Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 153. KEDATANGAN FANO


Mbok Nem!"


Wanita yang telah mengabdi selama bertahun-tahun di Keluarga Handoko itu sedang memasak ketika junjungannya berteriak memanggil namanya. Langkahnya sedikit tertatih karena ia memakai kain jarik dan kebaya.


Namun, tidak mengurangi rasa hormat kepada junjungannya itu. Meski sedikit lamban, tetapi pengabdian Mbok Nem tidak perlu diragukan lagi.


"Dalam Kanjeng Ibu."


"Di mana Dita, kenapa selarut ini belum pulang?"


"Loh, bukankah sejak tadi Den Ayu berada di kamarnya?"


"Apa yang kamu bilang itu serius, Mbok?"


Mbok Nem mengangguk setuju.


"Kalau begitu coba panggilkan kemari, bilang ada Fano dan keluarganya di luar."


"Baik, Kanjeng Ibu."


Dalam sekejap saja Mbok Nem sudah sampai di depan kamar Dita. Namun, sebelum itu terjadi ia sudah mengatur nafasnya terlebih dahulu agar tetap terlihat tenang.


Perlahan ia mulai mengetuk pintu kamar Dita.


"Den Ayu ... Den Ayu ...."


Merasa jika dirinya terpanggil, Dita menoleh dan memakai kerudungnya.


"Siapa?"


"Saya, Den Ayu."


"Masuk Mbok, tidak di kunci!"


"Iya!"


Tidak lama kemudian Mbok Nem mulai meraih gagang pintu dan membukanya. Benar saja, tidak seperti sebelumnya kini Dita terlihat berbeda. Kedua mata Mbok Nem seolah membelalak ketika melihat perubahan yang terjadi pada Dita.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa Kanjeng Ibu sudah mengetahui hal ini? gumam Mbok Nem.


Mbok Nem sedang mengolah perkataannya agar tidak terlalu menyinggung Dita. Bagaimana pun kisah hidup Dita tidak seperti wanita kebanyakan. Sehingga seharusnya Dita bahagia karena dilamar. Namun, hal yang sebaliknya justru terjadi.


"Apa Den Ayu sudah sembahyang. Kalau sudah ayo ganti baju seperti yang biasa dipakai, tentunya sopan dan rapi."


"Di depan juga sudah ada ibu yang menunggu, Nyonya dan Bapak."


Dita melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


"Memangnya kenapa kalau cuma pakaian seperti ini, apa ada yang salah? Aku pikir semuanya bisa berjalan sesuai keinginanku, tetapi sayang rupanya ada saja yang tidak suka."


Mbok Nem menunduk, merutuki kelancangannya yang berbicara seenak hatinya.


"Maafkan untuk kelancangan mulut saya, Den Ayu. Sekali lagi saya minta maaf."


"Iya."


"Oh, ya kenapa Mbok terlihat buru-buru datang kemari, ada apa?"


"Di depan ada seorang lelaki muda dan tampan sedang mencari Den Ayu."


"Siapa?"


"Kalau Mbok tidak salah ingat, namanya Den Fano. Ia datang bersama kedua orang tuanya."


"Fano? Apakah itu Refano Aditama, Mbok?"


"Maaf, Den Ayu. Mbok Nem kurang paham untuk hal itu."


"Mungkin saja benar dia, Den Ayu."


"Aarghhhh! Kenapa dia harus datang? Apakah dia tidak takut dengan takdir buruk yang selalu menimpaku!"


Terlihat jika Dita merasa tidak suka dengan kedatangan Fano. Tangannya terlihat sekali mengepal dan ia juga membuang kasar nafasnya.


"Sebuah hati tidak pernah bisa berdusta, Dita. Bagaimana pun caranya ia pernah mencintaimu. Ia bahkan telah memperbaiki dirinya agar bisa berdekatan denganmu."


