
Danu segera pergi berlari ketika melihat ada sebuah hutan bambu di hadapannya. Semakin ia memasuki ke dalam hutan semakin Danu merasa tersesat.
Ia mengejar seorang wanita cantik dengan rambut hitamnya yang panjang tergerai. Sesekali wanita itu menoleh tetapi Danu tidak bisa memastikan wajahnya. Hanya siluet dari wajahnya yang terlihat manis.
"Siapa wanita ini, kenapa ia sangat mirip dengan Dita?"
Semakin rasa itu bergejolak di dalam hati Danu, maka semakin bertumbuh rasa itu di dalam hatinya.
"Hei wanita cantik, siapa kamu, kenapa aku seolah mengenal dirimu?"
Tangan Danu sama sekali tidak bisa menggapai bahu wanita itu meski jarak di antara keduanya sudah dekat. Samar-samar Danu bisa mendengar yang memanggil namanya.
"Jika aku bisa mencintai kamu, maka aku pasti akan lebih bahagia saat ini."
"Wanita cantik, berhentilah!"
"Danu ... Danu ... Kembalilah ...."
Danu menoleh tetapi sama sekali tidak bisa melihat siapapun di sana. Maka dari itu Danu membiarkannya dan tetap melangkah pergi.
Sementara itu Kakek Surya yang sedang bersemedi hanya bisa merapalkan doa-doa agar Danu segera kembali.
"Kembalilah cucuku, ini kakek."
Dita membelalakan kedua matanya. Ia baru saja bermimpi aneh. Akan tetapi ia tidak bisa menafsirkan arti dari mimpi yang ia dapatkan barusan.
"Aku harus memanggil Mbok Nem saat ini. Tidak bisa dibiarkan, aku takut ini adalah sebuah pertanda buruk."
Dita yang gusar karena mimpinya barusan segera keluar dari kamar. Tujuan utamanya adalah mendapatkan jawaban darinya.
Sesampainya Dita di depan kamar Mbok Nem ia mengetuk pintunya secara perlahan.
Kebetulan Mbok Nem justru sedang sakit. Seberapa banyak Dita memanggilnya ia tidak akan keluar.
"Kenapa Mbok Nem tidak membuka pintu? Apakah ia sudah tertidur saat ini?"
Pikiran Dita semakin cemas saat ini, tetapi ia terlalu gegabah hingga membuat langsung pergi ke kamar Mbok Nem. Tidak mendapatkan apa yang ia inginkan Dita segera kembali ke kamarnya.
Di dalam perjalanannya Dita merasakan bulu kuduknya merinding. Ia tidak berani menoleh ke arah gazebo karena sejak tadi ada bayangan hitam yang menempel di sana. Seolah memperhatikan setiap pergerakan Dita.
"Bagaimana jika makhluk itu menyerangku lagi? Aku harus bergegas kembali ke kamar."
Saat tangannya menyentuh pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahu Dita. Sontak saja Dita menoleh dengan segera.
Dilihatnya sosok mengerikan itu sedang mendekatkan wajahnya ke arah Dita. Rambutnya acak-acakan dan bola matanya hampir saja melompat keluar. Baunya yang busuk dsangat membuat Dita mual apalagi banyak belatung yang terjatuh dari kepalanya.
"Tolong aku, Dita. Toloooong!"
Badan Dita bergetar hebat, ia tidak bisa menghalau hantu yang berada di belakangnya itu dan seketika Dita pun pingsan. Belatung yang tadi terjatuh terus menghujani wajah Dita.
Sementara hantu itu tersenyum. Sesaat sebelum ia menghilang ia sempat berkata.
"Kau tidak akan bisa lari dariku sebelum kau menyelamatkan aku, Dita."
Keesokan harinya, Mbok Nem berniat melihat situasi di kamar Dita, akan tetapi saat ia melihat junjungannya tergeletak di depan pintu kamarnya membuat Mbok Nem mempunyai firasat buruk.
"Apakah ada hantu lagi yang datang meminta bantuan Den Ayu? Pasti Den Ayu sangat ketakutan ketika melihatnya."
Mbok Nem bisa mengetahui hal itu saat ia memegang tangan Dita. Semua tergambar jelas ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Dita.
Lalu siapa lagi hantu itu, kenapa menggangu Dita?