
pagi hari kanita pergi ke rumah Sisil di karenakan ini hari libur dan kanita pun memilih pergi ke rumah Sisil untuk menengok kakak nya...
"kakak" teriak kanita saat melihat Sisil menuruni tangga
"Hay sayang" jawab Sisil berjalan menuju kanita
"aku sangat merindukanmu ibu Ndut ku" ucap kanita memeluk Sisil
"sialan ibu Ndut" balas Sisil dengan kesal
"haha kau bawa apa kak?" tanya kanita berniat menggoda sang kakak
"apa aku tidak membawa apapun" jawab Sisil
"cih kau ini sampai tidak sadar bahwa kau sedang menggendong drumband" goda kanita
"drumband?" tanya Sisil
"ya lihat saja perut mu ini sudah seperti drumband bukan" jelas kanita
"kanita sialan" teriak Sisil dengan bibir yang di majukan
"kau baru pertama mengunjungi ku dan langsung mengatakan tubuh ku seperti drumband" tambah Sisil
"haha aku becanda kakak ku sayang" jelas kanita
"berapa bulan kak" tanya kanita
"apa nya" Sisil balik bertanya
"itu drumband yang kau bawa-bawa sudah berapa bulan" tanya nya
"sialan ini bukan drumband tau" jelas Sisil sambil mengelus perutnya
"lalu" jawab kanita
"meja pribadi" jawab nya dengan bangga
"najis anak sendiri dikatain meja hahaha" balas kanita tertawa
di tengah perbincangan mereka Sabil datang setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan kanita Sabil merasa sendiri tidak ada sosok adik yang bisa ia usili dan hari ini saat ia ke rumah Rio ia mendapat kanita sedang tertawa di ruang tamu bersama Sisil...
"kanitaaaa" teriak Sabil berlari memeluk kanita
"aku sangat merindukanmu demi apa aku bukan mimpi" tambah nya
"aduh kakak tulang ku bisa remuk jika kau terus memeluk aku seperti ini" rengek nya
"tidak apa jika pada remuk nanti aku sambung pakai solatip" jawab Sabil masih dengan memeluk kanita
"cih kau fikir aku kertas apa ya" jawab nya Sabil dan Sisil hanya tertawa
setelah beberapa bulan menjauh menghindar kali ini Sabil berfikir tidak akan melepaskan adik nya itu, tidak masalah jika ia harus merelakan Eza untuk sang adik meskipun dia yang sakit hati tentu nya karena peria yang ia kira akan terus menunggu nya tapi malah menyukai adik kecil nya...
"kamu sudah makan" tanya Sisil Kepada Sabil
"belum" jawab nya menggelengkan kepala
ya karena sejak jauh dengan kanita Sabil jadi sering telat makan ia merasa tidak enak hati hingga membuat nafsu makan nya berkurang...
"makan sana nanti sakit loh" ucap kanita mendorong tubuh Sabil
"tidak aku masih ingin menyiksa mu" jawab Sabil tersenyum jahil
"tidaaak aku tidak mau" teriak kanita berlari
"hey kau mau kemana" teriak Sabil menyusul kanita
Sisil yang melihat itu merasa sangat bahagia karena adik-adik nya sudah dapat berkumpul kembali apalagi sekarang saat bertemu tidak ada kecanggungan di antara kedua nya, ya bagaimana tidak Sabil selalu bisa mencairkan kecanggungan...
Sisil menelpon rio mengatakan bahwa ada kanita di rumah dan juga Sabil tidak lupa ia mengatakan perlakuan keduanya yang terlihat semakin akrab, Rio ikut merasa senang dan meminta Sisil untuk menyuruh Sabil dan kanita menginap...
