
Keesokan harinya Julian di kejutkan oleh pemandangan yang berada di hadapannya, jika kemarin Mae yang di kejutkan dengan melihat Julian yang tengah bermesraan dengan wanita. maka kali ini Julian yang terkejut melihat Mae yang tengah mengobrol dengan seorang lelaki.
Julian mengira bahwa itu adalah kekasih Mae, padahal kenyataannya lelaki itu adalah rekan bisnis Dea. bahkan Dea pun berada di tempat itu hanya saja Dea tengah ke kamar mandi.
Julian menatap Mae dengan sinis dan tersenyum meremehkan, ia tidak menyangka jika Mae tidak sebaik yang di bayangkan oleh orang tuanya.
Setelah kepergian Julian Dea pun kembali ke tempat Mae dan rekan bisnis nya, Dea berjalan sambil merapikan pakaian nya.
"Sorry lama" ucap Dea kembali duduk.
"Tidak apa-apa nona" ucap rekan bisnis Dea.
"Jadi bagaimana tuan apa anda_" ucap Dea terhenti, ketika rekan bisnis nya tiba-tiba berbicara.
"Ya saya setuju dengan kerjasama ini nona" ujarnya sambil menatap Dea.
"Ah, baiklah jika seperti itu tuan. kita akan mengadakan pertemuan dalam waktu beberapa hari kedepan" ucap Dea.
Setelah selesai Dea dan Mae pun bergegas pulang, karena hari sudah mulai sore.
Setibanya di rumah Dea dan Mae langsung menuju kamarnya, namun saat akan masuk ke kamar Dea lebih dulu melihat putranya yang tengah belajar.
"Mommy sudah pulang" tanya Carl yang melihat Dea.
"Ya, apa kau sudah makan nak" ucap Dea mengelus kepala putranya.
"Sudah, Daddy sudah pulang mom?" balas Carl.
"Belum Daddy mu belum pulang, mungkin masih sibuk" ucap Dea membuat Carl mengangguk.
"Yasudah mommy mau mandi dulu, kamu mandilah" ucap Dea lagi, dan berlalu keluar kamar Carl.
Di dalam kamar nya Dea bergegas menuju kamar mandi, ia merendam tubuh nya untuk menghilangkan penat karena seharian bekerja.
Setelah selesai mandi Dea di kejutkan oleh suara teriakan yang begitu nyaring, namun Dea sudah bisa menebak jika itu teriakan Mae dan Julian.
"Hah" Dea menghela nafasnya, Dea merasa kasihan kepada Mae.
Dea bergegas memakai pakaian nya, mengingat mami alin yang tengah pergi keluar kota menemui papi mertua nya.
Setelah selesai Dea pun segera keluar dan melihat Julian dan Mae yang tengah berdebat, bahkan disana Dea bisa melihat Mae yang sedang menahan tangisnya.
"Julian Mae" teriak Dea, membuat Julian dan Mae menoleh.
"Ada apa? kenapa kalian selalu berdebat, apakah kalian tidak capek. kalian harus nya malu dirumah ini ada Carl yang akan melihat kelakuan kalian" ucap Dea, menatap Julian dan Mae secara bergantian.
"Berenti belain teman Lo de, harus nya Lo kasi tau teman Lo gak pantes cewe jalan berduaan dengan lelaki" teriak Julian, yang membuat Dea sedikit tersentak.
"Kalo kamu marah sama aku ya ke aku aja julz gak usah teriak-teriak sama Dea. lagian itu klien bukan siapa-siapa aku" teriak Mae.
"Mana ada klien seakrab itu, gue gak beg*k Mae gue bisa bedain klien sama selingkuhan Lo" ujar Julian, teriakan Julian yang begitu kencang membuat Carl keluar dari kamar nya.
Carl berjalan menghampiri Dea yang sedang merengkuh tubuh Mae, Carl memegang bahu Dea sehingga membuat Dea menoleh.
"Mom, ada apa?" tanya Carl.
"Tidak ada apa-apa sayang" jawab Dea.
"Aunty" panggil Carl, ketika melihat Mae meneteskan air matanya.
"Aku tidak apa-apa boy, kembali lah ke kamar mu" ucap Mae tersenyum.
"Mom kau tidak apa-apa?" tanya Carl khawatir.
"Ya mommy tidak apa-apa sayang, kembali lah ke kamar mu" jawab Dea mengelus kepala carl, sungguh Dea merasa kesal kepada Julian. Dea tidak ingin Carl melihat pertengkaran Julian dan Mae yang akan membuat Carl takut atau teringat masa lalu nya.
Setelah kepergian Carl Dea menatap Julian dengan tajam, Dea benar-benar tidak percaya jika sikap Julian sangat keras.
"Puas Lo sekarang hah, Lo liat anak gue hampir aja liat perdebatan Lo berdua. kalo Lo berdua mau teriak-teriak lebih baik Lo berdua tinggal di hutan sana" sinis Dea.
"Berani banget Lo bilang begitu" ucap Julian.
"Kenapa gue harus takut, gue gak salah yang jelas disini Lo yang mulai Julian. harusnya sebelum Lo marah Lo cari tau dulu jangan main ngamuk-ngamuk gak jelas" ucap Dea.
"CK, Lo berdua sama aja. yang satu cewek gak tau d*ri dan satunya cewek_" ucap Julian menggantung, mengingat dirinya pernah memiliki rasa terhadap Dea. Julian tidak berani mengeluarkan kata-kata yang membuat Dea sakit hati.
"Udah daripada Lo disini terus lebih baik Lo pergi Julian, Lo tenangin dulu diri Lo" ucap Dea membuat Julian berlalu.
