
Sosok misterius itu masih mengikuti Danu. Ia sama sekali tidak pernah meninggalkan Danu atau menjauh darinya. Entah mengapa ada dua sosok yang selalu mengikuti Danu satu diantaranya berniat jahat dan satu diantaranya adalah leluhur Danu.
Namun, sampai saat ini keduanya belum menampakkan diri. Ada sesuatu hal yang membuat Danu bisa merasakan kehadiran mereka, yaitu adalah ketika ia terdiam dan merenung. Jika fikirannya kosong maka dengan cepat salah satu dari mereka bisa berkomunikasi dengan Danu.
Leluhur Danu adalah orang yang sakti. Ia sengaja menjadi sosok pelindung untuk cucunya itu karena Danu mempunyai tubuh yang sesuai untuk menurunkan ilmu tenaga dalamnya.
Sebenarnya ia sudah melindungi Danu sejak dulu, maka dari itu Danu tidak pernah bisa terjangkau oleh makhluk yang sering mengganggu Dita. Meskipun Danu berdekatan dengannya atau bahkan mencintai Dita.
Namun, keluarga Danu tidak ada yang mengetahui jika putra mereka adalah seorang yang istimewa. Maka dari itu mereka tetap memperlakukan Danu secara sama dan mungkin Danu justru merasa jika dirinya diperlakukan sedikit berbeda karena ia pernah tinggal sendirian di sebuah desa terpencil bersama neneknya.
"Beruntung aku pernah tinggal dengan nenek, setidaknya pernah mengenal kamu, Dita," ucap Danu pada dirinya sendiri.
Meskipun begitu Danu bisa merasakan jika perbedaan di dalam dirinya itu adalah sebuah keistimewaan. Oleh karena itu ia merahasiakan keistimewaannya itu dari kedua orang tuanya. Selama ini, untungnya mereka tidak mencurigai Danu.
Hingga pada suatu waktu leluhur Danu datang dan mendekati dirinya untuk membicarakan sesuatu hal. Sebuah kepulan asap berwarna putih dan pekat mendekati Danu. Ia yang sudah biasa mendatangi Danu tidak membuat cucunya itu terkejut.
"Kakek Buyut, apakah kamu datang?" sapa Danu pada leluhurnya itu.
"Iya, ini aku, Cu."
"Syukurlah, jika kakek buyut masih mau menemui aku di sini."
Sang kakek tersenyum ke arah Danu.
"Apa yang kau bicarakan, semua ini adalah kehendak yang kuasa. Kakek hanya mengemban amanah darinya."
"Ada apa, Kek. Kenapa sepertinya Kakek ada sesuatu yang disampaikan kepadaku?"
Leluhur Danu mulai mendekatinya.
"Ada yang harus aku sampaikan kepadamu, Cu. Aku harap kamu bisa menerima hal ini."
"Baiklah, katakan saja padaku, Kek. Aku pasti sangat berterima kasih jika kakek mempercayaiku."
"Dengarkan perkataan dariku, aku sungguh-sungguh mengharapkan semua ini bisa kamu emban dengan sebaik mungkin. Hanya saja ada harga yang harus dibayar untuk ini."
"Baik, Kek."
"Danu kamu adalah penerusku, maka dari itu mulai besok kamu akan melakukan pelatihan bersamaku di sebuah Gunung Arjuna. Kamu harus berpuasa selama waktu yang aku tentukan."
"Selain itu, apakah ada syarat lain, Kek?"
Leluhur Danu menggeleng, "Untuk sementara waktu hanya itu yang harus kamu lakukan. Aku ingin memberikan pelatihan dasar untukmu. Maka dari itu percayalah padaku, maka aku akan membuatmu kuat dan kau bisa melindungi orang-orang yang kamu cintai."
Seketika Danu mendongak, "Apakah Kakek tahu jika aku mencintai seorang wanita yang spesial?"
"Tentu, semua itu bahkan sudah tertulis di dalam takdirmu, maka ikhlaskanlah semua hal yang akan terjadi kepadamu setelah ini. Karena apa yang akan kamu dapat setelahnya jauh lebih besar dari pengorbananmu."
