamarku, karena aku akan bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya."
"Syukurlah kalau begitu, Mbok turut bahagia mendengarnya."
Dita mengangguk, lalu segera melangkah ke ruang makan untuk menemui ayah dan ibunya. Sementara itu, Mbok Iyem mengikutinya dari belakang.
Suasana pagi itu sangat cerah, secerah mentari pagi yang menyinari dunia. Tidak ada yang menyangka jika Dita mau keluar dari kamar. Hampir semua orang yang bertemu dengan Dita menyapanya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Dita pada semua anggota keluarga yang hadir di sana.
"Se-selamat pagi, Dita."
Hampir semuanya terkejut dengan kemunculan Dita. Namun, tidak sedikit juga yang bahagia. Terutama Nyonya Sekar dan Tuan Handoko.
Setelah itu Dita duduk dan bergabung dengan semuanya dan sarapan pagi bersama. Selama acara sarapan pagi tidak ada percakapan yang berarti, semuanya larut dalam pemikiran masing-masing.
"Oh, ya Bapak Ibu dan semuanya Dita ingin pamit untuk pergi keluar sebentar. Tenang saja, Dita hanya ingin jalanjalan sebentar, lalu setelahnya akan segera pulang," ucap Dita dengan pembawaan tenang.
Ucapan Dita barusan membuat semuanya semakin terlelap dalam pikirannya masing-masing. Beruntung ditemukan dengan orang-orang baik. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menyetujuinya.
"Kami menyetujui ucapan darimu. Hanya saja pesan dari kami sebaiknya kamu berhati-hati."
"Terima kasih semuanya, karena doa dari kalian sangat berarti untukku."
Setelah menyelesaikan sarapan pagi dengan diantar oleh sopir dari Keluarga Handoko, ita mulai meninggalkan rumah.
Dita merasa sangat bersyukur ketika ia bisa kembali bangkit setelah banyaknya ujian yang datang silih berganti dan terus menderanya. Setidaknya ia sudah berusaha untuk bangkit, dan melanjutkan sebuah keinginan yang tertunda.
Telepon milik Dita berbunyi nyaring, membuatnya sedikit menajamkan penglihatannya lalu segera mengangkatnya.
"Hallo selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dita.
Bukannya mendapat jawaban. Dari seberang telepon malah terdengar suara tersendat dari dalam sana.
"Hihihi, kamu mencari aku atau sedang menguji nyalimu sampai berani keluar dari rumahmu!"
Sontak saja Dita melemparkan ponselnya ke jok belakang. Tempat di mana, seharusnya ia berada, karena di tempat itu ternyata tidak ada siapapun. Justru ia hanya berdua dengan sopir.