
Sejak mengetahui ada hal yang tidak beres dengan Dita, keluarga Fano mulai menjauhkan putra mereka dari jangkauan Keluarga Handoko. Bahkan mereka juga mengajak Fano untuk pergi berobat ke salah seorang Kyai yang bernama Ustadz Yusuf.
"Bagaimana, Pa. Apa sebaiknya kita membawa Fano kembali lagi ke pondok Ustadz Yusuf?"
"Bagaimana menurutmu, Bu. Aku manut saja!"
(manut\=ikut)
"Ya, sudah kalau begitu. Ayo kita bawa Fano sekarang juga."
Ketakutan orang tua Fano beralasan karena sejak mengenal Dita, mereka seolah tidak mengenali sosok Fano lagi. Ditambah lagi perubahan tempramen Fano yang sangat jauh membuat mereka tidak mau mengambil resiko.
"Ibu tidak akan membiarkan dirimu kesakitan, Sayang. Kamu adalah amanah yang dikirimkan Tuhan untuk Ibu dan Ayah. Oleh karena itu sebaiknya aku menjauhkan dirimu dari mereka. Ibu melajukan semua ini demi kebaikan hatimu, Nak."
Tidak lama kemudian, Fano menoleh saat menyadari ada ibunya datang menghampiri dirinya.
"Ada apa, Ma. Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian bahas bersamaku kali ini."
Ibunda Fano memang tidak bisa membiarkan sesuatu pun terjadi pada Fano. Meskipun ia tidak pernah bisa menyembunyikan sebuah rahasia dari anaknya itu, tidak akan pernah mengurangi rasa kasih sayang untuknya.
"Sebaiknya aku mulai berkata jujur kepada Fano, ini akan lebih baik daripada menyiksanya terlalu lama," ucapnya di dalam hati.
Ibunda Fano mencoba mengatur nafasnya ketika hendak mengetuk pintu kamar Fano.
"Fano, Sayang. Bisa kita bicara sebentar. Mama dan Papa juga ingin mengajak kamu untuk lebih mengenal dunia luar. Kamu 'kan sudah lama tidak keluar kamar?"
Nyonya Kirana mencoba membujuk putra semata wayangnya itu. Namun setelah beberapa kali mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Ketakutan terlihat memenuhi wajah Nyonya Kirana kala itu.
"Pak, kenapa Fano nggak buka pintu, ini bukan sebuah kebiasaannya, loh!"
"Hm, ya sudah kamu ambil kunci cadangan saja, sana!"
Bergegas Nyonya Kirana berlari masuk kamar untuk mengambil kunci cadangan. Lalu setelah itu berlari kembali ke arah suaminya untuk menyerahkan kunci cadangan.
Saat hendak membuka pintu, ternyata Fano lebih dulu membuka pintu untuk ibunya itu. Ternyata bukan Fano yang membukakan pintu, melainkan sosok yang mirip dengannya.
Fano terlihat baru saja selesai melakukan ibadah sholat. Sebuah kopyah dan sarung masih menempel di tubuhnya. Nyonya Kirana tersenyum ke arah Fano.
"Ada apa, Ma, Pa. Aku baru saja selesai sholat."
Nyonya Kirana meringis, "Maaf, Mama nggak tau sayang, maaf ya."
"Nggak apa-apa."
"Silakan duduk dulu, Ma."
Nyonya Kirana kembali berjalan untuk mendekati putranya, Fano. Lalu Fano mengikuti langkah kakinya dan duduk tepat di samping sang Mama.
Belum ada sebuah kata yang terucap kala itu, karena Nyonya Kirana masih terpukau dengan kondisi putranya yang jauh lebih baik dari beberapa waktu yang lalu.
Sosok Fano memang terlihat lebih religius setelah proses pengobatan yang telah dilakukannya selama beberapa kali. Seolah lepas dari pengaruh buruk dari Dita, kini Fano selalu mengingat akhirat.
"Begini, Nak. Bolehkah Mama bertanya satu hal padamu?"
"Tanyakan saja, bila aku bisa jawab, sudah pasti aku jawab dengan semaksimal mungkin."
Selama masa pemulihan, urusan pekerjaan kantor ia serahkan pada asistennya. Ayah Fano dan ibunya fokus pada pemulihan kesehatan Fano.
