Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 70. SELAMAT


Sekuat apapun manusia jika ia tidak pernah melintas ke dalam dunia lain, maka kekuatannya akan cepat melemah. Berbeda dengan manusia yang sudah keluar masuk dunia manusia dan dunia jin.


Banyak tenaga dan kekuatan fisik yang mereka habiskan untuk bertarung dengan bangsa Jin. Maka dari itu, tidak banyak manusia yang berhasil mendalami ilmu dari dunia lain. Hanya manusia yang memiliki keteguhan hati dan iman kuat, yang bisa berhasil.


Banyak pula yang tidak kuat dengan ilmu yang baru, terlebih saat ia menuntut ilmu ia juga tidak diimbangi dengan keteguhan hati, maka sudah bisa dipastikan bahwa ia akan tersesat.


"Maafkan aku, Cu. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini, setelah ini maka kamu harus terbiasa dengan kehidupan barumu," ucap kakek itu sebelum melangkah pergi.


Setelah memastikan Dita baik-baik saja, kakek itu sempat melintas ke rumah Danu untuk memeriksa keadaannya. Melihat kondisi Danu, kakek tersebut menyalurkan kekuatan tenaga dalam kepadanya.


"Untukmu, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali. Ilmu yang sudah kau miliki harus disempurnakan agar kau tidak akan tersesat setelah ini. Maaf, aku pergi dulu, Nak."


Slash ... sesaat kemudian kakek tersebut sudah menghilang.


Kondisi Danu saat ini masih terbaring lemah. Keadaan tubuhnya lumayan mengenaskan bagi siapapun yang melihatnya. Banyak luka lebam yang terdapat di tubuh Danu. Begitu pula dengan luka di tubuh Nenek Romlah.


Namun semua akan sembuh seiring berjalannya waktu.


.


.


Kekhawatiran terlihat jelas di dalam wajah Nyonya Sekar. Bagaimana pun keadaan seorang ibu pasti akan merasa khawatir jika putrinya belum kembali atau tidak berada di sisinya. Terlebih Dita mempunyai kelebihan khusus.


"Bagaimana keadaan Dita saat ini, kenapa ia sama sekali belum memberikan kabar kepadaku."


Nyonya Sekar masih mondar-mandir di depan kamarnya. Lalu sebentar-sebentar ia pergi ke depan untuk memastikan apakah Dita sudah kembali atau belum.


"Bagaimana jika Mas Handoko yang lebih dahulu sampai daripada Dita, aku harus mengatakan apa?"


Saat ini, beliau sudah berdiri di depan pintu utama. Pandangannya masih tertuju pada halaman rumah, beliau ingin tahu apakah Dita sudah sampai apa belum. Akan tetapi keadaannya sama saja. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Dita di sana.


"Semoga kamu baik-baik saja Nak, Aamiin." Doa Nyonya Sekar di ujung pengharapannya.


.


.


Akhirnya Danu, Dita, Rani dan Nenek Romlah selamat. Meskipun keadaan Nenek Romlah dan Danu sangat kritis, sementara Dita baik-baik saja.


Mereka juga sudah berada di tempat yang semula. Rani bahkan baru saja bangun dari pingsan. Saat itu ia hanya melihat Dita yang masih tertidur di atas kursi kemudi.


"Apa Dita kecapekan, ya? Sampai tertidur di sini?"


Banyak pertanyaan yang menghinggapi Dita. Sementara itu, tidak ada pergerakan darinya.


"Mungkin Dita baru saja tidur, biarlah dia beristirahat terlebih dahulu kalau begitu."


Dita memang masih terlelap, meskipun begitu ia terlihat sangat lelah di dalam pandangan Dita. Namun, Rani yang keburu lapar membuat ia harus segera membangunkan Dita.


Rani yang tidak mengetahui hal apa saja yang sudah terjadi, segera menggoyangkan bahu Dita agar Dita terbangun. Benar saja sesaat kemudian Dita akhirnya terbangun.


Dita terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya terasa sangat letih sekali. Ingin rasanya ia pergi spa, tetapi keadaannya saat ini mereka sedang berada di tengah hutan.


