Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 119. BALAS DENDAM


Hari ini Dita memilih untuk berjalan-jalan di perkebunan teh dengan didampingi Mbok Nem. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya sejak kematian Rangga, Dita seolah trauma jika keluar didampingi laki-laki.


"Mbok, kenapa pagi ini suasananya seperti lain, ya?"


"Maksud Den Ayu berkabut?"


"Bukan begitu?"


Seperti ada yang mengganjal tetapi Dita tidak bisa mengatakannya dengan jelas. Di balik pohon memang ada seseorang yang sedang memata-matai Dita. Sejak tadi ia berdiri di sana, setiap gerak gerik Dita terlihat jelas.


"Siapa dia? Apakah dia orang, atau ...."


Perlahan-lahan Dita berjalan menuju pohon yang mencurigakan itu. Mbok Nem yang hendak memanggilnya menjadi mengurungkan niat karena Dita menyuruhnya untuk diam.


Kini Mbok Nem berdiam diri di tempat. Ia tidak membiarkan dirinya datang atau bahkan mengganggu Dita. Semakin lama Dita berjalan, semakin lelaki itu memundurkan langkahnya.


Saat Dita melongokkan kepalanya, lelaki itu sudah berlari menjauh. Dita yakin jika bayangan tadi adalah manusia. Sementara itu Clara ditempatnya sedang menunggu laporan dari anak buahnya.


Clara adalah seorang dokter, ia kakak kandung Samuel, lelaki yang sempat menyukai Dita setelah Juna. Sebelum Dita menikah dengan Yudistira, Dita lebih dulu kenal dengan Juna dan Sam. Hanya saja makhluk itu telah membuat keduanya terluka sebelum sempat menjadi suami Dita.


Namun, saat ini Sam sudah sembuh hanya saja ia bertingkah seperti orang tidak waras. Sebuah nama yang selalu ia sebut hanyalah Anindita. Sehari-harinya Sam tinggal dengan sebuah manekin yang diberi nama Dita.


Clara yang mengetahui hal itu tidak tinggal diam. Dirinya bahkan menjadi korban dukun si-alan itu. Maka dari itu dendam kesumat telah berkobar di dalam hati Clara.


"Kamu harus merasakan sakit hatiku!" ucapnya penuh amarah.


Kilatan kebencian terlihat jelas di dalam mata Clara. Ia tidak akan membiarkan kehidupan Dita baik-baik saja. Sementara itu Sam masih sibuk bermain dengan boneka manekin miliknya.


"Istriku sayang, kamu tidur saja, ya. Aku temani kamu di sini," ucap Sam sambil mengelus pucuk kepala manekin tersebut.


Sementara itu, Clara mengintip dari celah pintu. Ia mengusap air matanya yang meleleh. Bukannya sembuh semakin lama Sam semakin masuk ke dalam halusinasinya.


"Andaikan kamu tahu, dek. Kakak di sini selalu menunggu kesembuhanmu."


Hatinya semakin sakit tatkala ia mengusap perutnya yang terus membuncit. Dukun tersebut benar-benar membuat hidup Clara hancur.


Karir yang ia rintis harus dia tinggalkan sampai ia melahirkan. Demi menjaga nama baik keluarga, kini ia pun menjauh dari keramaian dan lebih memilih tinggal di desa sebelah Dita.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Semua luka dan ambisi menjadi satu, membuat dendam terus dipupuk hingga ia semakin subur.


......................


"Den ... Den Ayu ...." panggil Mbok Nem.


Akan tetapi ia sama tidak berkutik. Sehingga mau tidak mau Mbok Nem berlari menghampiri Dita.


"Den Ayu ...."


"Den ...."


Dita yang terkejut segera menoleh.


"Astaga, maaf Mbok Nem aku tadi tidak mendengarnya. Ada apa Mbok?"


"Hari sudah siang, Den. Apa tidak sebaiknya kita pulang? Sebentar lagi para pemetik daun teh sudah datang."


"Oh, iya ... Ya sudah sebaiknya kita segera pulang."


Dita menghela nafasnya. Rasanya sangat tidak nyaman meninggalkan tempat ini. Ketika Dita melangkah, kakinya terantuk akar kayu hingga membuat ia terjerembab.


"Aduh ...."


Dita melihat kakinya dan memeriksa apakah yang membuat ia terjatuh. Ternyata bukan sebuah akar kayu melainkan tulang manusia.


"Tu-tulang manusia?"


"Astaghfirullah ... Kenapa bisa ada di sini?"


......................


Sambil nunggu up, yuk mampir ke Pesona Istri Yang Terabaikan, ditunggu kakak


Deskripsi :


seorang istri yang selalu diabaikan tak pernah disapa apalagi disentuh oleh suaminya dan suatu malam saat suaminya mabuk mereka berdua melakukan sentuhan untuk pertama kalinya dan disaat itu lah kisah cinta mereka dimulai