
Satu minggu kemudian.
Sesuai dengan perkataan Tito kapan hari, ia benar-benar membawa tubuh saudara kembarnya untuk datang mengunjungi Dita. Penerbangan dari Belanda ke Indonesia berlangsung normal dan tidak ada kendala.
"Kamu benar-benar ingat dimana terakhir ketemu Dita, Nak?" tanya Ibunda Tito.
Tito mengangguk dengan rasa percaya diri yang tinggi. Rasa keinginannya hidup kembali hanya karena untuk bisa bersama Dita. Menikah dengannya dan hidup bahagia bersamanya.
Perjalanan panjang selama berjam-jam tidak membuat keinginan Tito luntur. Akan tetapi kekhawatiran Ibunda Tito tergurat jelas di wajah cantiknya.
"Bagaimana ini? Kenapa bisa terjadi seperti itu?"
"Entahlah tetapi sepertinya semua sudah direncanakan Tuan."
Fano memijit pelipisnya dengan ujung jari telunjuknya. Dua pekan sudah ia belum mengunjungi Dita. Ada rasa rindu yang terpendam untuknya, namun ia masih menahannya. Asistennya merasa jika ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan bisnis.
Hingga akhirnya ia pun memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan, saya permisi terlebih dahulu, selamat siang."
"Hm," ucapnya singkat.
Fano mengambil ponselnya. Ia melihat foto seorang wanita yang sudah mencuri perhatiannya selama sebulan penuh. Siapa lagi kalau bukan Dita.
"Aku kangen kamu," bisiknya sambil mencium foto Dita.
Fano melihat agenda seminggu, lalu memutuskan jika esok ia akan datang ke rumah Dita.
"Andai aku memiliki nomor ponselmu, sudah tentu aku tidak akan serepot ini."
"Tetapi apapun yang terjadi, kamu satu-sayunya di hatiku."
Saat ini Lisa dan Nurul sedang berada di hadapan Dita. Kesehatan Dita yang belum sepenuhnya membaik membuat Dita tidak bisa ke toko, jadi sebaliknya kedua karyawannya yang datang ke rumah Dita untuk melapor.
"Bagaimana, Non, apa ada yang perlu kami perbaiki?"
"Tidak, laporan yang kalian buat sangatlah bagus. Aku suka, Minggu ini bonus untuk kalian akan cair."
Kedua pasang mata Lisa dan Nurul berbinar bahagia.
"Terima kasih banyak, Nona Dita."
"Sama-sama, aku justru berterima kasih kepada kalian karena sudah membuat tokoku mendapatkan omset bulanan yang sangat besar."
"Sama-sama Non, lagi pula Nona Dita sudah kami anggap sebagai kakak kami, sehingga tidak ada hal lain lagi yang kami sembunyikan."
Dita menunduk sambil berbisik.
"Apakah Mbak Kunti masih menganggu kalian?"
"Alhamdulillah sudah enggak, Non. Sejak kami sering sholat dan mengaji di toko, gangguan itu sudah tidak ada lagi."
"Ya sudah kalau begitu, kami permisi."
"Tunggu sebentar aku ada kue di dapur, aku ambilkan siapa tau bisa buat bekal kalian."
"Terima kasih."
Tidak berapa lama kemudian, setelah mereka pulang, rumah Dita kembali kedatangan tamu. Sebuah mobil yang tampak asing kini terparkir rapi di halaman rumah.
Mbok Nem lagi-lagi berlari ke dalam rumah. Dita yang masih berada di ruang tengah menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Mbok. Kok buru-buru sekali?"
"Di luar ada seorang pemuda bersama kedua orang tuanya ingin menemui Den Ayu."
"Benarkah, siapa? Aku merasa tidak berjanji pada siapa pun?" gumamnya.
Meskipun ragu, tetapi Dita terus melangkah keluar. Langkah Dita terhenti ketika ia melihat sosok yang sangat ia rindukan selama seminggu ini.
"Apakah ini mimpi?" ucapnya dalam diam.
Sorot mata teduh itu menatap Dita penuh kelembutan. Rasanya ia ingin segera memeluk tubuh Dita saat itu juga.
"Setelah kita menikah, maka aku akan mengembalikan tubuh ini pada kakak Dita. Sementara itu kita akan tetap bersama meskipun berbeda alam."
"Selamat datang, Nyonya dan Tuan."
"Apakah ini Anindita Ayu?" tanya Ibunda Tito.
Dita mengangguk malu-malu. Sebelumnya ia menatap Tito dengan tatapan penuh, tetapi saat ini ia menundukkan pandangannya.
"Aku datang ke sini untuk memenuhi janjiku padamu, Dita. Kamu tidak melupakan aku, bukan?"
Sontak Dita mendongakkan wajahnya.
"Ja-jadi Mas Tito serius ingin melamarku?"
"Tentu," ucapnya sambil tersenyum.
Seketika Dita teringat akan nasib pernikahannya yang selalu berakhir dengan kematian.
"Ta-tapi apa Mas Tito tidak takut ketika nanti menikah denganku?"
"Tentu saja tidak, memangnya apa lagi yang harus aku takutkan? Bahkan aku pernah melewati sebuah kematian," ucap Tito dengan santai.
"Ke-ma-ti-an?" ucap Dita tergagap.
BERSAMBUNG