Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 292


Jeselin Yudistira kakak kandung Carl, yang tidak menerima kenyataan bahwa Julian sudah mulai menerima Mae menjadi istri nya.


Jesi bahkan masih menggunakan berbagai macam cara untuk mendekati Justin dan Julian, kakak beradik itu di jadikan target oleh dirinya.


Namun satu hal yang tidak Jesi ketahui yaitu sosok istri dari seorang Justin Putra Abrisham, Jesi tidak mengetahui jika istri Justin adalah putri dari keluarga Artadinata.


Hari ini Jesi menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan Justin, ia akan menjadi model di perusahaan Justin maka dari itu ia akan memanfaatkan posisi nya saat ini.


Namun Justin sendiri sudah mengetahui jika Jesi adalah kakak dari Carl, ia akan lebih mudah mencari informasi mengenai ayah kandung Carl.


"Nona silahkan masuk ke dalam ruang pemotretan" ucap seorang staf.


"Ah ya baiklah" jawab nya.


Namun saat Jesi tengah berjalan dirinya melihat Julian yang sedang berjalan, dengan cepat Jesi mengejar dan menarik lengan Julian. hingga membuat Julian sedikit terkejut.


"Ya" ucap Julian, saat memutar baik tubuhnya dan mengernyit kan alis nya saat beradu tatap dengan Jesi.


"Julian aku kangen" ucap Jesi langsung memeluk Julian.


"Ah sorry, siapa ya" ucap Julian pura-pura tidak mengenal Jesi, Julian hanya tidak ingin ada gosip antara dirinya dengan Jesi yang seorang model.


"Jul plis ini aku masa kamu gak ingat" ucap Jesi.


"Sorry saya sibuk, mohon lepaskan tangan anda" ujar Julian berhasil membuat Jesi terbelalak.


"Julian kamu gak bisa kaya gini Jul, aku cinta sama kamu" lirih Jesi dengan mata berkaca-kaca.


"Cinta? gak salah kah, bukannya kamu hanya ingin harta dan kedudukan saja" ujar Julian sinis.


"Nggak aku beneran suka sama kamu, dan aku mohon Jul jangan kaya gini" lirih nya, Jesi memang tulus menyukai Julian. namun melihat Justin yang berada di atas Julian dirinya terobsesi ingin memiliki Justin.


"Cih, bahkan kamu hanya menjadikan aku target pengganti saja" dengus Julian.


Saat tengah berbincang Justin menghampiri Julian dan Jeselin, saat melihat Justin dengan cepat Jesi melepaskan tangan Julian yang ia genggam.


Julian dan Justin memandang sinis ke arah Jesi, keduanya berlalu meninggalkan Jessi yang mematung.


"Julian, kita harus ke kantor papi sekarang" ucap Justin datar.


"Otw bang" balas Julian membuat Justin mendengus.


Saat sudah berada di dalam mobil Justin melirik ke arah Julian yang tengah duduk di samping nya, Julian yang merasa di perhatikan pun menoleh.


"Ada apa?" tanya Julian.


"Kamu Masi Deket sama Mak lampir itu" ucap Justin.


"Mak lampir" tanya Julian bingung.


"Jeselin" jawab Justin.


"Oh, nggak tadi dia tiba-tiba nyamperin aja gitu" ucap Julian.


"Ingat jul kamu sudah punya Mae, jangan sampai kamu mengecewakan nya. ingat juga bahwa Mae tengah mengandung anak kamu" ujar Justin menasehati adik nya, ia takut jika Julian oleng lagi.


"Iya bang gue tau kok, lagian gue juga udah gak main cewek kaya begitu" balas nya.


"Disaat kamu ingin berenti, maka akan banyak ujian yang akan menghampiri rumah tangga kamu dan Mae" ucap Justin, membuat Julian menoleh.


"Maksudnya Abang" tanya Julian.


"Kamu lihat tadi bagaimana dia merangkul kamu, apa jika Mae melihat itu dia tidak akan kecewa? pasti banyak wanita kamu yang akan menggangu hubungan kamu dan Mae" jawab Justin.


"Iya gue tau kok, maka dari itu gue gak akan sembarangan deket sama orang bang" ucap Julian.


"Ingat jul jika kamu berani bermain api, maka kamu harus siap terbakar" ucap Justin lagi.


"Ya bang, lagian gue juga udah mulai nyaman sama Mae. gue gak bakal aja gitu nyakitin atau ngecewain dia lagi" balas Julian membuat Justin tersenyum.


"Tapi Lo juga harus ingat bang masalah bukan cuma buat rumah tangga gue, Lo juga harus hati-hati" tambah Julian.


"Pastinya" ucap Justin.


Sementara di sebuah rumah Mae yang tengah berkumpul dengan Dea dan mami alin mendapatkan pesan, Mae membuka pesan itu dengan mata membulat dan berkaca-kaca.


Hal itu membuat Dea dan mami alin bingung dengan sikap Mae, Dea mendekati Mae dan memegang bahu Mae.


"Mai kenapa?" tanya Dea, bukannya menjawab Mae justru malah menangis.


"Loh kok nangis, Mae kenapa?" tanya mami alin.


"Julian hiksss, Julian jahat. aku kira dia udah berubah ternyata dia sama sekali gak berubah" jawab Mae dengan sesenggukan.


"Maksudnya gimana?" tanya mami alin dan Dea bersamaan.


"Ini kalian lihat ini" ucap Mae menyerahkan ponselnya, saat itu juga Dea dan mami alin saling memandang.


Ya Mae mendapatkan pesan beberapa foto Julian yang di gandeng mesra oleh seorang wanita, bahkan ada juga foto saat Julian di peluk.


"Mae tenang dulu, ini bisa aja orang yang sengaja mau bikin kamu dan Julian bertengkar" ucap mami alin.


"Tapi itu keliatan kalo Julian gak menolak mi" ujar Mae.


"Mae tenang lah, kamu jangan gegabah" ucap Dea.


"De kenapa harus kaya gini Mulu si de, gue capek kalo harus begini Mulu" ujar Mae.


"Mai setiap hubungan pasti ada masalah nya, tapi Lo gak boleh kebawa emosi. lebih baik Lo tanya dulu sama Julian nya kan" ucap Dea, namun tiba-tiba Mae memegang perutnya yang terasa sakit.


"Akkkhhhh" pekik Mae, yang merasa keram di perut nya.


"Mae tarik nafas may buang pelan-pelan, tenang Mai tenang" ucap Dea, ia khawatir karena baru saja Mae melupakan kesedihannya.


Dea dan mami alin membawa Mae ke kamar nya, sementara Dea pergi ke rumah Sisil untuk ke ruang kerja pribadi nya.


Ia ingin menyelidiki orang yang mengirim foto itu kepada Mae, jangan salah diam-diam Dea memiliki keahlian dalam menyelidiki berbagai kasus.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗


A**: UN vote nya apa un, kalo vote gue turun molo kaga naik-naik kan kurang semangat un 😪


N: iya Thor gue nguli dulu dah ya biar Lo semangat 😂


A: iya kalo turun Mulu kaga naik gue jarang up un😁


N: Jan gitu gue galau nunggu Mulu 😪


A: mangkanya vote 😂


N: iya iya dah 😁


A: 😂😂😂*