
Jodoh, rezeki, kematian semuanya adalah rahasia Ilahi. Banyak yang tidak mengerti apa itu cinta dan pengorbanan. Sebuah cinta sejati akan dibawa sampai mati. Meskipun begitu, sebuah kematian tidak akan memisahkan dua hati yang saling mencintai.
"Dita, percayalah padaku, aku akan datang melamarmu."
Setelah memastikan jika Dita dirawat dengan baik di Rumah Sakit. Tito segera kembali ke rumahnya. Ia bisa melihat dengan jelas raut wajah ibunya yang semakin pucat. Sejak kematiannya, senyum Ibunda Tito sudah memudar.
Harapan yang sempat ia torehkan untuk kesembuhan Tito sirna sudah. Bahkan untuk menghibur dirinya, kini Ibunda memeluk bingkai foto milik Tito.
"Apakah aku bisa meminta tolong ibu untuk melamarkan Dita untukku."
Tito membelai lembut wajah ibundanya. Dipandanginya dengan perlahan wajah cantik ibunya yang tidak pernah memudar itu. Sayang, demi menutupi dirinya yang penyakitan, mereka rela terbang ke Belanda demi mengobati penyakitnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Kini cintanya telah kandas, harapan untuk bersanding dengan Dita harus dipatahkan oleh kematian.
"Kenapa aku tidak mencoba untuk masuk kembali ke dalam tubuhnya?"
Tito memang mempunyai kembaran yang disembunyikan. Sama halnya dengan Tito ia memiliki kelainan jantung, sehingga selama hidupnya ia bergantung dengan alat-alat kedokteran.
"Maaf, jika aku meminjam ragamu, aku ingin menikahi Dita!" ucap Tito tepat di telinga saudara kembarnya Tiyo.
Berkali-kali mencoba, akhirnya Tito berhasil memasuki tubuh kembarannya. Ia pun mulai menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit. Lalu setelahnya mulai membuka mata.
Suara alarm kesehatan yang terpasang di tangannya berbunyi saat ia mulai menggerakkan tangannya dengan leluasa.
"Apa ini? Kenapa berbunyi?"
Tito yang tidak sadar dengan alat itu begitu terkejut. Sama halnya dengan ayah dan ibunya yang kaget saat mendengar alarm itu.
"Astaga ... Tiyo ...." sahut Mama Tito dengan sumringah.
Sebuah keajaiban Tiyo bisa terbangun. Padahal ia sudah tidak sadarkan diri selama belasan tahun. Kini sebuah keajaiban terjadi di depan matanya.
"Mama ...."
"Sayang, kamu bangun, Nak."
Ditemani uraian air mata akhirnya Ibunda Tito memeluk tubuh putranya yang tersisa. Dipeluknya dengan penuh kasih sayang dan ucapan bersyukur yang tiada henti.
"Mama kenapa nangis? Tito sudah pulang, Ma."
Deg
"Apa kamu bilang, kamu Tiyo, Nak. Bukan Tito!" ucap Ibunda Tito.
Tito yang belum siap mengungkap jati dirinya segera meminta maaf kepada ibunya.
"Maaf, Ma. Aku tidak bermaksud membuat Mama menangis seperti ini."
"Mama nggak nangis, Sayang. Hanya saja aku terlalu senang ketika menyadari jika kamu sudah siuman."
Tito tersenyum masam. Niat hati ingin membuat ia kembali melanjutkan kehidupannya, justru kini Tito justru terjebak di dalam hidup saudara kembarnya.
Para tenaga medis segera memastikan keadaan Tito. Semua alat kedokteran sudah digunakan dan semoga putra Anda akan baik-baik saja.
Sambil memeluk putranya, Ibunda Tito mengatakan keinginan dan harapannya.
"Jangan pergi dariku lagi, Dinda. Aku sungguh mencintai dirimu sepenuh hatiku."
Sementara itu, Dita sudah siuman, satu kalimat yang ia ucapkan pertama kali membuat Nyonya Sekar berpikir keras.
Begitu bahagianya Dita ketika ia bisa bertemu dengan Tito, entah kenapa hanya lelaki itu yang berhasil membuat hati Dita kembali menghangat ketika berhadapan dengan cinta.
"Sejak kapan kamu ketemu dengan Tito, bukankah ia masih di Belanda?" tanya Nyonya Sekar terheran-heran.
Dita yang tidak tahu jika Tito berada di Belanda hanya bisa menggeleng.
"Bu, aku beneran ketemu dengan Tito kemarin, dan ia bahkan sudah menyatakan rasa cintanya kepadaku dan bersiap untuk melamarku."
"Oh, ya? Kenapa kamu tidak mengajak dia untuk berkunjung di rumah?"
"Em, itu ... Anu--"
Dita menjeda kalimatnya. Ia sedang merangkai kata yang tepat untuk diucapkan di hadapan ibunya.
"Sudahlah, kamu jangan berhalusinasi sebaiknya kamu tidur."
"Kenapa Ibu tidak pernah bisa memahami hatiku?" gumam Dita.
"Andai Tito bisa di sini untuk sekali waktu, pasti semuanya akan baik-baik saja."
BERSAMBUNG