Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 79. AKU BISMA


Merasa ada yang tidak beres di dalam kamarnya, tanpa mengurangi rasa hormat, Bisma membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam tiba-tiba. Namun ia tetap menjaga etika dan adab.


"I-ibu ...." serunya tidak percaya.


Ternyata Bisma melihat bahwa ibu mertuanya sedang dalam keadaan bahaya. Dita mencekik leher ibunya sendiri. Sehingga mau tidak mau Bisma harus melerai keduanya.


"Apa yang kamu lakukan, Dek. Itu ibu kita!"


Bisma memegang tubuh Dita, tidak lupa ia membacakan doa agar Dita kembali tenang. Meniup ubun-ubun Dita dengan iringan doa-doa. Bisma tahu jika saat ini raga Dita sedang dipinjam oleh makhluk yang menguasai tubuh Dita.


Mungkin makhluk itu yang membunuh suami-suami Dita terdahulu. Namun, anehnya ia tidak menyerang dirinya.


"Tenang, Dek. Kuasai dirimu, kamu pasti bisa menang melawannya!" bisik Bisma tepat di salah satu telinga Dita.


Mendadak Dita menggigil, tubuhnya terasa sangat dingin. Saat cengkeraman tangan Dita melemah, Bisma segera menarik tubuh Dita agar menjauh dari Nyonya Sekar.


Tidak ada kekhawatiran yang dirasakan Bisma saat itu, karena ia tahu jika kekuatannya jauh lebih tinggi dan mampu mengalahkan makhluk tersebut. Ilmu kanuragan yang dimiliki Bisma jauh lebih kuat ketimbang yang dimiliki makhluk tersebut, sehingga Bisma dengan mudah dapat membuat makhluk itu pergi.


Seketika tubuh Nyonya Sekar luruh ke lantai. Nafasnya masih tersengal, melihat ibu mertuanya seperti itu Bisma langsung meminta pertolongan dari anak buahnya dan pengawalnya yang ada di depan kamar.


"Pengawal masuklah!" teriak Bisma.


Mendengar teriakan Tuan Besarnya, beberapa pengawal berbondong-bondong masuk ke dalam kamar. Mereka langsung melihat sekeliling kamar, memastikan tidak ada bahaya di sana.


"Bantu ibu mertuaku untuk kembali ke kamar!"


"Ba-baik, Tuan."


Di saat para pengawal memapah Nyonya Sekar, Bisma menopang tubuh Dita dan menggedongnya kembali ke atas ranjang. Untaian doa-doa terus mengalir untuk istrinya itu.


"Kamu di sini dulu ya, Dek."


Setelah memastikan Dita nyaman, ia menoleh ke arah Nyonya Sekar.


"Tunggu dulu, jangan bawa beliau pergi dalam keadaan seperti itu."


"Baik, Tuan."


Pengawal tadi menghentikan langkahnya lalu membantu Nyonya Sekar untuk duduk sementara waktu di sudut kamar.


Bisma lalu menghampiri Ibu mertuanya dan memberikan segelas air putih yang sudah ia berikan doa. Tidak lupa ia membantu beliau untuk meminumnya secara langsung. Sesaat kemudian ibu mertuanya sudah bisa kembali berbicara.


"Terima kasih, Nak."


"Sama-sama, Bu. Sebaiknya Ibu segera istirahat, biar pengawal saya membantu Ibu kembali ke kamar."


"Ibu tidak kenapa-napa, kan? Apa sudah membaik?"


"Sudah lebih enakan. Maaf Ibu keluar dulu," pamitnya pada Bisma.


Belum sempat beliau beranjak ia menoleh ke arah Bisma.


"Untuk Dita, bantulah ia mengganti bajunya, Nak. Kamu sudah menjadi suaminya, jadi ia sudah menjadi muhrimmu. Tidak perlu kamu meminta ijin darinya."


Bisma hanya bisa mengangguk tanpa berkata apapun. Setelah berpamitan pada Bisma, Nyonya Sekar segera melangkah keluar dengan didampingi oleh beberapa pengawal dari rumah Bisma.


Acara resepsi pernikahan sudah selesai, oleh karena itu Bisma bebas memanggil siapa saja anggota keluarganya. Sedangkan situasi di luar sudah sepi. Para tamu undangan juga sudah pergi satu jam yang lalu.


Bisma memandangi wajah istrinya.


"Parasmu memang cantik jelita, hatimu juga baik, hanya saja nasibmu tidak ada yang tahu, semoga saja aku bisa membantumu, Dita."


"Tetapi maaf, untuk saat ini aku tidak akan menyentuhmu terlalu lama."


Didekatinya ranjang di mana istrinya berbaring. Di usapnya wajah Dita untuk sesaat.


"Maaf, aku tidak mau mengambil resiko, lebih baik aku memanggil Ibuku untuk membantu mengganti bajumu, Dita."


Entah kenapa Bisma mendapatkan bisikan agar tidak menyentuh tubuh Dita malam itu sampai beberapa hari ke depan. Bisikan itu terus berulang, hingga mau tidak mau Bisma mengikuti bisikan itu sambil ia mempelajari misteri di balik kematian para suami Dita yang terdahulu.


Sementara itu, Ibunda Bisma tergopoh-gopoh memasuki kamar Bisma. Beliau ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di kamar Bisma, karena saat ia berjalan ke kamar putranya itu ia mendengar obrolan para pengawal yang mengatakan bahwa terjadi hal yang besar barusan.


Besannya baru saja keluar dari kamar tersebut dan terlihat sekali bekas ketakutan di dalam matanya, tetapi ibunda Bisma tidak berani menyapa Nyonya Sekar. Ia melanjutkan langkahnya, kalau soal ini biarkan saja Bisma yang ingin menanyakan hal tersebut langsung pada Bisma.


Beruntung beberapa saat kemudian, Bisma meminta bantuannya untuk masuk ke dalam kamar pengantin. Masih banyak pertanyaan yang terbesit di benak ibunda Bisma saat melihat kondisi putranya, Aamiin.


"Apa yang sebenarnya terjadi Bisma? Kenapa bisa terjadi kekacauan seperti ini?"


"Ibu bisa melihat sendiri keadaannya, tetapi ...."


Bisma mengisyaratkan agar ibunya jangan banyak bertanya terlebih dahulu.


"Yang pertama niatku memanggil ibu untuk membantu Dita membuka bajunya, yang kedua ...." Bisma ikut-ikutan menjeda kalimatnya.


Ibunda Bisma terlihat menghela nafasnya, lalu tanpa bertanya lebih banyak lagi, sesaat kemudian ia menyuruh Bisma untuk berbalik. Agar memudahkannya saat beliau mengganti baju Dita.


Baru saja ia selesai mengganti baju tidurnya, daun jendela kamar Bisma terbuka lebar lalu menutup kembali dengan cepat. Aroma dupa bercampur kemenyan terlihat menyemarakkan acara malam itu. Lalu sesaat kemudian.


PRANG