Dita bisa mendengar nasehat dari leluhurnya. Akan tetapi entahlah ia ingin sekali pergi menjauh dan bersembunyi di suatu tempat agar tidak akan lagi menyakiti orang-orang di sekelilingnya.


"Terus, apa yang harus aku lakukan, Mbok?"


"Ya, temui saja mereka, Den Ayu."


"Nggak semudah itu, Mbok."


Dita memegangi dadanya yang terus bergemuruh. Mbok Nem tahu ketakutan di wajah Dita.


"Nggak usah takut, Den Ayu. Hidup mati seseorang itu telah diatur, dan bukan kita yang menentukan. Mbok harap, Den Ayu lebih bijak dalam menyikapi hal ini."


"Lagi pula di depan sana juga ada saudara perempuannya juga yang turut datang kemari."


"Bukankah Fano anak tunggal, lalu siapa perempuan yang dimaksud oleh Simbok?"


Demi menutup tubuhnya dari pandangan lelaki, Dita memasangkan cadar di depan wajahnya. Sehingga hanya terlihat kedua mata dan telapak tangan dan kaki di sana.


"Ya sudah, ayo kita ke depan. Akan tetapi jangan salahkan aku jika pertemuan kali ini gagal, maka akan aku pastikan selesai sampai di sini."


"Sabar, Den Ayu. Banyakin berdoa saja agar semuanya selamat."


"Aamiin."


BELUM REVISI


Mbok Nem!"


Wanita yang telah mengabdi selama bertahun-tahun di Keluarga Handoko itu sedang memasak ketika junjungannya berteriak memanggil namanya. Langkahnya sedikit tertatih karena ia memakai kain jarik dan kebaya.


Namun, tidak mengurangi rasa hormat kepada junjungannya itu. Meski sedikit lamban, tetapi pengabdian Mbok Nem tidak perlu diragukan lagi.


"Dalam Kanjeng Ibu."


"Di mana Dita, kenapa selarut ini belum pulang?"


"Loh, bukankah sejak tadi Den Ayu berada di kamarnya?"


"Apa yang kamu bilang itu serius, Mbok?"


Mbok Nem mengangguk setuju.


"Kalau begitu coba panggilkan kemari, bilang ada Fano dan keluarganya di luar."


"Baik, Kanjeng Ibu."


Dalam sekejap saja Mbok Nem sudah sampai di depan kamar Dita. Namun, sebelum itu terjadi ia sudah mengatur nafasnya terlebih dahulu agar tetap terlihat tenang.


Perlahan ia mulai mengetuk pintu kamar Dita.


"Den Ayu ... Den Ayu ...."


Merasa jika dirinya terpanggil, Dita menoleh dan memakai kerudungnya.


"Siapa?"


"Saya, Den Ayu."


"Masuk Mbok, tidak di kunci!"


"Iya!"


Tidak lama kemudian Mbok Nem mulai meraih gagang pintu dan membukanya. Benar saja, tidak seperti sebelumnya kini Dita terlihat berbeda. Kedua mata Mbok Nem seolah membelalak ketika melihat perubahan yang terjadi pada Dita.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa Kanjeng Ibu sudah mengetahui hal ini? gumam Mbok Nem.


Mbok Nem sedang mengolah perkataannya agar tidak terlalu menyinggung Dita. Bagaimana pun kisah hidup Dita tidak seperti wanita kebanyakan. Sehingga seharusnya Dita bahagia karena dilamar. Namun, hal yang sebaliknya justru terjadi.


"Apa Den Ayu sudah sembahyang. Kalau sudah ayo ganti baju seperti yang biasa dipakai, tentunya sopan dan rapi."


"Di depan juga sudah ada ibu yang menunggu, Nyonya dan Bapak."


Dita melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


"Memangnya kenapa kalau cuma pakaian seperti ini, apa ada yang salah? Aku pikir semuanya bisa berjalan sesuai keinginanku, tetapi sayang rupanya ada saja yang tidak suka."


