
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Tepat jam delapan pagi, Dita dan Fano sudah duduk di hadapan penghulu dan beberapa saksi. Acara kali ini tampak sakral dan membuat Nyonya Sekar tidak bisa menahan rasa harunya.
"Semoga kita menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warohmah, Aamiin."
"Aamiin, Mas."
Begitu pula dengan Nyonya Kirana yang tidak henti-hentinya mengusap air matanya. Seolah ini adalah sesuatu yang ditunggu olehnya. Setelah sekian lama mereka menunggu, Dita baru membuka hatinya.
Dalam satu kali tarikan nafas, akhirnya Dita resmi menjadi istri Fano. Fano yang sudah berhasil merebut hati Dita akhirnya merasa jika tujuan hidupnya telah tercapai.
"Aku sangat bersyukur karena bisa memilikimu, Dita."
Dita hanya mengulas senyumnya untuk sebentar. Lalu segera kembali pada pikirannya sendiri.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Sayang."
Kini sebutan Dita sudah tergantikan dengan sebutan Sayang. Meskipun di dalam hati Dita ia masih merasa tidak suka, tetapi demi membahagiakan suaminya ia pun mengalah.
"Iya, Mas."
Dinda merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sementara itu Fano kembali duduk di sofa. Mencoba memejamkan matanya tetapi tetap tidak bisa. Seolah ada bisikan yang mengatakan jika dirinya harus tetap terjaga dalam beberapa waktu.
Kini keduanya sudah beristirahat sejenak, sebelum setelahnya beberapa jam lagi, keduanya akan berangkat ke Luar Negeri. Sesuai dengan rencana awal, mereka akan hidup di luar negeri untuk beberapa waktu.
Meskipun sebelum setuju, antara Dita dan Fano masih terlihat cekcok.
"Memangnya kenapa kalau kita langsung berangkat ke Luar Negeri? Bukankah lebih cepat lebih baik."
"Terserah saja, biarkan Allah yang mengatur sisa hasilnya kepada kita."
Tangan Fano terulur untuk menyalurkan semangat hidup bagi Dita. Melihat jika Dita ketakutan, sebagai suami yang bertanggung jawab maka Fano pun memberikan dorongan moril kepadanya.
"Tidak akan ada apapun, semuanya pasti baik-baik saja!" ucap Fano dengan lembut.
"Percayalah pada pertolongan Allah, Dek."
"Ta-tapi, Mas ...."
Dita menatap kedalaman mata Fano. Dita bisa melihat bagaimana ia bisa merasakan kebahagiaan Fano untuk beberapa waktu dan betapa besarnya rasa cinta Fano untuknya.
Begitu pula dengan doa yang dipanjatkan oleh kedua orang tua mereka. Dari kejauhan terlihat jika Nyonya Sekar bisa merasakan kekhawatiran Dita. Oleh karena itu mereka segera pergi ke bandara setelah semua persiapan selesai.
"Kira-kira kapan kalian bisa kembali?"
"Mungkin setelah kami mempunyai anak?" jawab Fano antusias sambil melirik ke arah Dita.
"Hm, mungkin saja," ucap Dita sambil tersipu.
Bagaimana pun Dita dan Fano baru saja resmi menikah sehingga tidak ada gambaran apapun yang tertulis di dalam benak Dita.
"Ya, ampun Dita, Mama hanya bercanda," ucap Nyonya Sekar pada putrinya.
Setelah itu mereka segera menaiki pesawat dan tidak berapa lama kemudian mereka terbang.
"Hm, sepertinya sangat seru jika kita menimang cucu setelah ini!" ucap Nyonya Kirana sambil mendekati besannya.
"Iya, Jeng. Itu adalah hal yang selalu aku nantikan," ucap Nyonya Sekar.
Mereka masih melihat pesawat yang dinaiki oleh Dita dan Fano. Meskipun semua terlihat lancar. Di dalam hati Dita tidak seperti itu. Semuanya masih terlihat tidak biasa.
Sambil melihat wajah suami yang terlelap hatinya masih berbicara.
"Bagaimana jika aku memilih untuk menunda untuk memiliki keturunan, apakah pada akhirnya kau akan mengalah atau ...."