Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 39. MISTERI


..."Cinta memang buta, bahkan tidak mempunyai mata, karena cinta memerlukan rasa dan sebuah pengorbanan."...


..."Cinta tidak pernah menyakiti, yang menyakitimu hanyalah ambisi ataupun rasa obsesi berlebih terhadap seseorang yang mungkin tidak seperti keinginanmu."...


...***...


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


Kanjeng Ibu nampak gusar karena Sam dan Pak Joko kembali dengan tangan hampa. Sebenarnya saat di perjalanan tadi, ingin hati Sam memberitahukan hal ini, tetapi Pak Joko melarangnya. Terlebih suasana hari itu terasa sedikit aneh.


Langit yang semula cerah ini telah berubah menjadi gelap gulita dalam sekejab mata. Ditambah lagi banyak hal yang terasa di luar nalar ketika harus mengejar Dita.


Salah satunya adalah ketika Sam dan Pak Joko sedang dalam perjalanan tadi, ia dan Pak Joko hampir saja ditabrak mobil pickup yang penuh dengan muatan. Beruntung Pak Joko sangat lihai dalam membaca situasi, hingga akhirnya mereka selamat.


Kalau saja yang mengemudikan Sam, mungkin saja tubuh mereka tertimbun barang muatan.


Lalu saat mereka sudah bertemu dengan sosok yang mirip Dita dan ternyata masih salah orang. Padahal ia sangat yakin jika itu Dita, apalagi Pak Joko mengatakan ciri-cirinya sama persis dengan yang dipakai wanita tadi. Tentu saja Sam merasa janggal.


"Di mana Dita sekarang, kenapa aku merasa sangat khawatir?" gumam Sam.


Sam kemudian bertanya pada Nyonya Sekar.


"Mohon maaf, Kanjeng Ibu. Apakah ada seseorang yang melihat Dita saat pergi, apa dia pergi sendirian ataukah bersama orang lain?"


"Menurut para pekerja tadi, di belakang ada salah seorang pekerja yang hilang bersamaan dengan saat Dita pergi."


"Oh, ya? Siapa dia, apa laki-laki atau perempuan?"


Sam yang tampak khawatir tidak sadar jika ia terlalu banyak bertanya. Hingga membuat Nyonya Sekar menyimpulkan sesuatu.


"Apa kau khawatir pada Dita?"


Sam menunduk, lalu mengangguk. Mungkin kekhawatirannya sudah terbaca oleh Nyonya Sekar. Akan tetapi raut wajah Nyonya Sekar terlihat lain. Ada sesuatu yang mengganjal untuk dikatakan. Lalu untuk menyamarkan hal tersebut, Nyoya Sekar bertanya hal lain pada Sam dan Pak Joko.


"Kenapa dengan pakaian kalian?" tanya Kanjeng Ibu melihat keadan Sam dan Pak Joko acak-acakan.


Terdengar helaan nafas yang berat dari beliau, mungkin apa yang sedang ia pikirkan sudah memberikan tanda untuk Sam.


"Kemarin baru saja Juna terlepas dari Dita, sekarang belum sempat berganti minggu, Sam datang menyerahkan dirinya. Apa yang harus aku lakukan dengan hal ini, bisakah aku mencegahnya?"


Melihat majikannya bingung, Pak Joko lebih memilih untuk kembali ke dapur dan membantu para pekerja yang lain. Sepertinya pembahasan setelah ini akan jauh lebih rumit dan bukan kapasitasnya untuk ikut campur.


"Sebaiknya saya permisi ke belakang, Kanjeng Ibu. Ada sesuatu hal yang ingin saya pastikan semuanya."


Kening Nyonya Sekar berkerut melihat hal tersebut. Akan tetapi ia mengijinkan Pak Joko pergi.


"Pergilah, Pak. Lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik, terima kasih Kanjeng Ibu, saya permisi, mari Den Bagus."


Setelah berpamitan kini tinggallah Sam dan Nyonya Sekar.


"Ada yang ingin kau katakan, Sam?"


"Maafkan saya, Kanjeng Ibu. Saya tidak berhasil menemukan Dita."


"Itu bukan salah kamu, Ibu yakin Dita hanya iseng keluar rumah. Dita selalu ijin jika ingin pergi, kamu tenang saja. Istirahatlah di kamar tamu, biarkan kami yang mencari Dita."


Cetaar ... duaarrrr ....


Belum sempat Sam melangkah ke kamar, ternyata suara petir terdengar begitu keras. Bahkan sampai membuat dinding kayu rumah Joglo milik Keluarga Handoko bergetar.


"Saya permisi dulu, Kanjeng Ibu."


"Silakan Sam."


Sementara Sam diperbolehkan untuk membersihkan diri, Nyonya Sekar menatap ke depan hamparan perkebunan teh yang sudah disirami air hujan. Semakin lama hujannya terasa semakin lebat, bahkan jarak pandang mereka berkurang banyak.


Sedangkan di gubuk tempat Dita di sekap, Rangga sudah terkapar dengan beberapa luka cakar di tubuhnya. Sementara itu Dita masih dalam kondisi pingsan. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Dita belum juga siuman, sementara Rangga dalam keadaan seperti itu?