Lalu Rani mulai mengajaknya berbicara tanpa rasa bersalah.


"Kamu ngapain tidur disini, sudah pagi Dita. Sebaiknya kita segera pulang deh. Semalam 'kan sudah ketemu sama Pak Kyai," ucap Rani kepada Dita.


"Ha, maksud kamu apa?"


"Wah, kamu belum sadar ya, jangan-jangan kamu masih mager?'


"Ya, sudah kita pulang, nggak usah lama-lama berada di sini. Lagi pula perutku sudah keroncongan."


"Nah, itu tahu. Ya sudah kita berangkat!" seru Dita dan Rani sangat bersemangat.


Badan yang letih tidak ia hiraukan sehingga saat dalam perjalanan pulang hampir saja Dita tertabrak oleh pengendara lain. Mungkin karena hilang kesadarannya sepersekian detik dan Dita dalam kondisi sedang mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Astaga Dita, truk!" teriak Rani dari tempat duduknya.


Dita menginjak rem mobilnya hingga membuat ban mobilnya berdecit tajam. Hampir saja mobil yang mereka kendarai tertabrak. Beruntung Dita dan Rani baik-baik saja.


"Kamu tuh, ya hati-hati dikit, kenapa sih? Hampir saja tadi tabrakan!"


"Iya, iya, maaf."


.


.


Sementara itu Danu mengerjapkan kedua matanya, agar penglihatannya terlihat jelas. Di rumah Nenek Romlah, hanya ada dirinya dan nenek.


"Kenapa sepi sekali?" gumamnya.


Danu mengedarkan pandangannya, mencoba melihat keadaan sekitar. Namun, apa yang ia cari sama sekali belum ia ketemukan.


"Di mana, Nenek?"


"Kenapa beliau sama sekali belum kelihatan?"


Danu mencoba bangun dari tempat tidurnya lalu menoleh, terlihat dari tempat tidurnya Nenek Romlah terbaring lemah di atas lantai.


"Astaga, Nenek!"


Melihat neneknya yang terbaring dengan tubuh yang banyak luka lebam, membuat Danu segera menghampiri neneknya.


"Ada apa, kenapa tubuh nenek seperti ini?" ucap Danu terlihat panik.


Sudut mulut nenek Romlah masih terlihat sisa da-rah yang sudah mengering. Lalu Danu mengucapkan beberapa doa yang ia hembuskan di ubun-ubun kepala Nenek Romlah. Berharap jika ia bisa segera siuman.


"Ada apa dengan nenek, kenapa tubuh nenek sangat dingin?"


"Sebaiknya aku segera membawa nenek ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur."


Mau tidak mau ia segera berlari untuk menolong neneknya. Tidak begitu lama, mereka sudah sampai di kamar nenek. Buru-buru ia segera memijat tubuh neneknya dan mengompres dengan air hangat. Tidak lupa membalurkan minyak kayu putih pada tubuh neneknya.


Sehingga tidak butuh waktu lama, beberapa saat kemudian Nenek Romlah akhirnya terbangun. Kepanikan Danu sedikit berkurang ketika akhirnya menyadari jika neneknya siuman.


"Akhirnya aku bisa melihat senyumanmu juga, Cu."


Setelah mengatakan hal itu, sesaat kemudian nenek Romlah kembali pingsan. Tentu saja hal itu membuat Danu panik dan segera membawa neneknya masuk ke dalam kamar.


Ia belum menyadari jika tubuhnya juga dalam keadaan yang sama dengan nenek Romlah. Hanya saja ilmu yang sudah ia miliki, kini membuatnya seolah tidak apa-apa.


Jika itu dialami oleh orang biasa sudah pasti orang tersebut dalam keadaan kritis. Ternyata ilmu kanuragan Danu memang belum setinggi nenek Romlah, akan tetapi ia selalu mengandalkan doa dan bermunajat kepada Allah meminta bantuannya agar apapun yang ia lakukan dapat berhasil. Buktinya saat ini ia berhasil bangun dari tidur panjangnya.


"Alhamdulilah akhirnya nenek siuman."


Danu menengadahkan wajahnya ke atas, "Alhamdulilah, terima kasih, Ya Allah."