Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 71. BERSYUKUR


Kekhawatiran Nyonya Sekar sirna sudah ketika melihat mobil Dita memasuki pekarangan rumah.


"Yeay, akhirnya kita sampai!" ucap Rani sangat bahagia.


Harum semerbak kebun teh menguar memenuhi rongga dada Rani dan Dita. Sejuknya hawa pegunungan benar-benar membuat pikiran menjadi lebih rileks. Tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi, Dita segera keluar dari mobil dan berhambur untuk memeluk tubuh ibunya Nyonya Sekar.


Hal itu ia lakukan agar ibunya tidka terlalu curiga kepadanya. Apalagi ibunya selalu mencurigai keberadaan dirinya yang dinilai sudah tidak berkelakuan seperti seorang ningrat.


"Ibu aku pulang ...." ucap Dita dibuat dengan nada seolah manja.


"Syukurlah kamu sudah pulang, Nak," seru Nyonya Sekar dengan tesenyum.


"Iya, akhirnya aku bisa tidur dengan nyaman kali ini," ucap Dita dengan sangat bahagia.


"Memangnya kamu darimana saja, kok baru pulang?"


"Em, itu an-anu ...."


Tiba-tiba saja Rani ikut berbicara. Entah ia mendapat keberanian dari mana saat itu.


Rani yang melihat Dita sudah keluar segara menyusulnya. Rona kebahagian terpancar jelas di wajah Dita dan Rani. Namun, ketika ia baru menyadari jika ada Nyonya Sekar di sana, ia begitu ketakutan.


Nyonya Sekar sedari tadi memang berdiri di depan pintu, sehingga terlihat seolah sedang menjemput Dita. Beliau tersenyum lebar ketika melihat Dita sudah kembali dengan sehat dan selamat. Akan tetapi ia tetap merasa tidak nyaman jika teringat saat Dita tidak ada di rumah kemarin.


"Sudahlah jangan banyak berpikiran macam-macam."


Nyonya Sekar mengusap kepala Dita dengan cukup lembut, sehingga ia menyadari jika ibunya tidak marah saat itu, begitu pula dengan pemikiran Rani.


"Akhirnya kamu pulang juga, Ibu sudah sangat khawatir karena tidak mendapatkan kabarmu selama beberapa hari ini."


Dita hanya tersenyum ketika mendapati pertanyaan ibunya. Sementara itu Rani masih terlihat seperti orang yang lingung karena kemarin ia memang sengaja diberikan ilusi agar ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Dita dengan kakek.


Dari kejauhan terlihat satu mobil lagi masuk ke dalam pekarangan rumah, ternyata itu adalah Pak Handoko ayah Dita. Beliau baru saja pulang dari perjalanan dinasnya selama 1 bulan terakhir.


Pak Handoko tersenyum mendapati putri dan istrinya menyambut kedatangannya. Akan tetapi matanya memicing ketika melihat Rani juga ada di sana.


"Kenapa ada teman Dita di sini?" gumam Pak Handoko.


Meskipun begitu ia tetap berusaha tidak menampakkan ketidaksukaannya pada Rani.


"Loh, ada teman Dita rupanya?"


"Iya, Om."


"Alhamdulilah akhirnya anak Bapak kembali," ucap Ayah Dita.


Alis Dita berkerut saat mendengar ucapan ayahnya.


"Apa Bapak tau aku pergi?" ucapnya di dalam hati.


"Kamu pasti heran kenapa Bapak bisa tau kamu barusan pulang?"


Dita meringis saat ucapan ayahnya tepat sasaran.


Mengetahui putrinya malu-malu, Tuan Handoko merangkul bahu Dita dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Ayo, Ran!" ajak Dita pada Rani sahabatnya.


"Hayo, apa kamu nakal saat Bapak tidak ada di rumah?"


"Eh, enggak lah. Dita enggak bakal, kok. Kata siapa Dita nakal?"


"Ha ha ha ...."


Nyonya Sekar dan Rani menyusul di bagian belakang. Mereka berempat sudah masuk rumah. Tidak lupa untuk mempersilakan Rani beristirahat di kamar tamu. Sementara Dita diantar ayahnya ke kamar.


Melihat suami dan putrinya masuk, Nyonya Sekar berbalik badan. Ditatapnya Rani yang hendak masuk ke dalam kamar tamu.


"Nak Rani, bisa ke sini sebentar?"


"Njih Kanjeng Ibu."


Meskipun Rani sahabat Dita, akan tetapi Rani tetap tidak bisa terlalu akrab dengan Keluarga Dita. Perbedaan status sosial dan kedudukan membuat Rani minder. Lagi pula Rani berasal dari kalangan biasa.


Saat disuruh untuk mendekati Nyonya Sekar, ia hanya bisa pasrah meskipun dengan hati yang gugup dan penuh rasa tidak nyaman.


"Kenapa kamu berjalan terlalu pelan, apa kamu takut kepadaku?"


Nyonya Sekar menatap tajam ke arah Rani.


"Jangan sekali-kali kamu mengajak Dita keluar lagi, aku tidak mau Dita kenapa-napa, paham!"


Suara Nyonya Sekar memang tidak terdengar keras akan tetapi ucapannya barusan terdengar seperti sebuah ancaman yang membuat Rani terdiam di tempat.