Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 75. CINTA TERLARANG


Kisah cinta Dita dengan Bisma tidak seindah bayangan, karena takdir Dita sudah tertulis sejak Dita tumbuh sebagai wanita dewasa. Garis takdir itu terus berjalan, seolah sedang menjalankan perannya di dalam kehidupan Dita.


Sesuatu yang sudah tertulis sebagai takdir manusia, maka semua itu akan tetap berjalan hingga menunggu waktunya tiba. Dita tidak bisa lari dari jalan takdirnya. Sementara itu ingatan Danu tentang Dita semakin terlihat jelas. Saat ini Danu ingin mencari tau latar belakang Dita, agar rasa penasarannya bisa terobati. Setidaknya cinta masa kecilnya tidak akan hilang.


...⚜⚜⚜...


...Keluarga Handoko...


"Bapak yakin pernikahan Dita kali ini akan berjalan langgeng."


Tuan Handoko begitu yakin dengan pilihannya kali ini.


"Bibit, bebet, bobotnya sudah sangat jelas, Bu. Apa yang diragukan lagi darinya?"


"Ta-tapi, Pak?"


"Sudahlah, Bu. Semua sudah menjadi paket lengkap jika Bisma bisa menjadi menantu kita."


"Hilangkanlah keraguan yang bersarang di hatimu."


Bisma di dalam pandangan Tuan Handoko merupakan lelaki idaman dan mampu membimbig Dita dan menjadikannya keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Aamiin. Oleh karena itu ia pun menyegerakan acara pernikahan Dita dan Bisma.


Sementara itu keraguan masih tersimpan di dalam benak Nyonya Sekar.


"Semoga apa yang menjadi harapan Bapak segera terwujud, Aamiin."


Saat ini kedua orang tuanya sudah memutuskan hari pernikahan Dita yaitu satu purnama lagi, Dita dan Bisma akan bersanding di pelaminan. Pihak Keluarga Bisma sangat setuju dengan rencana tersebut.


Bahkan meskipun terkesan mendadak tetapi pernikahan Dita dan Bisma akan digelar di Bali, sementara itu rencana bulan madu keduanya akan dilangsungkan di Raja Empat.


Sekali lagi Dita akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki pilihan ayahnya. Hanya demi tahta dan kedudukan, harga dirinya seolah tidak pernah berharga. Bahkan suara hati kecilnya mungkin tidak di dengar lagi oleh kedua orangtuanya. Kasih sayang yang dirasakan Dita sejak kecil kini sirna sudah.


Menjalani takdir tidak semudah apa yang sudah direncakan. Banyak tikungan dan tanjakan yang menanti. Terkadang jatuh terpeleset ataupun hampir masuk jurang harus dilalui demi sebuah tujuan kebahagiaan.


..._Rumah Nenek Romlah_...


"Danu diminum teh hangatnya, cuaca akhir-akhir ini sangat susah diprediksi, biar nggak gampang sakit, nenek sudah buatkan teh jahe."


"Iya, nenekku tersayang. Pasti Danu minum, kok. Oh, ya Nek, kenapa ada iringan orang membawa material dekorasi?" tanya Danu penasaran.


"Oalah, itu anaknya Tuan Handoko akan menikah kembali."


"Maksudnya menikah kembali apa ya, Nek?"


"Ya menikah lagi, Cu. Dia sudah menjadi janda dua kali, setiap menikah pasti suaminya akan meninggal."


Danu bergidik membayangkan hidup wanita itu.


"Emangnya kenapa bisa sampai meninggal, Nek?"


Nenek Romlah mengedikkan bahunya. Ia tidak mau membahas garis hidup orang, karena itu bukan bagian dari tugasnya. Akan tetapi rupanya rasa penasaran Danu membuat Nenek Romlah harus memperingatkan cucunya agar ia tidak terlalu banyak kepo.


"Ya, aneh aja, Nek. Masa iya setiap menikah suaminya pasti meninggal, apa dia wanita kutukan?"


"Hust, jaga bicaramu Danu. Nggak boleh bicarakan orang lain terlalu banyak."


"Iya-iya, Nek."


Pembicaraan mereka terhenti saat ada orang lewat yang membeli bensin eceran.


"Mbah, beli bensin satu!" seru pembeli itu.


"Biar aku aja, Nek."


"Ya, dah."


Melihat Danu yang melayani pembeli itu, Nenek Romlah kemudian masuk rumah. Sementara itu Danu yang masih penasaran segera bertanya pada pembeli itu.


"Maaf, Pak. Numpang tanya?"


"Iya, Mas. Monggo, apa yang bisa saya bantu?"


"Bukan apa-apa, kok. Cuma tanya aja emangnya siapa yang mau menikah, kok ada pickup membawa peralatan dekorasi lewat sini?"


"Oalah itu anaknya Tuan Handoko, Mas. Orangnya cantik tapi sayang sepertinya terkena kutukan, soalnya setiap menikah, suaminya pasti meninggal."


"Emang sudah berapa kali menikahnya?"


"Baru dua kali sih, Mas. Akan tetapi rasanya serem, padahal Mbak Dita cantik sekali, orangnya juga baik dan tutur katanya sangat santun. Nggak rela banget jika ia terus menjadi janda."


"Oh, begitu?"


"Iya, Mas. Ya sudah, aku permisi dulu."


"Terima kasih, ya."


"Sama-sama."


Tidak berapa lama kemudian pembeli itu sudah pergi, lalu Nenek Romlah sudah keluar dari dalam rumah.


"Jangan banyak cari tau tentang informasi Keluarga Handoko ya, Cu."


"Memangnya kenapa, Nek?"


"Nggak baik banyak berhubungan dengan keluarga itu."


.


.


BERSAMBUNG