"kakak" ucap kanita yang berbaring di atas tempat tidur
"ya" jawab Sabil yang ikut berbaring juga
"maafkan aku" kata kanita
"ada apa kenapa kau meminta maaf" tanya Sabil
"ya karena aku kemarin menghindari kakak" jelas nya
"tidak apa aku mengerti perasaan mu" balas Sabil membuat kanita menoleh ke arah nya
"apa maksudmu" tanya kanita heran
"ya aku tahu kenapa kau menghindari aku" jelas Sabil
"apa kau sudah ganti profesi sekarang" tanya kanita
"apa maksudmu" ucap Sabil
"ya apa profesi kakak sekarang peramal bukan lagi model" tanya kanita
"hah" jawab Sabil bingung
"hei profesi ku bukan peramal kau tahu" ucap Sabil
"lalu" Jawab kanita
"dukun beranak" jelas Sabil sontak membuat kanita tertawa
"jika kau dukun beranak nanti saat kak Sisil melahirkan kau yang membantu" ucap kanita masih dengan tertawa
Sabil berdecak sebal karena gadis yang di sebelah nya ini selalu saja menjawab dan membalikkan omongan...
...
di tempat lain Rio sedang sibuk dengan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan gio masuk ke dalam nya melihat gio yang datang Rio melirik sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan nya...
"Yo si kanita ada di rumah Lo ya" tanya Gio
"hmmmmm" jawab Rio
"dia udah baik kan sama Sabil" tanya nya lagi
"memang sejak kapan mereka berantem" jawab Rio
"bukan kah kemarin kanita sempat menjauh" tanya nya
"kanita sudah cukup dewasa untuk menimbang apa yang harus dia lakukan" jawab Rio masih tetap fokus pada pekerjaan nya
"maksudnya" tanya Gio tidak mengerti
"ya dia tidak menjauh hanya saja dia sedang membutuhkan waktu setelah dia sudah memikirkan nya dengan baik dan matang bukti nya dia kembali lagi, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau selama itu masih dalam batas wajar" jelas Rio gio pun mengangguk mengerti
...
di apartemen nya Eza sedang berbaring di atas tempat tidur ia merasa tidak enak badan hingga akhirnya dia menghubungi gio untuk ke apartemen nya...
"hallo" suara di seberang telepon
"Lo dimana" tanya Eza
"di kantor Rio, kenapa?" jawab nya
"Lo bisa ke apartemen gue tolong bawain bubur ya" ucap Eza
"Lo ngapa sakit za" jawab gio
"iya gue gak enak badan ini" jelas Eza
"lah ngapa Lo bilang sama gue gila" ucap gio
"ya terus gue harus minta tolong sama siapa pea" jawab Eza
"haha nasib Lo jomblo kaga ada yang ngurus" ledek gio
"wey sapi ngaca kuya emang Lo kaga jomblo apa" balas Eza yang mulai kesal
"***** mana Lo manggil sapi yang di suruh ngaca si Kuya haha mang ada badan sapi bayangan Kuya" ucap gio yang semakin meledek
"terserah Lo" jawab Eza yang mulai kesal
"haha yaudah-yaudah tar gue kesitu" ucap gio dan Eza pun memutuskan telepon nya...
"***** sopan ini bocah udah minta tolong kaga ada makasih-makasih nya amat" gerutu gio
"kenapa" tanya Rio Kepada gio
"ini si Eza minta di bawain bubur lagi mana gue mau meeting" jawab gio
"yaudah lo suruh aja si Sabil buat nganter" jawab Rio simple
"lah ngapa Sabil sii kenapa gak si bontot aja" ucap gio
"siapa kanita" jawab Rio
"iya coba aja suruh si kanita yang anter" jelas gio
"gue gak yakin kalau dia mau" ucap Rio
"coba dulu dah lagian kalau si Sabil kan Lo tau sendiri si Eza udah gak ada perasaan apa-apa sama dia" jelas gio
"serah Lo dah" jawab Rio pasrah
gio pun memutuskan untuk menghubungi kanita dan meminta tolong untuk membelikan bubur dan mengantarkan nya ke alamat apartemen Eza tanpa mengatakan jika ia akan bertemu dengan Eza dan tanpa curiga kanita pun mengiyakan karena di fikir nya gio lah yang akan menerima bubur itu...
.
.
.
.
.
jangan lupa like sama vote nya 🙏😉