
Merasa jika semua keinginan balas dendam telah terwujud membuat Ibunda Yudistira bisa tertawa bahagia. Namun, semuanya terlihat sangat lain ketika malam tiba. Rumah yang dahulu ramai dengan keceriaan yang dibawakan oleh Yudistira telah menghilang bersama kepergiannya.
"Andai aku bisa membuatmu kembali, sudah pasti aku akan kabulkan semua permintaanmu, Nak," ucapnya sambil tergugu.
Ibunda Yudistira mengusap nisan putra semata wayangnya dengan sendu. Air matanya tidak tertahankan lagi saat ini. Mengalir deras seolah menganak sungai.
Rasa sakit yang dirasakan terasa mencabik-cabik relung hatinya. Sebagai seorang ibu tidak akan ada rasa kebahagian selain bisa melihat kebahagiaan putra-putrinya, ataupun mendapati anaknya memilki keluarga kecil yang bahagia. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah tidak bisa dikembalikan.
Setelah kejadian seperti saat ini, dimana ia dipaksa kehilangan ahli warisnya. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Belum lagi kematian Yudistira yang sangat tidak wajar, semakin membuatnya kecewa.
Ia menuangkan air mawar ke atas nisan milik Yudistira yang menurutnya masih merah, tetapi bagaimanapun caranya ia mencoba tetap saja hatinya terasa sangat sakit.
"Bu, seharusnya kamu mengikhlaskan kepergian putramu, tidak ada yang bisa mengembalikan semuanya seperti dulu."
"Diam kamu, Pak! Sebaiknya kamu pergi ke rumah atau kau urus bisnismu, sampai kapanpun urusan Yudistira biar aku yang menyelesaikan!"
Ibu Yudistira sudah jengah dengan sikap suaminya yang selalu mementingkan urusan bisnis daripada kebahagiaannya.
Tuan Bagas hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Ia memang tidak bisa membuat istrinya kembali seperti dulu. Saat pertama kali memang istrinya sangat lembut tetapi makin ke sini semuanya telah berubah.
Akhirnya kini ia hanya bisa menerima semuanya, terlebih Yudistira putra kesayangan istrinya telah meninggal akibat kepentingan bisnis.
Setelah cukup lama, akhirnya Ibunda Yudistira segera melangkah pergi. Ia tidak suka jika kepergian ke makam diikuti oleh suaminya. Meskipun begitu, Tuan Bagas tetap sabar dengan segala tingkah istrinya.
Sementara itu, di Kediaman Dita, ia masih meringkuk di atas tempat tidur. Dengan mata sembab karena terus menerus menangis. Bahkan nafsu makannya telah hilang saat ini.
"Kenapa jalan hidupku seperti ini?" ucap Dita di sela-sela tangisnya.
Entah Kenapa rasanya hidup Dita sudah tidak ada artinya lagi. Sudah tiga kali ini ia menjanda, tetapi entah kenapa rasanya tetap tidak nyaman. Belum lagi pandangan orang-orang terhadapnya.
Saat Dita masih meringkuk terdengar suara derap langkah di atas kamarnya. Bukan hanya satu orang melainkan seperti banyak orang.
Semakin lama semakin terdengar intens, lalu setelahnya pintu kamar Dita seperti di gedor-gedor dari luar. Sepertinya ada seseorang yang memaksa masuk tetapi Dita tidak berani membuka pintu.
Seketika ucapan Bisma terngiang di kepala Dita, tidak perlu menunggu waktu lama, Dita bergegas ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Untung saja saat ini di dalam kamarnya sudah direnovasi dan terdapat kamar mandi dalam. Sehingga Dita tidak perlu keluar kamar jika ingin ke kamar mandi.
Selepas itu, Dita buru-buru melaksanakan sholat sunnah, setelahnya ia mulai mengaji sesuai dengan ucapan mendiang suaminya. Malam semakin larut, suasana yang tadinya mencekam kini sudah lebih berangsur pulih dan membaik. Tidak ada suara derap langkah di atas genteng.
Dita hanya bisa mengelus dadanya perlahan, seraya berucap syukur untuk perlindungan Allah yang diberikan kepadanya. Tidak terasa Dita tertidur beralaskan sajadah malam itu.
......................
Kedua mata Danu mengerjab tatkala cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela kamarnya. Hari ini untuk pertama kalinya ia akan kembali kuliah.
Teman satu kostnya terkejut ketika Danu sudah berpakaian rapi saat itu.
"Hei, Bro. Akhirnya setelah menunggu sekian purnama kau keluar juga dari gua!"
"Asem! Lu kira gue bertapa. Gue cuma butuh waktu untuk menenangkan diri saja."
"Ooo ...." ucap keempat pemuda di lantai bawah.
"Ya sudah, ayo kita segera berangkat kuliah. Biar nggak telat, Bro."
"Oke, lah."
.
.
Hari ini tujuh hari setelah kematian Bisma. Dita masih mengurung dirinya di kamar. Meskipun ia sudah mau makan, tetapi ia tetap tidak mau berbicara dengan siapapun. Bahkan dengan kedua orangtuanya.
Dari rumahnya, Rani yang mendengar kabar terbaru dari Dita hanya bisa menghela nafas panjangnya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman karena tidak berada di dekat sahabatnya. Rani sangat menyayangkan sikap orang tua Dita yang tega mengorbankan perasaan putrinya demi harta.
"Maafkan aku, Dita, untuk saat ini aku tidak bisa datang ke rumah kamu."
Rani melihat kondisi ibunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Ada ibuku yang membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat dan aku harus terus berada di sisinya."
Rani menyeka air matanya yang hampir jatuh. Ia tidak boleh menyerah ataupun putus asa. Saat ini ia hanya Rani sebagai tulang punggung keluarganya semenjak satu bulan yang lalu ayahnya meninggal. Sejak saat itulah Rani putus kuliah dan hilang kontak dengan Dita.
Kabar terbaru tentang Dita juga didapatkannya dari teman kampusnya yang kebetulan bertemu dengannya saat ia pergi ke apotek.
"Maafkan aku yang hanya bisa mendoakan kebaikan untukmu."
.
.
BERSAMBUNG