Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 78. JANGAN LAKUKAN


Meskipun Bisma besar dan sudah lama tinggal di luar negeri, tetapi ia tetap mencintai budaya sendiri. Bisma lebih suka memperlajari ilmu klenik daripada ilmu filsafat. Meskipun ia kuliah dalam jurusan bisnis dan management.


Melihat Dita seperti hilang arah, Bisma tidak kehilangan akal. Ia langsung memberikan doa-doa pada istrinya. Beruntung waktu resepsi setengah jam lagi selesai.


Melihat anak buahnya tiba, Bisma memberikan kode padanya agar mendekat.


"Tolong sampaikan kepada Ibuku, bahwa dengan terpaksa aku harus membawa istriku kembali ke kamar dengan cepat."


"Baik, Tuan."


Salah satu anak buahnya membantu Bisma membawa Dita masuk, salah satunya meminta ijin pada kedua orang tuanya Bisma. Saat Bisma melewati mereka, ia memberikan kode kepada kedua orang tuanya agar memberikan ijin pada mereka agar bisa beristirahat lebih dulu.


Sementara itu pandangan para tamu undangan terlihat berbeda. Mereka menganggap jika pasangan pengantin baru sudah tidak tahan segera belah duren. Apalagi durennya belum pernah dibelah sehingga membuat mereka senyam-senyum sendiri.


...........


"Harusnya aku tidak menikah lagi, maaf Mas."


"Dasar kamu tidak setia, bisa-bisanya belum lama aku meninggal kamu sudah menikah lagi!"


Wisnu dan Yudistira sama-sama menekan Dita. Mereka datang secara bergantian mengisi raga Bisma di dalam pandangan Dita.


Mereka merasa tidak suka karena Dita sudah menikah lagi padahal kematian mereka belum ada satu tahun. Mereka juga menyalahkan Dita karena setelah menikah dengannya, mereka malah meninggal.


Dita semakin ketakutan saat mendiang suaminya makin mendekati dirinya, karena pada saat itu yang terlihat bukanlah wajah tampan mereka melainkan wajah buruk rupa. Setelah berhasil membuat Dita terpuruk, makhluk tersebut akan lebih mudah menguasai Dita.


"Dek, kamu kenapa?"


Bisma masih berusaha untuk tidak membentak istrinya, ia tau jika Dita pasti sedang melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Meskipun begitu ia juga tidak berani mengganti pakaian Dita saat ini. Oleh karena itu, ia meminta ibunda Dita membantunya mengganti pakaian.


Sesaat kemudian, anak buahnya telah tiba. Ia mengetuk pintu kamar pengantin sambil mengatakan jika ibu mertuanya sudah datang.


"Permisi, Tuan. Ibu mertua Anda sudah tiba."


"Persilakan beliau untuk masuk!"


"Silakan masuk Kanjeng Ibu," ucap salah satu pengawal yang berjaga di depan kamar pengantin.


"Terima kasih."


Kini, Nyonya Sekar sudah masuk ke dalam kamar pengantin.


"Selamat malam, Kanjeng Ibu, maaf saya mengganggu waktu Anda."


"Ibu bisa melihat kondisi Dita saat ini, seperti itu. Saya merasa kasihan padanya jika saya sampai tega membiarkan Dita tidur dengan menggunakan pakaian pengantin."


Nyonya Sekar terkejut melihat Dita seperti orang lain. Tatapannya begitu kosong tetapi ada rasa ketakutan yang mendalam di sana. Wajahnya terlihat lain daripada biasanya.


"Dita sangat ketakutan ketika melihat saya, bahkan terkadang ia menjerit histeris."


"Biar aku yang menggantikan bajunya, jika kamu tidak keberatan."


"Bu-bukan begitu, Bu. Hanya saja saya belum meminta ijin pada Dita, sehingga saya tidak berani membuka bajunya.


Nyonya Sekar tersenyum menanggapi ucapan menantunya, tetapi ia sangat miris melihat keadaan putrinya.


"Kalau begitu saya menunggu di luar, Bu."


Nyonya Sekar mengangguk, lalu setelah memastikan Bisma keluar dari kamar, ia segera menggantikan baju putrinya. Saat Nyonya Sekar memegang tangan Dita, tatapan Dita beralih kepadanya.


"Kenapa kau memaksaku untuk terus menikah?" ucap Dita dengan suara serak.


Nyonya Sekar yakin jika tubuh Dita sedang dirasuki oleh jin. Terlihat matanya memerah, belum lagi sentuhan tangannya terasa dingin. Lagi pula Dita tidak pernah menggertaknya seperti ini. Jadi mana mungkin Dita menjadi orang lain dalam waktu sekejab.


"Ibu tidak pernah memaksamu, jadi kenapa seolah kamu membenci ibu, Nak?"


"Hihihi ... dasar wanita jahat, kau berani menumbalkan putrimu sendiri demi keserakahan mu!"


Dita yang awalnya menunduk kini menatap tajam ke arah Nyonya Sekar. Sesaat kemudian ia bangkit dari ranjangnya bergerak mendekati ke mana Nyonya Sekar berjalan.


"Jika kamu tahu, aku tidak pernah bahagia akan rencana perjodohan yang selalu kalian rencanakan!"


"Hatiku sakit, saat mengetahui alasan di balik kalian menyetujui lamaran mereka."


"Sekali lagi kau benari melakukan hal ini, maka kupastikan semua suami dari anakmu akan aku habisi!"


Nyonya Sekar beringsut mundur hingga membentur dinding kamar. Sementara itu nafasnya tercekat sehingga ia tidak bisa berteriak ataupun meminta tolong kepada siapa pun.


Kini tangan Dita terulur ke leher Nyonya Sekar sambil tertawa menyeringai, lalu setelahnya ia mulai mencekik lehernya.


"Apa kau mau melihat penderitaan putrimu tidak pernah berakhir, Hah!"


Nyonya Sekar menggeleng, tetapi cengkeraman tangan Dita semakin erat, hingga membuat dirinya sesak nafas.


"Ja-jangan lakukan, Sayang. Aku i-ibumu!" ucapnya terbata.