"Mama ingin mengajakmu berjalan-jalan."
"Ya sudah, biar aku bisa siap-siap lebih dulu kalau begitu."
"Oke, Mama tunggu di bawah ya, Nak."
"Oke Mama, Sayang."
Tidak berapa lama kemudian, Fano sudah selesai berganti pakaian. Lalu Nyonya Kirana dan juga suaminya telah menunggu Fano di dalam mobil. Ketiga orang itu segera pergi meninggalkan rumah untuk sekedar jalan-jalan mengisi waktu di kala senggang dan merefresh otak untuk sementara waktu.
"Beberapa pakaian ini sangat cocok jika Nona kenakan. Kalau yang ini style untuk kantor dan beberapa acar resmi."
Seorang pelayan memberikan beberapa potongan baju pada Dita. Karena terlalu banyak pilihan, Dita pun mencobanya di ruang ganti.
Saat Dita keluar dari ruang ganti, secara kebetulan Fano menoleh ke arahnya.
"Dita ...." gumam Fano.
Sementara itu Dita sedang memutar gamisnya ke arah pelayan toko untuk menanyakan apakah ia pantas memakainya atau tidak.
"Bagus banget, Nona. Gamis itu sangat serasi dengan kulit Nona."
"Sungguh?"
Pelayan itu mengangguk, lalu Dita langsung membungkus beberapa stel gamis yang sesuai dengan pilihannya.
Fano yang tiba-tiba berhenti membuat kedua orang tuanya memanggilnya.
"Fano, kenapa kamu tiba-tiba berhenti, katanya mau cari makan?" tegur Nyonya Kirana pada putranya.
"Eh, nggak apa-apa, Ma."
Merasa dicurigai, Fano segera berlari menyusul orang tuanya. Namun, di dalam hati Fano masih tidak bisa lepas dari Dita.
"Ia semakin cantik, mungkinkah suatu saat ia bisa bersanding denganku."
Meskipun sudah terlalu jauh meninggalkan tempat Dita, namun pikiran Fano seolah tertinggal di sana.
"Aku ingin menemuinya kembali, tapi bagaimana caranya?"
Fano memikirkan cara agar tidak ketahuan kedua orang tuanya. Dulu mereka memang mendukung niat Fano untuk mempersunting Dita, tetapi saat ini mereka justru menolak kehadirannya.
"Aku harus berbuat apa?"
Sekuat apapun Fano berusaha untuk melupakan Dita, ternyata hasilnya tetap sama saja. Justru saat ini ia semakin mencintai Dita.
Fano menyeruput es cendol miliknya dengan tergesa-gesa. Entah kenapa rasanya, ingin hati ia segera berlari ke arah toko Dita, tetapi pandangan kedua orang tuanya tetap sama saja, tidak bisa.
Telinga Dita tiba-tiba saja berdengung.
"Siapa yang membicarakan aku, kenapa rasanya ada yang memperhatikan aku sedari tadi?"
Merasa tidak nyaman, Dita memilih untuk berganti pakaian dengan gamis syar'i yang tadi ia beli. Sementara waktu ia merasa lebih nyaman jika menggunakannya.
Mungkin karena Dita berjalan tergesa-gesa, secara tidak sengaja ia justru menabrak Nyonya Kirana yang baru saja dari kamar kecil.
"Maaf, Nyonya," seru Dita sambil membersihkan baju Nyonya Kirana yang kotor.
"Eh, nggak kenapa-napa, makasih banyak ya, ukhti."
"Sama-sama, Nyonya."
Dita hendak pergi, tetapi lengannya dicekal Nyonya Kirana.
"Nak, namamu siapa? Bolehkah aku meminta nomor ponselmu, siapa tahu kamu bisa main ke rumah saat ada pengajian."
"Iya, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."
Ada rasa tidak rela ketika melihat wanita seteduh itu di jaman modern seperti saat ini.
"Hati-hati, Sayang," serunya dengan tersenyum.
Sebenarnya Dita tahu jika tadi adalah Nyonya Kirana, hanya saja ia tidak mau berkata lebih banyak lagi karena bisa jadi justru membuka aibnya.
"Semoga Tante tidak mengetahui jika ini adalah aku," gumam Dita sambil berlalu.