Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 157. AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU


Suasana pondok pesantren membuat Dita merasakan hal lain di dalam dirinya. Sebuah hal yang tidak pernah ia temukan di dalam rumahnya ataupun di tempat lain.


Ada sebuah kesejukan yang mengalir di dalam hati Dinda. Apalagi setelah ia melihat banyak anak-anak yang bisa tertawa bahagia tanpa beban. Kebanyakan dari mereka tidak memikirkan kebahagiaan dunia, yang mereka pikirkan adalah kebahagiaan di akhirat.


Satu hal yang bisa didapat dari sana adalah semua yang hidup pasti akan mati. Sehingga sebelum kematian itu tiba, sebaiknya kita segera bertaubat dan mencari amalan untuk bekal ke akhirat.


Kebanyakan dari mereka rajin mengaji. Sedang untuk masalah rezeki yang lain mereka memasrahkan kepada Allah.


Hari itu Dita datang sendirian ke dalam pesantren. Sama seperti sebelumnya, Dita mengenakan pakaian syar'i dan menutup wajahnya dengan sebuah cadar.


Hal itu membuat rasa kenyamanan di dalam hati Dinda bertambah. Ia juga tidak takut akan pandangan dari lawan jenis yang akan menambah dosa untuknya.


Dita berjalan perlahan ke depan, dari arah yang bersamaan ada beberapa santri yang terlihat berlarian di sana hingga salah satunya justru menabrak Dita.


Bruk


"Maaf, Mbak," cicit anak itu.


Tidak lama kemudian salah seorang santriwati berhasil menyusul santri yang baru saja menabrak Dita.


"Kena, kau!" ucapnya senang.


Melihat interaksi kami, sepertinya santriwati tadi tersenyum ke arahnya.


"MasyaAllah, ada seorang wanita cantik yang datang ke pondok. Selamat datang, Ukhti."


"Terima kasih."


Dita kembali melanjutkan langkahnya, akan tetapi percakapan dua santri tadi masih terdengar olehnya.


"Eh, kakak tadi sepertinya sangat beda, ya. Apakah dia baru pertama kali datang ke pondok?"


"Sepertinya iya, memangnya kenapa?"


"Aku pengen memiliki istri secantik kakak tadi."


"Hust, kalau bicara itu pakai filter dulu, kenapa? Kasihanilah kakak tadi yang berusaha untuk menolongku."


Santri satunya terkikik mendengar sebuah permintaan konyol dari temannya itu.


"Sudah, sudah ... sebaiknya kita segera pergi! Nanti dicariin umi!"


Sesaat kemudian terdengar derap langkah mereka seolah berlari kembali.


"Jangan cepat-cepat, woi!"


"Ha ha ha ...."


Akhirnya Dita sudah sampai di aula tempat berlangsungnya acara penggalangan amal tersebut. Banyak tamu undangan yang hadir di sana. Namun, ada salah satu hal mencuri perhatian Dita yaitu kedatangan seorang lelaki yang pernah menolongnya dulu, Danu.


"Mas Danu?" gumam Dita.


"Untuk apa dia disini?"


Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan memenuhi rongga kepala Dita. Saat pandangan mata keduanya bertemu, Dita menundukan wajah.


"Semoga Mas Danu tidak menyadari kehadiranku."


Namun, dari arah yang sama, tiba-tiba saja pandangan Danu juga terusik pada sosok wanita yang memakai cadar dari tempat seberang.


"Kenapa wanita itu seolah mengusik perhatianku, padahal aku sangat asing terhadapnya. Ah, entahlah, lagi pula aku datang ke tempat ini demi mewakili ayah dan ibu."


Setelah beberapa saat mendengarkan sambutan dari pemilik pondok, kini tibalah dimana pembacaan para donatur yang telah berpartisipasi dalam acara tersebut dibacakan. Di tempat duduknya pikiran Dita sudah berharap-harap cemas.


Seolah takut jika namanya di sebut membuat Dita seketika merasakan mules. Ia bergegas mencari tempat toilet untuk melegakan pikirannya. Benar saja, saat nama sakral itu disebut, mata Danu seketika mencari sosok yang dicarinya itu.


Matanya menyisir ke sembarang arah, akan tetapi tetap saja tidak menemukan target yang ia maksud.


"Apakah itu benar-benar kamu? Kenapa firasatku mengatakan jika kamu ada di sini, Dita, tetapi dimana?"


Sampai akhirnya sosok itu menangkap seorang wanita bercadar masuk ke dalam aula kembali.


"Kepada saudari Anindita Puspa Ayu Batari sebagai donatur tetap kita dipersilakan untuk maju ke depan untuk memberikan sambutan sepatah dua patah kata."


Deg


Jantung Dita mendadak merasa tidak sehat ketika namanya disebut. Akan tetapi hal itu sudah menjadi keputusan dari pihak penyelenggara, sehingga ia pun tidak bisa menolaknya.


Pada akhirnya Dita naik ke panggung dan memberikan sambutan sebentar. Sesudahnya ia bergegas turun. Dari awal Dita naik ke panggung sampai kembali ke tempat duduknya membuat senyum Danu mengembang sempurna.


"Akhirnya aku menemukanmu."