
Maaf jika episode sebelumnya dobel, itu tidak sengaja ya, tenang saja sudah othor ganti kok isinya, selamat membaca kembali episode sebelumnya.
......................
Danu yang sudah kembali ke rumah dengan keadaan basah kuyup kini masih menikmati ungkapan kasih sayang dari sang nenek. Beliau memang sangat mengkhawatirkan kondisi Danu. Apalagi setelah hujan reda terdengar suara burung gagak yang terus mengelilingi di atas rumahnya.
Nenek Romlah sengaja menyimpan prasangkanya sendiri karena tidak ingin membuat Danu khawatir. Ia pun mengomeli Danu sama seperti nenek yang lainnya. Hingga membuat Danu jengah dan memilih keluar rumah.
"Danu, kamu ingin pergi kemana lagi?"
"Cuma duduk di teras saja, kok. Kenapa lagi sih Nek?"
"Sini, Nenek cuma pengen lihat kamu saja, masa iya selama kamu di sini bukannya dekat dengan nenek malah kebanyakan kluyuran tidak jelas seperti ini."
Danu tersenyum, beruntung Danu bukanlah lelaki yang gampang marah. Ia justru menjelma sebagai pemuda yang tampan dan berkharisma. Kini Danu sudah duduk kembali di hadapan neneknya sambil memandang ke depan.
"Danu, maafkan perbuatan nenek, ya. Bukannya nenek tidak sayang kepadamu, justru nenek sayang makanya nenek marahin kamu tadi."
"Iya, Nek. Kalau itu Danu paham."
"Bagaimana pemakaman tadi, berjalan lancar, bukan?"
"Alhamdulilah lancar, Nek."
"Syukurlah kalau begitu, Pak Joko orang yang baik. Meskipun begitu ia belum genap tiga bulan mengabdi di sana, ternyata Tuhan berkehendak lain."
Danu mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini, siapa tau kalau neneknya nanti saking semangat dan membicarakan Dita.
"Jadi nenek kenal dengan almarhum?"
"Sedikit, karena orang baik itu selalu dikenang, Danu."
Danu mengangguk setuju. Hal seperti ini memang sering terjadi, apalagi saat ini jarang sekali menemukan orang yang baik.
.
"Dit-Dita ayo di makan dulu, kalau dingin nggak enak, bukan?"
"Iya."
"Perasaan aku perhatikan sedari tadi kamu melamun, kenapa? Kalau ada masalah sebaiknya kamu cerita sama aku."
"Aku tadi melihat pemuda yang kemarin datang ke sini dan membantu aku mengobati Pak Joko."
"Serius? Memangnya dia hadir dalam pemakaman tadi?"
Dita mengangguk.
"Sesungguhnya aku tidak terlalu kenal, tetapi aku yakin dia orang yang baik. Buktinya hadir dalam pemakaman, hanya saja saat mau menyapa, mungkin takut pada keluargaku."
"Oh, bisa jadi," jawab Rani sambil mengangguk setuju.
Sesaat Rani mendengar derap langkah yang terhenti di dekat kamar Dita. Satu sisi ia mendengar cerita dari Dita, sisi lainnya ia mendengarkan apa yang terjadi di luar kamar.
Saat Dita ingin melanjutkan cerita, Rani mengisyaratkan agar Dita diam dulu.
"Aku jadi pengen menge--"
"Syut, kamu diam dulu."
Alis Dita saling bertautan, "Kenapa?"
Rani berdiri lalu dengan perlahan menuju pintu kamar Dita. Dari atas tempat tidurnya Dita memperhatikan gerak-gerik Rani.
"Apakah ada yang mendengar pembicaraan kami di luar kamar?" gumam Dita.
Hingga sesaat kemudian terlihat jika Rani membuka pintu kamar dan menyapa orang yang berada di luar kamarnya.
"Seperti suara Ibu dan Tante Anggraeni?"
Dita mere-mas ujung kemeja yang ia pakai. Dita merasa takut karena membicarakan laki-laki di dalam kamar. Entah apa yang ia pikirkan tetapi sepertinya ini pertanda kurang baik untuknya.
"Jeng, Dita ada di dalam, kah?"
Nyonya Sekar hampir terjingkat saat besannya tiba-tiba datang. Melihat Nyonya Sekar terkejut membuat Nyonya Anggraeni tersenyum.
"Ngagetin saja to, Jeng."
"Lah, salah siapa berdiri di situ, kan saya nggak tau kalau Jeng Sekar sedang meng--"
Kriet ....
Sosok Rani muncul dari balik pintu kayu. Kepalanya keluar menengok ke arah Ibu Dita.
"Loh, Kanjeng Ibu dan Tante ngapain di situ? Mau cari Dita?"
Nyonya Sekar mengangguk.
"Silakan masuk Kanjeng Ibu dan Tante!"
Rani mempersilakan kedua orang tersebut untuk masuk ke kamar Dita. Tidak lupa ia memberi hormat terlebih dahulu.
"Dita, bagaimana keadaan kamu?"
"Alhamdulilah baik-baik saja, Bu."
Nyonya Anggraeni mendekati Dita terlebih dahulu. Beliau membelai kepala Dita lalu menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Dita, mau ikut tante liburan, nggak?"
"Ke-kemana, Tante?"
"Dua minggu lagi, keluarga Tante mau liburan ke Bali, tetapi Tante ingin kamu ikut dengan kami. Bukankah kamu juga bagian dari keluarga Tante?"
Dita menatap bingung ke arah ibunya. Nyonya Sekar yang sudah mengetahui rencana ini dari besannya hanya menganggukkan kepala.
"Seharusnya kamu tidak apa-apa ikut Ibu mertua kamu. Hitung-hitung buat meenyegarkan kembali pikiran sebelum masuk kuliah."
Kedua mata Dita berbinar bahagia.
"Berarti setelah itu, Dita boleh kuliah kembali, Bu? Enggak home school lagi?"
"Tentu saja, Sayang. Kamu pasti ingin kuliah kembali, bukan?"
"Iya, Bu. Dita sudah kangen teman-teman kuliah Dita."
"Syukurlah kalau begitu, kamu bisa bertemu dengan mereka setelah ini."
Dita mengulas senyum lebar kali ini. Begitu pula dengan Rani yang sangat terlihat bahagia.
"Syukurlah Dita, setelah ini kamu pasti akan lebih bahagia. Namun, sebelum itu kamu harus disembuhkan terlebih dahulu. Kakek itu pasti sudah menunggu, tetapi dengan alasan apa aku bisa membawa Dita pergi?" Rani terus memikirkan cara agar bisa mengajak Dita pergi.
"Bagaimana, apa kamu setuju?"
"Bolehkah, Dita pergi, Bu?"
"Tentu saja boleh."
"Yeay!" seru Dita bahagia.
Nyonya Anggraeni merasa bahagia karena bisa melihat dengan pasti bahwa Dita sudah bisa tersenyum bahagia.
"Semoga dengan ini, semua lukamu bisa terobati ya, Sayang. Aamiin." Doa Nyonya Anggraeni di dalam hati.
.
.
Jangan lupa mampir ke sini, bestie.