
Semenakutkan itukah Dita saat ini? Ya, semuanya tampak berubah sejak kematian Fano. Ada kekuatan lain yang berhasil menguasai tubuh Dita. Sebenarnya tubuhnya masih baik-baik saja. Hanya hal itulah yang membuat dirinya di ajak ke dalam gubuk pengasingan.
Sebenarnya tujuan Mbok Nem mengunjungi Dita adalah mengajaknya untuk mandi penyucian jiwa yang akan dilakukan olehnya nanti malam. Ada sebuah ritual khusus yang akan dilakukan Mbok Nem untuk menghilangkan hal-hal aneh yang terjadi pada tubuh Dita.
Mulutnya kini penuh dengan singkong rebus. Rasa kenyang kini telah dirasakan olehnya.
"Terima kasih, Mbok. Rupanya aku merasa lebih baik setelah kamu memberikan aku makanan."
Sejak Dita bisa membakar barang-barang yang di sentuhnya, maka sejak saat itu pula Mbok Nem mendirikan gubuknya. Di sekelilingnya terdapat sebuah aliran sungai kecil yang sangat bersih dan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah makan dan minum, kini ia kembali berbaring di lantai kayu. Hingga hanya dalam sekejap mata Dita mulai tertidur. Mbok Nem senagaja melakukan hal itu demi ritual yang akan dilakukan nanti malam tepat di bawah sinar bulan purnama penuh.
"Maafkan saya, Den Ayu jika sikap saya justru seolah membuat Anda seperti ini. Tapi simbok berharap Den Ayu mau melakukan hal ini, dengan catatan ia yang mengawasi ritual tersebut."
Pintu kamar Dita terbuka. Mbok Nem mengambil baki aluminium itu lalu berjalan menjauhi tubuh Dita. Sebelum sampai di ambang pintu, Mbok Nem sempat menoleh.
"Maafkan saya, Den Ayu."
Di dalam alam mimpi Dita. Saat ini ia sedang berjalan-jalan mengelilingi sebuah taman bunga kamboja. Harumnya bunga kamboja yang warna warni itu membuat Dita nyaman berada di taman tersebut.
Semuanya tampak nyaman sampai ketika ada derap langkah yang mendekatinya. Sosok lelaki tinggi dan tampan itu mengingatkan dirinya pada sosok lelaki yang tidak jadi menikah dengannya karena ia tidak mampu bertahan saat melalui ujian yang dilakukan oleh bangsa lelembut.
Saat itu sosok yang menemani Dita sangatlah banyak, bahkan lelaki yang baru mendekatinya saja sudah sakit. Akan tetapi jika mereka menjauhinya maka dia akan selamat.
"Mas Juna, benarkah itu kamu?"
"Hai, alhamdulilah kamu masih ingat aku. Maaf karena aku lama tidak berkunjung ke tempat kamu."
"Nggak apa-apa, oh ya, gimana kabar Tante Sinta?"
"Kenapa? Apa ada masalah?"
Juna mengangguk lalu meminta besok untuk bertemu lagi.
"Anindita, bisakah besok pagi kamu datang ke Rumah Sakit A."
"Ru-rumah Sakit? Memangnya siapa yang sakit?"
"Mama ... ia ingin mengucapkan sesuatu sama kamu."
"Oh, ya?"
Juna tampak mengangguk membenarkan perkataannya barusan. Lalu karena suara adzan Subuh sudah berkumandang dan ayam jantan pun sudah berkokok maka Juna segera berpamitan kepada Dita.
"Sampai jumpa sampai bertemu lagi besok di Rumah Sakit A, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Masih di dalam mimpinya, Dita benar-benar di jemput Juna. Mereka berdua menuju ke Rumah Sakit A untuk menjenguk ibunya Juna. Awalnya Dita tidak merasa aneh, tetapi seiring berjalannya waktu perjalanan mereka sangat panjang dan mampu menembus hutan belantara.
Juna yang awalnya biasa saja semakin kesini terasa semakin aneh saja. Hingga tidak berlangsung lama, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit.
"Turun!"
Dita segera melepas seatbelt dan melangkah keluar mobil. Tangannya tiba-tiba saja diraih oleh Juna. Sontak saja Dita menoleh dan ....