Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 72. RENCANA BARU


"Bagaimana keadaanmu Dita?"


"Apakah saat ini kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Sekar pada putrinya itu.


"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?"


"Wajahmu terlihat lain, Sayang. Apa karena Rani sudah pergi tanpa berpamitan kepadamu?"


Dita yang tidak tahu jika Rani sudah pergi sedikit kecewa karena hal itu. Entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Akan tetapi Dita tidak mau membuat ibunya kecewa.


"Ayo Bu, biar Bapak tidak kelamaan menunggu," ucap Dita untuk mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya Dita ingin meminta maaf pada Rani dan Danu. Hanya saja ia bingung harus menggunakan alasan apa agar bisa keluar.


Benar saja, Tuan Handoko sudah menunggu kedatangan Dita dan istrinya. Senyumnya mengembang ketika melihat Dita semakin terlihat cantik seiring bertambahnya usia Dita.


"Anak Bapak sudah sampai, sini duduk, Nak."


Tuan Handoko memang menyayangi Dita sama seperti ia menyayangi dirinya. Dita adalah anak yang paling ia banggakan dan diharapkan sejak dulu. Jadi sejak kelahiran Dita, Tuan Handoko amat sangat bahagia.


"Ayo makan yang banyak, biar sehat."


Tuan Handoko mengambilkan Dita nasi dan lauk pauknya. Lalu saat beliau hendak menyuapinya, Dita memegang tangan ayahnya.


"Dita bisa makan sendiri, Pak. Bapak kan juga butuh makan. Ayo makan bersama."


Nyonya Sekar tersenyum melihat putri dan suaminya kembali akur seperti biasanya.


"Semoga kebahagiaan ini selalu ada untuk selamanya, Aamiin," doa Dita di dalam hati.


Makan malam berlangsung secara lancar tanpa hambatan. Semuanya terlihat bahagia, hal itu terlihat dari pancaran kebahagiaan yang terlihat di wajah seluruh anggota keluarganya.


"Oh, ya. Bapak lupa ada sesuatu buat kamu, Nak."


"Apa itu, Pak?" tanya Dita sambil menoleh memandang wajah Tuan Handoko.


Ternyata Tuan Handoko merogoh sesuatu dari saku di celananya.


"Ini titipan dari anak teman bisnis Bapak untuk kamu."


Tuan Handoko menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan hiasan sebuah pita berwarna merah. Dita yang melihat hal itu gemetar. Tiba-tiba saja detak jantungnya berdetak tidak karuan. Ingin rasanya Dita lari dari tempat itu dan pergi menjauh. Firasat buruk sudah memenuhi pikiran Dita saat ini.


"Apakah ini sebuah tanda perjodohan?" Entah keberanian dari mana yang didapatkan Dita saat ini sehingga ia langsung menanyakan hal ini pada ayahnya.


Tuan Handoko tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari putrinya. Ia langsung mengatakan hal itu secara gamblang.


"Kamu pintar sekali, Nak. Katanya dia sudah sejak lama menginginkan dirimu untuk bersanding dengannya," ucapnya dengan tersenyum.


"Ha-ah? Apa ini belum cukup?" ucap Dita dengan gemetar.


"Apa ini tidak keterlaluan?"


Nyonya Sekar mencoba membantu Dita.


"Apakah Bapak yakin ingin menikahkan Dita untuk yang ketiga kalinya?"


"Kenapa tidak?"


"Pak, apa kamu tidak ingat jika putri kita ....


"Sudah menjanda dua kali," ucap Dita mencoba menyadarkan bapaknya saat ini.


"Memangnya kenapa? Lagi pula ia tidak mempersalahkan statusmu."


Dita menunduk, salah tangannya me-re-mas ujung kemeja yang ia pakai. Meskipun begitu tidak mengurangi rasa kecewa di dalam hati Dita.


"Memangnya mau dijodohkan dengan siapa lagi, Pak. Apakah harus secepat ini?"


"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dita untuk mendapatkan nasib kelam di dalam hidupnya."


"Dita akan dijodohkan dengan anak saudagar kaya dari Kampung Salak di gunung sebelah."


"Namanya Pak Kamal, sementara itu putranya bernama Bisma."


"Ia juga lulusan seni rupa, sama seperti Dita. Bisma juga sangat menyukai hal-hal yang berbau seni. Kamu pasti akan cepat cocok dengannya."


"Jika hal itu memang terbaik untuk Dita, maka lakukanlah. Dita ikhlas, Pak. Asalkan Bapak dan Ibu bahagia."


Nyonya Sekar dan Tuan Handoko saling menatap satu sama lain, hanya bisa berharap jika setelah ini semuanya akan baik-baik saja.


"Dita ... Ibu dan Bapak tidak mungkin kuat melihat kau terluka. Sehingga kami memutuskan jika kalian mau menunda acara pernikahan, silakan!"


Nyonya Sekar menjeda ucapannya sambil melihat respon dari putrinya.


"Akan tetapi sebentar lagi Bisma akan datang kemari untuk melihat dirimu secara langsung, jadi Ibu harap kamu mau mengikuti semua proses agar pernikahan kalian langgeng."


"Semoga saja langgeng. Aamiin."


Dita menundukkan pandangannya, sementara itu raut wajah Dita yang semula banyak senyuman kini berganti wajah sendu.


"Nak, bukan maksud ibu menyakitimu, tetapi ibu tidak bisa membiarkan kamu semakin terluka," ucap Nyonya Sekar di dalam hati.


"Dita, jangan sekali-kali kau menampakkan wajah tidak bahagia saat bertemu dengan Keluarga Bisma. Karena bagaimana pun mereka sangat berjasa untuk perusahaan kita."


"Sudah aku duga kalau ini adalah pernikahan bisnis," batin Dita.