
Sesuai rencana, Sam benar-benar datang ke tempat Dita. Satu jam yang lalu ia bertanya pada Dita apa ada jadwal kuliah atau tidak dan ternyata hari ini kelas kosong. Sehingga Dita memilih untuk tiduran di rumah.
"Lebih baik berada di sini daripada harus bersama lelaki tidak jelas tersebut," gumam Dita.
Dita memilih pergi saat Sam sudah memberi kabar jika dirinya sudah sampai di area perkebunan teh. Sementara itu dengan mengendap-endap, Dita pergi.
Saat ini Dita sudah berada di saung. Ia sengaja berjalan-jalan keluar dari rumah dan menuju ke tengah sawah untuk menghilangkan penat sejenak. Secara tidak sengaja ia meminta tolong pada Rangga, salah satu pekerja di rumah orang tuanya.
"Den ayu lapar?" ucap Rangga sambil memberikan minuman untuk Dita.
"Terima kasih ... eh, maaf siapa namamu, maaf tadi langsung menarikmu pergi."
"Nggak apa-apa Den Ayu, lagi pula saya juga tidak sibuk. Rumputnya sudah saya potong sebelum Den Ayu datang."
Dita tersenyum manis ke arah Rangga, membuat Rangga merasa jika guna-guna yang ia pasang bisa berfungsi dengan baik.
"Apakah dia sudah mulai bekerja. Padahal pekerja di rumah tadi sangat banyak, tetapi ia malah memilihku," ucapnya sambil terkikik.
"Kenapa kamu ketawa sendiri?"
"Eh, maaf ... Den Ayu, itu a-anu ...."
"Sudahlah, kalau kamu tidak suka menemaniku di sini, kamu boleh kembali."
"Ti-tidak kok, saya suka Den Ayu."
Rangga merutuki sikapnya sendiri karena keteledorannya membuat Dita sedikit curiga padanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Apakah bekerja di rumahku membuatmu betah?"
"Betah sekali Den Ayu."
"Oh, ya ... ha ha ha ...."
.
.
Kediaman Handoko.
Teng ... teng ....
Suara bel dari pagar depan berbunyi. Seorang pekerja berlari ke depan untuk membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Selamat siang, maaf apa ini benar kediaman Anindita putri Bapak Handoko?"
"Benar, maaf ada perlu apa, ya?"
"Saya teman Anindita, tadi sudah membuat janji dengan dia."
"Oh, ya sebentar saya lapor sama Kanjeng Ibu terlebih dahulu."
Kemudian pekerja tersebut berlari ke dalam untuk melapor pada pemilik rumah.
"Ada apa Pak Karto kenapa lari-lari begitu?"
"Itu Kanjeng Ibu, di depan ada laki-laki mengaku teman Den Ayu, sekarang masih berada di depan gerbang."
"Suruh masuk saja, mungkin Dita membuat janji dengannya."
"Baik, Kanjeng Ibu, saya permisi."
Setelah melapor, ia kembali ke depan gerbang untuk menemui Sam.
"Silakan masuk, Den Bagus."
Sam terkekeh karena hal itu, tetapi ia tetap berterima kasih.
"Terima kasih, Pak."
Setelah hal itu, ia pun kembali melajukan mobilnya memasuki halaman rumah Dita. Nyonya Sekar segera mencari putrinya.
"Dita ... kamu di mana? Nak ... Dita ...."
Ternyata Nyonya Sekar tidak menemukan putrinya di dalam kamar.
"Perasaan tadi Dita ada di sini, lalu kemana dia?"
Merasa tidak menemukan putrinya ia pergi ke halaman belakang, namun sama halnya dengan tadi ia tidak menemukan apapun.
"Lapor Kanjeng Ibu, tamunya sudah berada di ruang tamu."
"Baiklah kalau begitu, biar Ibu menemuinya."
Nyonya Sekar segera pergi ke depan, tetapi sebelum ia pergi beliau telah menyuruh pekerjanya untuk menemukan Dita. Tidak lupa ia juga memberi perintah pada pekerja wanita membuatkan minuman untuk tamunya.
"Selamat siang, Kanjeng Ibu," sapa Sam ramah.
"Tunggu sebentar, Ibu seperti mengenalmu, bukankah kau teman masa kecil Dita?"
Sam mengangguk, lalu ia pun mengutarakan maksud hatinya.
"Tapi sebelumnya, Ibu minta maaf sama kamu, Dita sepertinya pergi. Soalnya di kamar maupun di halaman belakang ia tidak ada."
"Ta-tapi tadi masih berkirim pesan padaku."
"Iya, baru aja Ibu mengecek ke kamarnya tetapi ia tidak ada."
"Jangan khawatir, Ibu sudah mengutus pekerja lelaki untuk mencari Dita. Mungkin ia sedang jalan-jalan di kebun teh."
"Iya, Bu."