
Nyonya Sekar melihat putrinya senyum-senyum sendiri sedari tadi. Ia pun menyimpulkan jika Dita dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Entah kenapa rasanya senyum Dita kali ini mengisyaratkan jika memang seharusnya Nyonya Sekar tidak lagi mencampuri urusan jodohnya.
Dita yang merasa jika diperhatikan dari kejauhan segera meletakkan kembali ponselnya dan kembali fokus pada bukunya. Hembusan angin sore yang datang menerpa kamar Fano membuatnya harus menutup tirai jendelanya. Terlalu kencang hingga membuat Fano kedinginan.
"Tumben udara sore ini begitu berbeda, mana anginnya kencang banget!"
Mau tidak mau Fano berdiri dan menghampiri meja untuk mengambil remote jendela kamarnya. Saat ia hendak menekan tombol remote otomatis, ternyata macet hingga mau tidak mau ia harus menutupnya secara manual.
Diraihnya tirai kamar agar tertutup, matanya memicing ketika melihat pergerakan di balik tirai.
"Berasa ada orang di luar, tapi siapa?"
Perlahan Fano bergerak ke balkon. Dirinya terkejut ketika mendapati sekelebat bayangan hitam yang baru saja melintas melewati balkonnya dan menghilang di semak-semak.
"Makhluk apa barusan? Kenapa rasanya aku sangat familiar?"
Fano mengusap kasar rambutnya yang tertiup angin. Dinginnya udara sore membuatnya bergegas untuk masuk ke dalam kamar. Berkali-kali ia mengusap tangannya agar lebih terasa hangat, tetapi hasilnya sama saja, tetap dingin.
"Lebih baik aku turun ke bawah, siapa tahu bisa bikin susu hangat."
Lagi-lagi dirinya dikejutkan dengan pintu kamar yang tertutup dengan kencang. Brak! Seolah pintu tersebut ditutup dengan cara dibanting.
Ia menoleh ke belakang, "Siapa sih yang bikin resek!"
Fano segera mengurungkan niatnya untuk turun. Ia berbalik dan langsung memeriksa ke setiap sudut kamar.
"Tidak ada siapapun? Lalu apa tadi?"
Fano masih sibuk mencari bayangan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sehingga ia sampai lupa jam makan malam.
Karena Fano tidak kunjung datang membuat ibunya menginginkan Mbok Ijah untuk pergi memanggil putranya.
"Mbok tolong panggilkan Fano! Tumben-tumbenan jam segini ia belum turun."
"Baik, Nyonya. Biar saya panggilkan."
Mbok Ijah sudah bisa merasakan jika ada hal yang tidak beres dengan Fano. Ia bergegas untuk segera naik ke lantai atas. Tidak lupa ia membawa garam krasak untuk ditaburkan di kamar Fano.
Brak!
Fano menoleh karena kaget. "Mbok Ijah, ngagetin aja!"
Bukannya menjawab, ia justru berlari ke balkon dan menaburkan garam tersebut di sana. Tentu saja segera menyusulnya karena rasa penasarannya.
"Mbok, kamu ngapain?" tanya Fano bingung.
Setelah selesai menaburkan garam tersebut di balkon, ia segera berbalik dan menutup segera pintu dan kamar Fano.
Seketika Mbok Ijah menundukkan wajahnya lalu meminta maaf pada Fano.
"Maafkan atas kelancangan saya, Tuan. Itu tadi hanya untuk mengusir makhluk halus yang tadi sempat mengganggu Anda."
Masih dengan tatapan menyelidik, Fano menunggu jawaban dari pengasuhnya tersebut.
"Aroma dan hawa kamar ini sudah berbeda, Tuan. Maka saya bisa menyimpulkan demikian."
Fano menghela nafasnya lalu hendak duduk di kursi, tetapi Mbok Ijah melarangnya.
'Jangan duduk dulu, Tuan. Anda sudah ditunggu Nyonya untuk makan malam, sekarang."
"Hhh ... Baiklah kalau begitu, kita turun."
"Biar saya membersihkan kamar Tuan dari pengaruh makhluk halus itu terlebih dahulu."
"Baiklah kalau begitu, aku turun, Mbok. Berhati-hatilah."
Mbok Ijah segera mengambil posisi duduk bersila, lalu sesaat kemudian ia membaca doa-doa selepas Fano pergi. Fano yang baru saja turun baru bisa merasakan lega setelah itu.
Melihat putranya sudah turun, Ibunda Fano segera menyapa putranya.
"Malam Sayang, tumben-tumbenan kamu datang terlambat."
Fano mengulas senyum, "Iya, ini baru saja selesai mengerjakan tugas kantor."
"Tugas kantor sampai kamu bawa pulang lagi?"
"He he he ... Iya Ma, biasa aja kali."
"Mama harap setelah kamu menikah, pekerjaan kantor tidak perlu kamu bawa pulang. Nanti kalau di rumah, kamu hanya perlu bikin cucu buat Mama sama Papa.'
Tentu saja Fano tergelak akan ucapan Mamanya,
"Calon istri saja aku nggak punya, gimana mau bikin cucu?"
"Aih gitu saja sampai perlu Mama yang cariin, memangnya kamu nggak suka cewek atau jangan-jangan kamu jeruk makan jeruk?"
"Mama ... Jangan ngaco, deh!" pekiknya kesal.
Tentu saja Fano adalah lelaki normal, hanya saja pekerjaan yang menumpuk membuatnya lupa akan urusan cinta. Akan tetapi ia sedikit kebingungan ketika Dita hadir dan menyapa hidupnya yang kesepian.
Ada magnet tersendiri yang membuatnya semakin betah ketika bersamanya. Sementara itu Mbok Ijah sedang menembus waktu untuk menemui makhluk tersebut dan mencari tahu kenapa ia sampai mengganggu junjungannya.
Akankah Mbok Ijah mampu membuat makhluk itu pergi?
.
.
BERSAMBUNG