Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 96. FIRASAT APA


Ckittttt! bruaakkk!"


Ternyata yang terluka akibat insiden tadi bukan Tuan Handoko yang terluka, melainkan truk yang hendak menyerempet tubuh ayahnya tadi. Menurut pihak kepolisian truk itu mengalami kecelakaan tunggal. Padahal jelas-jelas tadi terlihat jika tubuh Tuan Handoko dihantam oleh bibir truk. Bagaimana ia bisa selamat?


Jika dalam keadaan normal seharusnya yang terluka parah adalah ayah Dita. Namun, anehnya sopir truk yang terluka parah, bukannya Tuan Handoko.


Kejadian mustahil itu nyatanya tidak membuat Tuan Handoko jera, ia tetap melanjutkan perjalanan menuju ke Rumah Kyai Din. Pikirannya sudah tidak bisa setenang dulu. Ia yakin jika hal ini pasti berkaitan dengan ilmu hitam.


Dua jam berlalu, mobil berwarna hitam mengkilat itu sudah memasuki sebuah rumah sederhana dengan gazebo di pekarangan rumahnya. Terlihat asri ketika beberapa pohon mangga menjadi aksesoris tambahan yang menyejukkan mata, apalagi jika musim berbuah tiba.


Setelah memarkirkan mobilnya, Tuan Handoko turun terlebih dahulu. Tidak lupa ia membuka pintu untuk istrinya lalu Dita. Udara yang sangat menyejukkan dan suasana yang asri membuat hati Dita sedikit lebih rileks.


Sesampainya di ambang pintu, Tuan Handoko mengetuk daun pintu utama.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam, silakan masuk!" ucap seorang wanita berpakaian gamis panjang dengan warna hijab yang senada dari dalam rumah.


"Kyai Din, ada di rumahkah, Nduk?"


"Oh, Bapak ada, mari silakan masuk!"


Tidak berapa lama setelah ketiganya duduk, Kyai Din keluar. Tuan Handoko mengucap salam dan menyapa beliau. Tidak lupa bercengkrama untuk beberapa saat.


"Tumben sekali kamu ingat aku?"


"Hahaha, bukannya begitu. Hanya saja urusan bisnis membuatku tidak bisa bersilaturahmi ke sini."


"Oh, iya. Harta memang lebih penting kok, ya, hahaha ...."


Keempat orang itu tertawa canggung. Hanya Kyai Din yang bisa tertawa lepas. Sepertinya ia memang bisa melihat isi hati seseorang, karena tidak berapa lama kemudian, beliau sudah terlihat lebih serius.


"Jadi kedatanganmu kali ini untuk apa?"


"Jadi begini ceritanya ...."


Tuan Handoko mulai mengatakan semuanya, menjelaskan secara detail beberapa gangguan yang menyerang keluarganya.


"Sepertinya ada seseorang yang tidak menyukai putrimu. Bahkan ia menginginkan nyawanya hingga beberapa keturunannya ke belakang."


"A-apa?" ucapnya tidak percaya.


"Lalu aku harus melakukan apa?"


"Ini sebenarnya sebuah santet yang ditujukan kepada putrimu, akan tetapi tubuh putrimu sangat istimewa sehingga bisa dikatakan jika ia akan kebal terhadap serangan tersebut. Akan tetapi hal itu berdampak pada orang-orang di dekatnya."


Kyai Din menghela nafasnya, "Seharusnya orang yang diruwat bukanlah putrimu, tetapi orang yang mengirimkan santet."


"Atau begini saja, aku hanya bisa membekali putrimu dan kalian amalan saja, selebihnya kita kembalikan kepada Allah SWT."


Terlihat wajah kedua orang tua Dita menegang. Lain halnya dengan Dita yang terlihat tenang.


"Saya setuju, Pak Kyai. Saya yakin pertolongan Allah itu nyata adanya."


Kyai Din tampak tersenyum menanggapi hal itu. Ia bahagia meskipun Dita sudah terkena banyak sekali ujian, ia masih memiliki kepercayaan diri.


"Iya, Pak Kyai."


Memang benar, sesaat setelah itu adzan Dhuhur berkumandang sehingga semuanya segera mengambil air wudhu lalu berjamaah di sebuah musholla.


Setelah itu Pak Kyai Din berbicara empat mata dengan Dita.


"Aku memang tidak bisa membantumu, Nak. Akan tetapi aku akan memberimu sebuah ilmu, sebelum hal itu aku ajarkan kepadamu sebaiknya kamu harus "puasa mutih".


"Jadi, apakah setelah itu semua takdir buruk yang menimpaku akan selesai?"


Pak Kyai menggeleng, "Semua hal yang terjadi itu rahasia Illahi, manusia tidak bisa memprediksi. Hanya dengan mendekatkan diri dengan Allah, insya Allah semuanya akan menjadi lebih mudah."


"Baiklah kalau begitu Pak Kyai, saya akan mencobanya."


"Alhamdulillah."


......................


"Apa kata Pak Kyai, Nduk?"


"Hanya memberikan beberapa amalan untuk berjaga-jaga, Pak."


"Alhamdulillah, semoga saja setelah ini takdir baik menyertaimu. Aamiin."


Baru saja mobil mereka melaju beberapa meter, terjadi sebuah kemacetan di depan mereka.


"Ada apa ya, Pak?"


"Entahlah, mungkin saja ada kecelakaan."


Beberapa saat kemudian, kaca mobil di sebelah Dita di ketuk-ketuk dari luar. Dita menoleh, ternyata ada seorang kakek tua meminta-minta.


Dita yang merasa kasihan segera merogoh koceknya, lalu membuka kaca tersebut dan memberikan lembaran uang merah kepadanya.


"Terima kasih, Nak."


"Sama-sama, Kek."


Dita langsung menutup kembali kaca mobilnya tetapi tangan kakek tersebut menahannya.


"Berhati-hatilah, Nak. Tahun ini bukanlah tahun terbaikmu, jangan melakukan hal apapun yang berkaitan dengan pernikahan."


"Ke-kenapa, Kek?"


"Kamu sudah tahu alasannya," ucap Kakek tersebut sambil tersenyum.


Setelah itu kakek itu berlalu, lalu hanya berselang beberapa saat, ada beberapa tenaga medis membawa tandu yang berisi mayat korban kecelakaan itu. Mata Dita terbelalak ketika melihat orang yang sama dengan kakek yang baru saja bertemu dengannya.


"Ka-kakek itu ...." Dita menutup mulutnya tidak percaya.


"Orang yang berbicara padaku barusan adalah ...."