
Niat untuk mencari informasi tentang Dita kembali sudah bulat. Saat ini, dengan keyakinan diri yang tinggi Danu pergi secara diam-diam.
"Maafkan aku, Nek. Aku harus mencari tahu tentang kehidupan Dita yang sebenarnya."
Pagi-pagi buta, Danu berangkat pergi. Ia sengaja berangkat dini hari, saat Nenek Romlah sudah terlelap. Ia memang tidak ingin terlalu membebani neneknya. Oleh karena itu, Danu tidak memaksa saat neneknya tidak mau berterus terang.
"Mas, sini!" ajak Danu pada salah seorang pemuda desa yang mau mengantarnya ke rumah Dita.
Mereka janjian di ujung jalan, agar tidak mengganggu tidur Nenek dan supaya perjalanan rahasianya aman terkendali.
Di dalam perjalanan dini hari itu, pemuda yang mengantarnya selalu diajak ngobrol oleh Danu. Ia tidak mau terkesan kunjungannya mencurigakan. Danu hanya berbekal ingatan yang ia punya dan mencoba menyusuri jalan setapak menuju rumah Dita.
Dari kejauhan sudah terlihat rumah Dita. Sementara pemuda yang mengantarkan Danu langsung memutar haluan setelah ia memastikan Danu sampai di sana.
"Mas, saya pamit terlebih dahulu," pamit pemuda tersebut.
"Ini uangnya, Mas."
Di luar dugaan, di saat pemuda tadi belum pergi terlalu jauh, terdengar suara burung gagak mondar mandir di atas kepala Danu. Bahkan saat Danu mulai menyusuri jalan setapak, burung tersebut masih saja mengikutinya.
"Kenapa burung itu seolah mengikutiku?" gumam Danu tidak nyaman.
Saat Danu mencoba berlari, ternyata burung gagak itu juga menambah kecepatan terbangnya.
Burung gagak yang terus mengikuti Danu sesaat kemudian menghentikan langkahnya saat melihat rumah Keluarga Handoko sudah semakin dekat. Burung gagak itu langsung berbalik arah, dan saat Danu menoleh sudah tidak ada burung ataupun hal-hal yang mencurigakan.
"Alhamdulillah," Danu mengusap lega dadanya.
Kini Danu harus mempersiapkan diri untuk melawan ular itu. Tingkah ular itu membuat Danu geli karena gerakan ular itu meliuk-liuk seolah menari. Akan tetapi itu bukan sesuatu hal yang patut diacuhkan keberadaannya.
"Kepalang tanggung, jika aku pergi meninggalkan ular ini, sama saja aku menjadi pengecut."
Danu segera mengambil sebuah balok kayu bambu lalu dengan cepat ia memukul ularnya. Tidak lupa Danu membaca doa-doa agar mempermudah perlawanan yang dilakukan olehnya.
Ternyata melawan ular tersebut tidak semudah bayangan. Beberapa kali Danu jatuh terjerembab karena ia tergelincir batu kerikil. Pertarungan dengan ular tersebut cukup memakan waktu. Hingga akhirnya satu jam kemudian, dengan kondisi yang baru saja kelelahan karena sebuah pertarungan sengit antara Danu dan ular membuat tenaganya cukup terkuras.
Tidak mau membuang waktu lebih lama, Danu mempercepat langkahnya setengah berlari. Ia tidak memperdulikan kondisi tubunya yang letih. Seharusnya perjalanannya tidak memakan waktu yang lama. Akan tetapi malam itu rasanya malam harinya berlangsung lebih cepat daripada biasanya.
Kini dari kejauhan sudah terlihat dengan jelas. Kediaman rumah Dita yang semula sepi, kini sudah terlihat sehat dan suasana rumah sudah ramai. Bahkan beberapa dekorasi pernikahan seperti penjol dan tarub sudah terpasang di sana.
"Apakah Dita akan segera menikah?"
"Lalu kenapa rasanya suasana malam hari terasa berbeda. Lebih anyep dan sedikit terasa aura mistik. Ya, Tuhan semoga keadaannya baik-baik saja. Aamiin."
Meskipun sudah terlihat jelas, tetapi keinginan Danu untuk bertemu dengan Dita semakin tinggi. Ia sedang memikirkan cara untuk bisa menyelinap masuk.
"Akankah semuanya bisa berjalan lancar?'
.
.
BERSAMBUNG