
Mengetahui jika keponakannya akan mendapatkan sebuah masalah dengan segera Yuli membentengi dirinya. Meskipun jauh jika semua syarat yang diajukan Yuli sesuai, Yuli yakin semua hal itu bisa membuat Fano dan Dita selamat dari semua mara bahaya.
Bagaimana pun Yuli bertanggung jawab akan hal itu. Fano merupakan anak kesayangan Nyonya Kirana oleh karena itu ia berniat menyelamatkannya dengan sepenuh hati. Meskipun pada akhirnya nyawanya yang menjadi taruhan.
"Sudah menjadi konsekuensinya jika aku harus berakhir di sini. Aku yakin semua ada waktunya. Oleh karena itu aku harus berjuang."
Dengan segera Yuli membeli semua barang yang digunakan untuk keperluan persembahan. Tidak lupa kembang tujuh rupa dan juga sesaji ingkung ayam cemani, minyak khusus dan juga beberapa kelengkapan sesaji.
"Selama aku menjalani ritual tersebut, aku minta jangan ada yang berani masuk ke dalam kamar ataupun memanggilku. Meskipun kalian mendengar suaraku seperti meminta tolong, abaikanlah. Karena itu hanya ilusi. Semua ini aku lalukan demi kebaikan Fano. Jadi Mbak dan Mas harus berhati-hati."
"Maaf ya, Yul. Jika Mbak harus merepotkanmu saat ini. Namun, hanya kepadamu Mbak mengharapkan untuk bisa menjaga keselamatan Fano."
"Iya, Mbak. Jangan khawatir, aku akan mengerahkan semua kekuatan yang aku punya untuk melindungi Fano."
"Terima kasih."
Setelah memastikan semuanya lengkap dan penjagaan di rumah kediaman Nyonya Kirana sudah sesuai dengan keinginan Yuli. Ia segera memasuki sebuah kamar khusus.
Mulai malam ini juga Yuli akan mulai melakukan ritual untuk melindungi keselamatan Fano. Tepat di hari weton Fano, Yuli melakukan semuanya. Ia bahkan sudah menyiapkan da**h ayam cemani lengkap dengan ingkungnya dan berbagai sajen yang berada di hadapannya. Tidak lupa menyan/ dupa sudah dia nyalakan sebagai teman ritual malam itu.
Mulutnya komat-kamit membaca mantra, matanya terpejam dengan kedua tangan yang menyatu di depan dada. Yuli kini sudah dalam posisi duduk bersila menghadap ke arah barat.
Selepas membaca mantra itu, Yuli kemudian membaca mantra yang lainnya. Mulutnya terus merapal mantra tersebut sampai dini hari.
Sementara itu di kamar Fano, suasana kamarnya begitu panas. Angin yang dihasilkan oleh pendingin udara sama sekali tidak menghasilkan udara yang sejuk. Dita yang baru saja selesai mandi mendekati suaminya yang seolah sedang kepanasan.
"Mas Fano kenapa? Apakah tidak apa-apa, menghidupkan AC sedingin itu. Nanti masuk angin lo, Mas."
"Nggak bisa, Dita. Rasanya badanku panas sekali!"
Kedua tangan Fano terus menggaruk-garuk bagian tubuhnya yang terasa gatal. Padahal tubuh Fano masih terasa putih bersih dan tidak ada bintik-bintik seperti yang diceritakan oleh Fano.
"Bagian mana yang gatal, Mas? ini aku bantu garuk, tetapi tubuh kamu masih bersih lho Mas, masa masih terasa gatal?"
"Iya, dek. Bagian sini gatal semua. Rasanya ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhku dan rasanya sangatlah gatal. Aku tidak tahu benda apa itu yang jelas rasanya sangat gatal sekali."
Maka dari itu kedua tangan Fano selalu menggaruk-garuk bagian tubuhnya. Dita yang melihatnya merasa miris sekaligus merinding.
"Jangan-jangan hal ini akibat makhluk itu?"