Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 147. MEMULAI HAL BARU


Setelah hampir dua Minggu mengurung dirinya, kini Dita sudah mau keluar dari kamar. Masa berkabungnya telah usai. Ada kerinduan tentang dunia luar yang membuatnya sudah bisa berdamai dengan masa lalu.


"Selamat pagi, Dita yang baru."


Udara pagi benar-benar membuat Dita menyunggingkan senyumnya. Kedatangan Dita di meja makan tidak kalah membuat kedua orang tuanya saling memandang satu sama lain. Terkejut, tentu saja. Apalagi Dita menutup segala komunikasi dengan mereka. Selama itu pula Dita lebih dekat dengan leluhurnya, Kanjeng Nyai.


"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa Dita.


"Pagi, Sayang," ucap keduanya.


Setelah berhasil membuat kejutan di meja makan, Dita menambah semarak pagi itu dengan meminta ijin untuk keluar rumah.


"Pak, Buk. Dita mau minta ijin mau pergi keluar hari ini, boleh nggak?"


"Boleh, memangnya mau kemana?"


"Mau jalan-jalan ke mall, kangen pengen liat mall."


"Ya sudah, apa perlu Ibu temani?"


"Tidak perlu, Dita lagi pengen sendiri."


Setelah berpamitan, Dita bergegas mengambil kunci mobil. Tidak lama kemudian Dita segera mengendarai mobilnya keluar perkebunan.


"Memangnya kita tidak apa-apa membiarkan Dita berpergian sendiri?" tanya Ibu pada suaminya.


"Tidak apa-apa, Bu. Memangnya kenapa harus khawatir?"


"Ibu merasa tidak nyaman, Pak. Seolah ada yang mengganjal gitu."


"Sudahlah, berdoa saja semoga tidak terjadi apapun nanti."


"Aamiin."


Di sisi lain, Dita sangat bersemangat dalam memulai hari. Rasanya ada berjuta kebahagiaan yang menghampirinya saat ini. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah melakukan perawatan diri di salon dan melalukan spa.


"Hm, sepertinya sangat menyenangkan pergi ke salon lalu setelahnya jalan-jalan."


Benar saja, setelah menemukan sebuah salon yang lumayan terkenal dan ramai, Dita membelokkan mobilanya ke tempat itu. Para karyawan salon menyambutnya dengan tersenyum ramah.


"Selamat datang, Nona, ada yang bisa kami bantu?"


"Saya ingin melakukan perawatan spa lengkap, apakah ada?"


"Ada Nona, kebetulan hari ini ada spesial diskon. Silakan reservasi terlebih dahulu dan memilih terapisnya."


Salah satu karyawan segera menunjukkan beberapa paket lengkap yang bisa Dita ambil. Ternyata ada satu yang menarik perhatiannya yaitu paket spa lengkap dengan body bleaching.


Setelah siap, Dita segera melakukan spa bersama salah satu terapis wanita pilihannya. Semua pakaian Dita ditanggalkan dan berganti dengan kain kemben.


Tidak lupa kaki Dita direndam dengan air hangat agar lebih rileks dan bersih. Selepas itu Dita tengkurap dan mulai dipijat bagian tubuhnya. Sentuhan lembut tangan terapis itu mampu membuat Dita seolah mendapatkan energi baru.


"Aku harus menikmati kehidupan yang baru ini. Hm, sepertinya aku perlu mengubah penampilan rambutku, juga."


Rencana Dita setelah spa adalah pergi ke salon untuk perawatan rambut. Hari itu benar-benar ia habiskan untuk membuat hatinya bahagia.


Dita memangkas dan merapikan rambutnya yang terlalu panjang.


"Akhirnya setelah banyaknya tretment membuat perut keroncongan. Makan dulu, ah," seru Dita berbicara sendiri.


Meskipun Dita pergi sendirian, tetapi rasa ketakutan bahkan tidak terlihat di dalam wajahnya. Yang nampak hanyalah kebahagiaan.


Selepas melakukan berbagai treatment, Dita melangkah ke sebuah tempat makan favoritnya. Ia membeli semangkok mie ayam lengkap dengan tambahan ceker dan balungan (tulang-tulang ayam yang masih tersisa sedikit daging dan lemak).


"Memang paling enak makan soto plus balungan."