Setelah kepergian Julian Mae ambruk, Mae menangis sejadi jadinya. tangan Mae memukul dada nya yang terasa sesak, bukan pernikahan seperti ini yang Mae ingin kan.
"Mai tenangis diri Lo" ucap Dea.
"Gue sakit, gue benci araaagghhh" teriak Mae.
Dea memeluk Mae dengan erat, ia tidak ingin Mae tertekan dengan semua ini. Dea terus menenangkan Mae yang masih menangis' tersedu-sedu.
Setelah tenang Dea mengantar Mae menunju kamar nya, Dea menemani Mae hingga terlelap dan setelah itu Dea kembali ke kamar dilihatnya Justin sudah berada disana.
Dea menghambur ke dalam pelukan sang suami, ia merasa nyaman dengan menghirup aroma tubuh Justin.
"Ada apa hmmmmm" tanya Justin mengelus kepala Dea.
"Aku berasa tinggal bersama Tarzan Abang" jawab Dea, membuat Justin mengernyit.
"Tarzan?" tanya Justin.
"Hmmmmm, adik mu itu selalu berteriak seakan mereka tinggal di hutan" jawab Dea polos, membuat Justin terkekeh.
"Apa kau merasa tidak nyaman sayang" tanya Justin, karena ia takut jika Dea merasa terganggu.
"Benar juga, Julian memang sangat beda sayang. dia sangat keras" ujar Justin.
"Ya bahkan dia tidak pernah berfikir jernih, aku merasa bersyukur karena yang menjadi suamiku adalah Abang dan bukan Julian" ucap Dea mengecup pipi Justin.
"CK.apa kau sedang menggoda suami mu ini" ucap Justin mengecupi tengkuk Dea.
"Mana ada menggoda, aku bukan wanita penggoda Abang" ucap Dea mencebikan bibirnya.
"Buktinya kau menggoda ku, dan kau harus bertanggung jawab" ucap Justin.
"Haih apa yang harus aku pertanggung jawabkan Abang, aku tidak menghamili mu dan kalo ada yang hamil itu seharusnya aku dan kau yang harus bertanggung jawab" ceplos Dea membuat Justin tertawa.
"Sayang kita sudah menikah dan jika aku menghamili mu, itu sudah bukan masalah lagi" ucap Justin, menggendong tubuh Dea.
"Oiya aku lupa" ucap Dea menepuk dahinya.
"Jadi sudah tidak ada masalah bukan" ucap Justin menggoda.
"Haih selalu saja endingnya aku yang kalah" dengus dea, yang sudah tidak bisa menolak saat Justin mulai menelanjangi nya.
Namun saat Justin akan memulai Dea tiba-tiba menghentikan nya, dan itu membuat Justin bingung.
"Tunggu" pekik Dea.
"Ada apa?" tanya Justin.
"Aku haus Abang" jawab Dea, membuat Justin mendengus dan mengambil kan minum. setelah nya lagi-lagi Dea menghentikan Justin.
"Sebentar Abang" ucap Dea membuat Justin frustasi.
"Apa lagi sayang" tanya Justin.
"Baca doa bang biar berkah, biar cepet dapet dedek" ucap Dea. dan_
"Abang sebentar" pekik Dea lagi, hal itu sungguh membuat kesabaran Justin di uji.
"Apa lagi" tanya Justin mulai kesal.
"Udah di Aminin belum Abang?" tanya Dea.
"Sudah aku sudah mengambil kan kamu minum, aku sudah berdoa, dan aku sudah amin kan kau puas. dan sekarang diamlah dan nikmati saja" ucap Justin.
"Haha baiklah sayangku" balas dea.
perlakuan Justin benar-benar membuat Dea terlena hingga tidak menyangka suami nya itu sangat membuat nya bahagia, meski sedikit kewalahan untuk menghadapi Justin namun Dea tetap bisa mengimbangi pergerakan suaminya itu.
Setelah beberapa kali iklah dan beberapa kali memulai Dea pun merasa sangat lelah, saat yang terakhir Justin pun ambruk di atas tubuh istri tercinta nya itu hingga bersambung lah kita percintaan mereka malam ini.
Justin merengkuh tubuh Dea dan menatap wajah Dea yang terpejam, Justin mengecup kening Dea penuh sayang.
"Terimakasih my wife" ucap Justin, kembali menghujani wajah Dea dengan kecupan.
"Hmmmmm, ya my hubby kau benar-benar membuat pinggang ku encok" gumam Dea membuat Justin terkekeh.
"Tidur lah sayang kau pasti lelah" ucap Justin.
Tak lama kemudian keduanya pun tertidur pulas dalam keadaan saling berpelukan, Dea dan Justin sudah saling mencintai maka dari itu Justin mau pun Dea tidak ingin menyakiti dan mengecewakan satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: kali ini aku cepetin ya gaes, biar bisa cepet ke series duaπ
N: series dua Masi di sini kan Thorπ
A: iya cuma nanti fokus anak-anak nya aja ya, kaya Dea Dio juga rumah tangga Mae Julian dan Meiπ
N: emak nya nongol kagak Thorπ
A: ya nongol kali-kali mah lah π
N: nanti yang di pisah kisah siapa Thor? π
A: Dio apa Dena gitu yang gue pisah ya π
N: Mae Thor?
A: iya pokonya yang nggak gue pisah itu si Dea karena dari anak-anak nya kan Dea yang nikah duluanπ
N: oke gue tunggu dah Thor π
**A: oke Uun π
N: πππ***