Mbok Nem menunduk, merutuki kelancangannya yang berbicara seenak hatinya.


"Maafkan untuk kelancangan mulut saya, Den Ayu. Sekali lagi saya minta maaf."


"Iya."


"Oh, ya kenapa Mbok terlihat buru-buru datang kemari, ada apa?"


"Di depan ada seorang lelaki muda dan tampan sedang mencari Den Ayu."


"Siapa?"


"Kalau Mbok tidak salah ingat, namanya Den Fano. Ia datang bersama kedua orang tuanya."


"Fano? Apakah itu Refano Aditama, Mbok?"


"Maaf, Den Ayu. Mbok Nem kurang paham untuk hal itu."


"Mungkin saja benar dia, Den Ayu."


"Aarghhhh! Kenapa dia harus datang? Apakah dia tidak takut dengan takdir buruk yang selalu menimpaku!"


Terlihat jika Dita merasa tidak suka dengan kedatangan Fano. Tangannya terlihat sekali mengepal dan ia juga membuang kasar nafasnya.


"Sebuah hati tidak pernah bisa berdusta, Dita. Bagaimana pun caranya ia pernah mencintaimu. Ia bahkan telah memperbaiki dirinya agar bisa berdekatan denganmu."


Dita bisa mendengar nasehat dari leluhurnya. Akan tetapi entahlah ia ingin sekali pergi menjauh dan bersembunyi di suatu tempat agar tidak akan lagi menyakiti orang-orang di sekelilingnya.


"Terus, apa yang harus aku lakukan, Mbok?"


"Ya, temui saja mereka, Den Ayu."


"Nggak semudah itu, Mbok."


Dita memegangi dadanya yang terus bergemuruh. Mbok Nem tahu ketakutan di wajah Dita.


"Nggak usah takut, Den Ayu. Hidup mati seseorang itu telah diatur, dan bukan kita yang menentukan. Mbok harap, Den Ayu lebih bijak dalam menyikapi hal ini."


"Lagi pula di depan sana juga ada saudara perempuannya juga yang turut datang kemari."


"Bukankah Fano anak tunggal, lalu siapa perempuan yang dimaksud oleh Simbok?"


Demi menutup tubuhnya dari pandangan lelaki, Dita memasangkan cadar di depan wajahnya. Sehingga hanya terlihat kedua mata dan telapak tangan dan kaki di sana.


"Ya sudah, ayo kita ke depan. Akan tetapi jangan salahkan aku jika pertemuan kali ini gagal, maka akan aku pastikan selesai sampai di sini."


"Sabar, Den Ayu. Banyakin berdoa saja agar semuanya selamat."


"Aamiin."


Mbok Nem!"


Wanita yang telah mengabdi selama bertahun-tahun di Keluarga Handoko itu sedang memasak ketika junjungannya berteriak memanggil namanya. Langkahnya sedikit tertatih karena ia memakai kain jarik dan kebaya.


Namun, tidak mengurangi rasa hormat kepada junjungannya itu. Meski sedikit lamban, tetapi pengabdian Mbok Nem tidak perlu diragukan lagi.


"Dalam Kanjeng Ibu."


"Di mana Dita, kenapa selarut ini belum pulang?"


"Loh, bukankah sejak tadi Den Ayu berada di kamarnya?"


"Apa yang kamu bilang itu serius, Mbok?"


Mbok Nem mengangguk setuju.


"Kalau begitu coba panggilkan kemari, bilang ada Fano dan keluarganya di luar."


"Baik, Kanjeng Ibu."


Dalam sekejap saja Mbok Nem sudah sampai di depan kamar Dita. Namun, sebelum itu terjadi ia sudah mengatur nafasnya terlebih dahulu agar tetap terlihat tenang.


Perlahan ia mulai mengetuk pintu kamar Dita.


"Den Ayu ... Den Ayu ...."


Merasa jika dirinya terpanggil, Dita menoleh dan memakai kerudungnya.