"Dulu aku selalu mengajak Rani makan di sini, sekarang apa kabarnya dia?"


Semenjak urusan pernikahan yang gagal membuat Dita terputus kontaknya dengan Rani. Apalagi Rani tidak mempunyai ponsel, sehingga pertemuan mereka hanya sebatas di kampus.


"Sepertinya aku harus mampir ke rumah Rani setelah ini."


Sebelum pergi, Dita memesan dua buah mie ayam untuk Rani dan ibunya. Tidak berselang lama, Dita benar-benar mendatangi rumah sahabatnya itu.


Dari kejauhan rumah Rani tampak tidak terawat dan begitu kotor. Dita memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu.


"Kenapa sepi sekali? Rasanya seperti tidak berpenghuni, semoga saja pikiranku salah."


Saat hendak masuk pekarangan rumah, langkah kaki Dita dikejutkan dengan datangnya salah seorang tetangga Rani yang tiba-tiba langsung menepuk bahunya.


"Cari siapa, Mbak?"


Sontak Dita menoleh, "Maaf Bu, selamat siang. Apa benar ini rumahnya Rani?"


Ibu itu melihat Dita dari atas ke bawah lalu mengangguk setelahnya.


"Iya, tetapi semenjak ibunya meninggal, Rani sudah pergi bekerja ke luar negeri. Maaf, Anda siapa? Rentenir kah?"


"Ha-ah, bu-bukan ... saya Dita teman sekolahnya Rani waktu menjadi salah seorang mahasiswa."


"Oh, kirain."


"Mohon maaf sebelumnya, apakah Rani terjerat kasus hutang piutang, kenapa ia sampai pergi ke luar negeri? Kenapa pula saya dikira rentenir?"


Ibu-ibu terkikik geli karena ucapan Dita.


"Itu karena hutang piutang untuk biaya pengobatan ibunya membengkak, sehingga terpaksa Rani meminjam uang kesana-kemari."


"Kalau kamu temannya, pasti tau karena sejak Rani merawat ibunya, ia pun sudah keluar dari kampus."


Deg


Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dada Dita. Ia sungguh tidak menyangka jika sebagai sahabatnya ia justru tidak mengetahui apapun. Perasaan bersalah dalam sekejapmenghantui Dita.


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa Rani memikulnya sendiri?"


"Aku adalah sahabat yang tidak tahu dengan kabar terkini tentang sahabatnya. Apakah itu pantas disebut sahabat?"


Dita tidak habis pikir dengan serentetan kisah mistis dan berbeda yang terus menderanya. Begitu pula dengan masalah yang menjerat Rani. Melihat Dita bengong, ibu-ibu itu menyadarkannya lalu permisi pergi.


"Mbak, Mbak ... Siang-siang begini jangan banyak melamun, apalagi ini di depan rumah kosong. Sudah dulu ya, saya pamit."


"Eh, iya Bu. Maaf," cicit Dita.


Tidak mau berlama-lama, Dita segera melanjutkan langkahnya untuk pergi. Mie ayam yang baru saja dibeli segera diberikan pada anak pengamen di pinggir jalan.


Lalu ia segera melanjutkan langkahnya menuju mall. Sepeninggal Dita, ada sosok bayangan yang keluar dari sudut rumah kosong milik Rani. Sekelebat bayangan hitam itu tertawa menyeringai.


Sorot matanya yang tajam seolah mengisyaratkan jika ia membenci kehadiran Dita barusan. Tangannya mengepal, lalu keluar asap hitam yang mengelilingi tubuhnya. Sesaat kemudian ia menghilang.


Ibu-ibu tetangga Rani yang melihat penampakan di rumah Rani bergidik ngeri. Dalam sekejap saja ia langsung menutup seluruh jendela kamarnya.


"Semoga demit itu nggak ganggu gue, awas aja kalau sampai ke sini, tak undang Pak Kyai terkenal agar dia bisa memusnahkanmu!" ucapnya kesal.


Ia memang tidak suka ketika harus berdekatan atau menceritakan tentang penampakan makhluk menyeramkan di rumah Rani. Ibu itu tidak mau terlibat terlalu jauh.


Apalagi barang siapa yang mendekati rumah Rani itu artinya mencari kesialan. Semoga saja, ia bisa selamat dari teror tersebut.