
Kini terlihat jika Dita saat ini sedang merasakan kegelisahan hatinya. Tidak ada hal yang lebih indah daripada kehidupan yang langgeng bersama pasangan hidup.
"Bagaimana ini, sudah pasti opini dari masyarakat akan memberikan cap buruk kepadaku."
Dinda tampak mengusap gusar wajahnya. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Nyonya Sekar saat ini ketika merasakan jika aura Dinda sangat berbeda dengan putrinya.
"Apakah benar yang sedang terjadi dengan Dita itu karena ucapanku dulu."
Ingatan masa lalu Dita rupanya menghantui dirinya. "Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Alhamdulillah sudah enakan, Mbah."
"Kalau begitu duduklah di sini."
Saat Mbah Surip masuk ke dalam rumahnya, secara tidak sengaja Nyonya Sekar melihat jika ada seorang wanita cantik yang lewat di depan rumahnya. Aura yang terlihat dari wajah wanita itu sangat suram.
Secara tidak sadar, mulut Nyonya Sekar terlihat ingin segera mengomentari hal itu. Tepat sesaat setelah Mbah Surip datang rupanya Nyonya Sekar sudah membuat wanita cantik itu marah.
Sorot matanya tampak menyalang ke arah orang yang memandangnya. Tidak membutuhkan waktu lama, rupanya wanita cantik itu memberikan sebuah kutukan untuk masa depan anaknya.
"Ingatlah, jika anakmu lahir sebagai perempuan. Maka ia akan bernasib sama denganku. Semua suaminya akan meninggal meskipun belum pernah melakukan hubungan suami istri."
Jedar
Seketika perasaan Nyonya Sekar terasa sangat tidak nyaman karena ancaman yang diberikan oleh wanita cantik itu. Cangkir gelas yang dibawa oleh Mbah Surip seketika luruh dan terjatuh ke lantai.
Denting gelas yang beradu dengan lantai membuat suara nyaring hingga membuat semua orang yang berada di dekat sana menoleh ke arah rumah Mbah Surip.
Kasak-kusuk dari beberapa warga yang mendengar hal itu tampak ketakutan dan segera menjauh dari tempat itu. Begitu pula dengan beberapa wanita hamil yang langsung menutup pintu rumahnya karena melihat sang wanita cantik yang barusan lewat itu memberikan kutukan pada Nyonya Sekar.
"Nduk, apa yang kamu katakan tadi pada wanita itu hingga ia merasa tersinggung dan mengucapkan doa yang jelek kepadamu."
"A-aku sudah lupa, Mbah. Maaf ...."
"Astaghfirullah, semoga calon anakmu kelak tidak kenapa-napa karena hal ini."
"Aamiin."
Meskipun setelahnya Nyonya Sekar sudah diberikan sesuatu sepulang dari kampung tersebut tetapi rupanya doa wanita cantik tadi sudah berubah menjadi kutukan karena merasa sakit hati dengan ucapan dari Nyonya Sekar.
Apalagi setelah itu ia justru melahirkan anak perempuan yang sangat cantik. Suka cita pada semua hal yang datang bersama kelahiran Dita rupanya mampu membuat Nyonya Sekar lupa dengan kutukan tersebut. Bahkan membuat Dita harus menanggung beban sampai saat ini.
"Maafkan aku, Bu. Aku tidak bisa hidup lebih lama dengan semua hal ini."
"Ka-kamu mau apa, Nak?"
"A-aku mau mengakhiri hidupku saja!" ucap Dita sambil menunduk.
Hati ibu yang mana sanggup melihat kepedihan hati dan rasa putus asa dari sang putri. Ingin rasanya Nyonya Sekar mendekati Dita, tetapi ia justru lebih dulu naik pada sebuah kursi. Di hadapannya terdapat sebuah tali yang digunakan untuk mengakhiri hidupnya.
"Aku tidak sanggup lagi, maafkan aku Ibu ...."
Kursi yang digunakan untuk berpijak telah terjatuh dan menjauh dari tubuh Dita. Sementara itu kepalanya berada di dalam seutas tali yang menggulung. Sesaat kemudian nafasnya sudah terhenti dan Dita sudah meninggal.
"Ditaaaa ... jangan tinggalkan Ibu, Nak."