"Siapa?"


"Saya, Den Ayu."


"Masuk Mbok, tidak di kunci!"


"Iya!"


Tidak lama kemudian Mbok Nem mulai meraih gagang pintu dan membukanya. Benar saja, tidak seperti sebelumnya kini Dita terlihat berbeda. Kedua mata Mbok Nem seolah membelalak ketika melihat perubahan yang terjadi pada Dita.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa Kanjeng Ibu sudah mengetahui hal ini? gumam Mbok Nem.


Mbok Nem sedang mengolah perkataannya agar tidak terlalu menyinggung Dita. Bagaimana pun kisah hidup Dita tidak seperti wanita kebanyakan. Sehingga seharusnya Dita bahagia karena dilamar. Namun, hal yang sebaliknya justru terjadi.


"Apa Den Ayu sudah sembahyang. Kalau sudah ayo ganti baju seperti yang biasa dipakai, tentunya sopan dan rapi."


"Di depan juga sudah ada ibu yang menunggu, Nyonya dan Bapak."


Dita melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


"Memangnya kenapa kalau cuma pakaian seperti ini, apa ada yang salah? Aku pikir semuanya bisa berjalan sesuai keinginanku, tetapi sayang rupanya ada saja yang tidak suka."


Mbok Nem menunduk, merutuki kelancangannya yang berbicara seenak hatinya.


"Maafkan untuk kelancangan mulut saya, Den Ayu. Sekali lagi saya minta maaf."


"Iya."


"Oh, ya kenapa Mbok terlihat buru-buru datang kemari, ada apa?"


"Di depan ada seorang lelaki muda dan tampan sedang mencari Den Ayu."


"Siapa?"


"Kalau Mbok tidak salah ingat, namanya Den Fano. Ia datang bersama kedua orang tuanya."


"Fano? Apakah itu Refano Aditama, Mbok?"


"Maaf, Den Ayu. Mbok Nem kurang paham untuk hal itu."


"Mungkin saja benar dia, Den Ayu."


"Aarghhhh! Kenapa dia harus datang? Apakah dia tidak takut dengan takdir buruk yang selalu menimpaku!"


Terlihat jika Dita merasa tidak suka dengan kedatangan Fano. Tangannya terlihat sekali mengepal dan ia juga membuang kasar nafasnya.


"Sebuah hati tidak pernah bisa berdusta, Dita. Bagaimana pun caranya ia pernah mencintaimu. Ia bahkan telah memperbaiki dirinya agar bisa berdekatan denganmu."


Dita bisa mendengar nasehat dari leluhurnya. Akan tetapi entahlah ia ingin sekali pergi menjauh dan bersembunyi di suatu tempat agar tidak akan lagi menyakiti orang-orang di sekelilingnya.


"Terus, apa yang harus aku lakukan, Mbok?"


"Ya, temui saja mereka, Den Ayu."


"Nggak semudah itu, Mbok."


Dita memegangi dadanya yang terus bergemuruh. Mbok Nem tahu ketakutan di wajah Dita.


"Nggak usah takut, Den Ayu. Hidup mati seseorang itu telah diatur, dan bukan kita yang menentukan. Mbok harap, Den Ayu lebih bijak dalam menyikapi hal ini."


"Lagi pula di depan sana juga ada saudara perempuannya juga yang turut datang kemari."


"Bukankah Fano anak tunggal, lalu siapa perempuan yang dimaksud oleh Simbok?"


Demi menutup tubuhnya dari pandangan lelaki, Dita memasangkan cadar di depan wajahnya. Sehingga hanya terlihat kedua mata dan telapak tangan dan kaki di sana.


"Ya sudah, ayo kita ke depan. Akan tetapi jangan salahkan aku jika pertemuan kali ini gagal, maka akan aku pastikan selesai sampai di sini."


"Sabar, Den Ayu. Banyakin berdoa saja agar semuanya selamat."


"Aamiin."