Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 58. AKHIRNYA SAMPAI


Dita terkejut ketika melihat pemuda yang gagah datang ke rumahnya tersebut. Sepertinya ia bukan berasal dari daerah tempat tinggalnya. Ia bisa melihat hal itu karena baju dan style pakaian Danu berbeda.


"Ma-maaf, kamu siapa?"


Danu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya ke arah Dita. Ia meraih tangan Dita agar bisa berdiri tegak.


"Danuarta, salam kenal."


"Salam kenal, namaku Anindita. Biasa dipanggil Dita."


"Senang berkenalan denganmu."


"Sama-sama."


Danu terlihat berbeda dari lelaki kebanyakan. Badannya tinggi atletis, berhidung mancung dengan seliuet lelaki yang nyaris sempurna. Alis yang tebal dan rahang yang kokoh semakin membuat siapa saja akan terpesona oleh kharisma Danu.


Begitu pula dengan Danu yang dalam satu kali pandang ia sangat menyukai Dita. Sosok Dita sesempurna wanita impian Danu. Hanya saja Danu sosok pemalu, sehingga setelah bertatap muka dengan Dita, ia akan menunduk atau membuang muka.


"Ba-bagaimana keadaan ibu saya, Pak Mantri?"


"Alhamdulilah semuanya baik-baik saja, hanya saja gigitan ular pada lengan pekerja Anda masih lama sembuhnya."


"Tapi selamat kan, dok?"


"Alhamdulilah selamat semua."


"Syukurlah kalau begitu."


"Kalau tidak ada yang dipertanyakan maka saya permisi dulu."


"Iya, Pak. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih."


Danu akhirnya mengantar Pak Mantri sampai pintu gerbang. Lalu sesudahnya ia akan pergi berpamitan.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini daripada bisa menimbulkan berita yang tidak-tidak," gumam Danu.


Meskipun rasa ketertarikan pada Dita sangatlah besar, tetapi Danu adalah seseorang yang sangat menghormati etika dan adat istiadat. Danu bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil tas serta berpamitan pada Dita.


"Dit, Dita ...." panggil Danu.


"Aku ijin pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi."


"Kenapa tidak menginap di sini? Katamu kamu masih harus mencari rumah nenekmu?"


"Gak apa-apa, biar aku tidur di musholla saja. Esok pagi biar aku lanjutkan untuk mencari rumah beliau."


"Ya udah kalau begitu, hati-hati."


Danu mengangguk lalu bergegas pergi. Tidak lama kemudian terdengar suara gemuruh. Ternyata langit tiba-tiba saja mendung. Danu yang menyadari hal itu segera berlari menuju pos ronda terdekat. Tidak lupa ia mencari penutup kepala karena belum sempat ia berlari hujan sudah turun dengan lebatnya.


"Kenapa Danu tidak mau menginap di sini? Apakah rumah ini benar-benar angker sesuai ucapan para warga?"


Dita masih ingat betul sepulang dari Rumah Sakit, ia mendengar kasak kusuk yang beredar di kalangan warga yang mengatakan rumah yang mereka tempati kali ini angker, oleh karena itu dijual murah oleh pemiliknya. Kalau bukan karena kematian Wisnu, sudah pasti keluarganya tidak akan mengasingkan diri ke kota ini.


Dita memijat pelipisnya sebentar, saat hendak masuk rumah, pintu gerbangnya diketuk. Ia mendengar suara sahabatnya Rani.


"Kok, berasa dengar suara Rani, ya? Masa dia ke sini jam segini?" gumam Dita.


Dita menghiraukan panggilan itu, tetapi suara Rani kembali terdengar, oleh karena itu ia terpaksa ke gerbang depan dengan membawa payung. Tidak disangka yang berada di hadapannya kali ini benar-benar sahabatnya, Rani.


"Hallo my bestie, lama amat bukain pintu?" ucap Rani sambil menggigil.


Bahkan tukang ojeknya sama menggigilnya dengan Rani.


"Nungguin ongkos, Kang?"


Tukang ojek itu mengangguk, beruntung Dita masih mengantongi uang selembar seratus ribuan. Dengan segera ia memberikan pada tukang ojek itu.


"Makasih ya, Kang. Kembaliannya ambil aja!"


"Makasih banyak, Non. Saya permisi."


"Sama-sama, hati-hati, Kang."


Lalu sesudahnya tukang ojek tersebut segera pergi meninggalkan kediaman Dita. Suara guntur yang menggelegar membuat suasana rumah Dita terlihat semakin angker. Namun, Rani tetap menguatkan hatinya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa, tapi perasaan gue nggak enak, asem!" gerutu Rani di dalam hati.