Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 36. BOLEHKAH AKU DEKAT DENGANNYA


Maaf semalam belum revisi, wifi dah mati 🙏


.


.


Mendengar teriakan Sam, membuat Clara harus berlari ke kamar adiknya tersebut.


"Kamu kenapa, Dek. Apa demam kamu belum turun?" tanya Clara pada adiknya.


Seketika tangannya ia tempelkan pada kening Sam untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Memangnya aku demam, Kak?" tanya Sam sambil menyentuh keningnya sesaat setelah Clara menarik tangannya kembali.


"Memang kamu demam, Dek. Makanya ada baskom sama kain kompres di atas meja."


Bahkan semalaman kakak menjagamu di sini, dan satu hal lagi yang membuat kakak heran, kamu selalu menyebut nama seorang wanita.


Sam menengok ke arah meja nakas di sampingnya. Ia sampai tidak menyadari jika ada baskom dan kain kompres di sana.


"Lalu ... apa saja yang terjadi padaku, Kak?"


"Semalam aku ke kamar kamu untuk memastikan jika kamu baik-baik saja, tetapi ya begitulah kamu sering mengigau."


"Siapa nama yang aku sebut?"


Clara masih berdiam, ia memang terlihat sangat khawatir pada adiknya tersebut. Ia sangat tau kondisi adiknya seperti ini pasti karena ia baru saja digigit ular, tetapi kenapa harus menyebut nama Dita.


"Gimana, apa ada yang ingin kamu katakan pada kakak?"


Clara masih menunggu apakah Sam mau mengatakan apa yang membuatnya berteriak barusan, atau tidak. Sebagai kakak yang sejak kecil tumbuh bersama Sam, ia bisa mengetahui jika adiknya sedang menyembunyikan sesuatu, maka dari itu ia membiarkan Sam mengatakan isi hatinya.


Clara bukanlah seseorang yang suka kepo, tetapi ia lebih senang pada kejujuran. Sesekali Clara menengok jam dinding di kamar Sam, lalu kembali melihat ke arah adiknya tersebut.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Sam belum juga mengatakan sesuatu. Hingga penunjuk waktu memperlihatkan jika Clara harus segera berangkat ke Rumah Sakit. Saat Clara hendak berdiri, tangan Sam menahannya.


"Ada apa, Dek?"


"Aku ingin menikahi seseorang."


"Ha-ah, siapa? Jangan gila, deh kamu!"


"Anindita ... nama gadis itu Anindita, apakah kakak masih mengingatnya?"


Sontak Clara segera berbalik untuk mendekati adiknya untuk memastikan apa yang dikatakan adiknya barusan beneran terjadi atau hanyalah bualan semata.


"Coba katakan sekali lagi?"


"I-iya, Kak. Aku sudah memutuskan jika aku menginginkan Dita untuk menjadi istriku."


Clara tersenyum dan menyentuh bahu adiknya.


"Lakukan apapun yang kamu inginkan. Kakak akan selalu memberikan support padamu. Meskipun aku tidak ingat siapa yang kamu maksud sebagai Dita."


Setelah berbincang dengan Sam, Clara memutuskan untuk segera berangkat kerja. Sam tersenyum ketika menyadari jika kakaknya telah memberikan restu kepadanya.


"Terima kasih banyak, Kak."


"Siap, Bu Dokter!"


Clara terkekeh akibat perbuatan Sam. Pada saat yang sama ia juga meminta ijin untuk segera pergi menuju kediaman Dita.


"Kak, nanti siang aku akan pergi ke rumah Dita, kalau kakak memperbolehkan nanti malam akan aku ajak ia ke sini untuk makan malam."


"Jangan makan malam di rumah, tetapi sebaiknya ajak dia ke restauran atau cafe biar lebih romantis," bisik Clara seolah menggoda adiknya.


"Wkwkwk, siap Bu Dokter cinta."


.


.


Penunjuk waktu terus berlalu, kini jam sudah menunjukkan waktu setengah dua belas siang. Sam sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi ke rumah Dita.


"Siapa, Nduk. Kenapa teleponnya nggak kamu angkat?"


"Males, Bu. Soalnya dia Sam, teman masa kecilku yang sangat menyebalkan itu."


"Lah, bukannya dia masih belajar di luar negeri?"


"Sudah pulang dua hari yang lalu."


"Terus ...."


"Dia datang ke kampus lalu sewaktu aku dan Rani pergi ke rumah Juna, dia ikutan!"


Nyonya Sekar menaruh kembali sendoknya lalu menatap tajam ke arah Dita.


"Kapan kamu pergi menemui Juna?"


"Kemaren, kan semalam Dita baru pulang dari sana."


"Jadi kamu ke rumah Juna, bukannya pergi untuk kegiatan sekolah?"


Pertanyaan dari Nyonya Sekar membuat Dita bungkam. Lalu sejenak ia meminta maaf kepada ibunya tersebut.


"Maaf, Bu. Bukan maksud Dita untuk berbohong tetapi ada satu hal yang menguatkan tekad Dita pergi ke sana."


"Apa itu, Nduk?"


"Dita sudah memutuskan rencana pertunangan dengan Juna."


"A-apa!"


Prang ....


Gelas cangkir yang dipegang oleh Pak Handoko pecah ketika mendengar putrinya memutuskan rencana pertunangan Juna dan putrinya tersebut.


"Bagaimana bisa kamu gegabah seperti ini, Dita?'


Terlihat sekali jika Tuan Handoko marah besar saat itu, tetapi Dita tidak memperdulikannya. Lalu sesaat kemudian Tuan Handoko menampar pipi Dita.