"Aamiin, terima kasih, Kek. Oh, ya ada satu hal lagi yang mengganjalku. Bolehkah aku kembali bertanya padamu, Kek?"
"Tentu saja boleh, kenapa tidak, yang terpenting kamu mengikuti semua arahan dariku."
"Aapakah aku perlu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk pelatihan ini?"
"Tidak perlu, biar mereka yang menjadi urusanku."
Leluhur Danu menatapnya lekat-lekat.
Danu baru teringat akan ucapan kakeknya tadi, memang benar jika seharusnya ia tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Bagaimana pun kehidupannya telah menjadi tanggung jawab untuk dirinya.
"Bahkan ketika nanti kamu sudah berhasil mendapatkan pelatihan dariku, kamu juga jangan pernah menceritakan hal ini pada mereka."
"Baik, Kek."
"Kamu hanya perlu mengikuti semua perkataanku dan mengamalkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu untuk yang lainnya serahkan saja padaku."
"Baiklah, aku yang akan mengikutimu, Kek."
Orang tua berpakaian Jawa itu tersenyum, lalu sesaat kemudian melesat pergi.
"Semoga apa yang aku lakukan ini tidak salah, Aamiin."
Keesokan harinya sesuai janji Danu pada kakek leluhurnya, ia memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang ke Gunung Arjuna.
Danu tidak menyangka jika perjalanan mereka ssangat terjal dan penuh gangguan dari makhluk halus. Tidak jarang di antara mereka sering menjelma menjadi manusia dan mencoba untuk meminta tolong pada Danu.
"Tolong aku, Nak. Kakiku terluka, apakah kau mau membantuku kembali ke rumah?"
Tiba-tiba saja terdengar sebuah bisikan yang menyerupai suara kakeknya Danu.
"Jangan perdulikan dia, Cu. Sebaiknya kamu segera mengikuti kemana aku membawamu!"
"Baik, Kek."
Danu segera mempecepat langkahnya, kali ini ia menulikan pendengarannya agar cepat sampai ke tujuan. Tidak perduli berapa banyak panggilan yang menyebut namanya, Danu tidak lagi menghiraukannya.
Rupanya itu tadi adalah ujian ketika ia akan mendapatkan sebuah akses untuk masuk ke dalam kawasan Gunung Arjuna. Melihat cucunya sudah datang, kini ia mulai mengulas senyum.
"Akhirnya aku bisa mewariskan ilmu kanuragan ini padamu, lalu setelah itu kamu akan menjalankan semua amanat dari para leluhurmu."
Danu yang melihat leluhurnya seketika tersenyum, ia juga merasakan hal yang sama dengan kakeknya. Namun, di balik semua ini tujuan utama Danu hanyalah untuk mendapatkan cinta dari Anindita.
"Apapun yang melatarbelakangi niatmu, aku berharap kamu menjadi pemuda yang amanah Aamin."
Dengan nafas terengah-engah, Danu bisa sampai di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Kanan kiri gubuk tersebut banyak sekali tanaman ketela dan sayuran. Tidak jauh dari itu terdapat aliran sungai yang jernih dan tidak beriak. Sepertinya tidak terlalu dalam.
Dani menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menyapa leluhurnya itu dengan sopan. Salam Danu diterima dengan baik oleh leluhurnya.
Semilir angin yang sangat sejuk membuat Danu seolah melupakan kehadiran Dita. Tubuhnya merasa rileks ketika berada di tempat itu.
"Apakah kamu menyukai tempat ini?"
"Suka sekali Kek, tempat ini sangat bagus. Pantas saja Kakek sangat betah tinggal di sini. Namun, suasananya terlalu sepi kalau untuk anak muda pasti tidak akan betah tinggal di sini," ucapnya sambil terkekeh.
"Berarti kamu juga tidak betah. Kamu kan juga masih muda."
"Itu lain lagi kek karena aku mempunyai niat untuk berguru kepada kakek."
"Pintar merayu belajar dari mana?"
"Ya dari bapak dan ibu dong, Kek, 'kan saya adalah putranya."
"Ya sudah, ayo masuk!"