
Akhirnya Dita siuman, meski tubuhnya masih terasa letih, ia mencoba mengembalikan kesadarannya. Semakin lama ia bertahan di alam mimpi, maka akan semakin banyak energi yang tersita ke sana.
"Kenapa dengan tubuhku, astaga ... apa aku kebanyakan tidur?"
Dita memegang tubuhnya yang sempat nyeri di beberapa titik. Rasanya itu sangat menyakitkan jika di sentuh. Dita menggulung kemeja panjangnya. Dilihatnya bagian lengan yang terasa sakit tadi. Ternyata benar, ada bekas membiru di sana.
Dita mengingat kenapa bisa terjadi hal itu, perasaan tadi di dalam mimpi makhluk tersebut hanya memegang tangannya dan ternyata malah sampai meninggalkan bekas seperti ini.
Perut Dita yang sedari kemarin belum mendapatkan pasokan makanan yang cukup, cacing di dalam sana meronta meminta diisi. Oleh karena itu, Dita segera memanggil pekerja wanita di rumahnya.
"Bik ... bibik ...."
"Dalem Den Ayu," ucap wanita dengan tubuh gemoy tersebut..
Meski beliau baru saja kembali dari pulang kampung, tetapi ternyata tubuhnya tetap subur. Itu artinya beliau betah tinggal di sana, sama seperti saat beliau mengabdi di dalam keluarganya.
"Loh, Mbok Yem sudah kembali?" ucap Dita senang.
"Iya, Den Ayu? Baru tadi pagi saya kembali."
"Aku haus dan lapar, bisakah aku meminta tolong pada simbok untuk menyiapkan makanan untukku?"
"Oh, tentu saja boleh, Den Ayu, tunggu sebentar."
Sesaat setelah simbok keluar, Dita berkeinginan untuk buang air kecil. Maka ia segera keluar dari kamarnya. Saat hendak sampai di kamar mandi, Dita seolah melihat sosok Sam di sana. Tanpa ragu ia pun mencoba untuk menyapanya.
Namun, seketika lampu tepat di atas Sam berkedip tidak karuan. Hingga membuat Dita seolah ketakutan dan bersiap untuk mengajak lari Sam dari sana.
"Apa terjadi hal yang tidak beres lagi di sini? Atau ia benar-benar mengikutiku?" gumam Dita kebingungan.
Dita terus melangkah maju mendekati Sam. Disapanya kembali sosok tersebut.
"Sam, kenapa kau di sini?" sapanya lirih.
Sosok mirip Sam tadi tidak bergeming saat dipanggil Dita. Karena rasa penasaran ia pun mendekatinya, tetapi bulu kuduk Dita semakin meremang. Hembusan angin dari tirai-tirai kain yang berwarna putih tersebut melambai-lambai membuat Dita semakin merinding.
"Sam, kenapa kamu diam, kamu marah padaku?" tanya Dita tanpa ragu memegang bahu Sam.
"Dingin ...." seru Dita saat berhasil memegang pundaknya.
Kini Dita sudah berdiri di samping Sam, sosok tersebut menoleh dan wajahnya rata, tidak ada sama sekali. Sontak saja Dita terjingkat karena terkejut.
"Ka-kamu siapa! Ke-kenapa menyerupai Sam?" tanya Dita hampir jatuh.
Bukannya pergi, sosok tersebut semakin mendekati Dita hingga tubuh Dita tersudut ke tembok lorong. Sampai dia hampir saja terjatuh di sana.
Mungkin terlalu takut, ia pun sampai memejamkan kedua matanya. Tubuh Dita bergetar hebat karena makhluk tersebut semakin mendekatinya. Bahkan hembusan nafas tersebut sangat terasa. Menyentuh leher Dita, karena saat itu Dita membuang muka.
"Dita .... Dita kenapa kamu memejamkan mata? Ini aku ...."
Harum bunga melati dan kantil tercium sangat menusuk hidung. Dita bisa merasakannya dengan indera penciumannya.
"Sepertinya aku beneran demam, buktinya aku masih saja berhalusinasi."
Lalu sesaat kemudian terdengar derap langkah manusia. Sepertinya Sam yang asli sudah datang. Dita mengintip sedikit dan bisa-bisanya Sam tersenyum ke arah Dita.
Tiba-tiba saja sosok di hadapannya tersebut menghilang ketika Dita menoleh ke arahnya.
"Dita, kamu ngapain di sini?" Sapanya sambil mengulurkan tangan ke arah Dita.
Dita beringsut mundur, setengah ketakutan sekaligus masih kaget akan kejadian yang barusan terjadi.
"Itu beneran, Sam atau bukan?"
Bagaimana bisa ada sosok yang menyerupai Sam di rumahnya. Apakah baru saja terjadi sesuatu yang menyeramkan dengannya?
Sam yang asli bingung karena Dita tetap betah terduduk di lantai, sampai Mbok Yem menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini? Loh, Den Ayu kenapa?"
Mbok Yem segera menghampiri Dita yang masih terlihat ketakutan, lalu ia pun berusaha untuk menenangkannya.
"Den Ayu, ayo bangun! Tidak enak terlihat seperti ini di bawah."
Mbok Yem berusaha mengangkat tubuh Dita dan memapahnya menuju kamar kecil karena ia membisikkan hal tersebut. Sesekali ia menatap tajam ke arah Sam.
"Dia bukan hantu, kan, Mbok?" tanya Dita memastikan.
Sam yang mendengarnya hanya terkekeh.
"Aku manusia Dita, bukan hantu," ucapnya lantang.
Dita menoleh dan mendengkus kesal. "Lupakanlah ucapanku tadi, aku hanya merasa lelah."
Dita menoleh ke arah Sam, dan sosok tersebut berdiri di belakang Sam hendak menye-kik leher Sam di sana.
"Sam ... awas di belakangmu!"
.
.
Kenapa sosok tersebut ingin mendekati Dita, apakah dia sosok yang akan menghabisi Sam setelah ini?"
.
.
Kuy, sahabat Fany, kali ini author bawa rekomendasi novel keren dari sahabat Fany, Mak Tie_Tik. Jangan lupa mampir ke karya beliau ya, judulnya Belenggu Benang Kusut.