
Hari ini Dea tidak pergi ke kampus nya, ia akan mengerjakan tugas kuliah nya di rumah. dan hanya akan sesekali ke kampus untuk menyerahkan tugas yang ia kerjakan.
Ya tentu saja karena perintah dari Justin yang melarang Dea untuk pergi ke kampus, apalagi setelah mendapatkan informasi jika Dodi masih terus mengganggu istri nya.
Dea yang selesai mengerjakan tugas-tugas nya pun merasa bosan, dan ia memutuskan untuk menonton televisi. Dea mengguling-gulingkan tubuhnya kesana kemari.
"Araaagghhh, bosan sekali aku" gumam Dea.
"Telpon siapa ya? ah iya Dio apa kabarnya anak itu" ucapnya setelah mengingat adik bontotnya nya itu.
Saat Dea ingin menelpon adiknya namun tanpa sengaja Dio lebih dulu menghubungi Dea, dan itu membuat Dea bahagia dan kegirangan.
***Percakapan telepon
Dio**: kakaaaaaak
Dea: assalamualaikum ya calon kubur.
Dio: walaikumsalam penghuni kubur (cengengesan)
Dea: sue Lo saat kakak sendiri begitu. gaada ahlak emang.
Dio: lagian Lo udah kaya bunda aja.
Dea: wajar neng mah anak nya, emang elo.
Dio: kenapa emang gue?
Dea: kang kebun nya haha.
Dio: punya kakak satu-satunya gak punya adab.
Dea: becanda akunya adikku sayang, Utuk utuk.
Dio: Dea serius gue kangen sama Lo.
Dea: pastinya lah, gue kan emang ngangenin (percaya diri)
Dio: sue! nyesel gue bilang kangen sama Lo.
Dea: haha canda sayang nya akoh.
Dio dan Dea pun terus bercerita hingga Dio bertanya mengenai Dodi yang selalu mengganggu Dea, Dea pun menceritakan semuanya hingga sekarang ia sudah tidak ke kampus dan hanya akan ke kampus jika ada urusan penting dengan dosen.
Mendengar cerita sang kakak Dio merasa jengkel, iapun meminta Dea untuk tidak keluar tanpa izin dari Justin. Dio memberi tahu Dea harus berhati-hati dengan orang yang seperti Dodi.
Dea pun membenarkan ucapan sang adik, karena emang itu faktanya, dan sebisa mungkin Dea akan menghindari Dodi. setelah puas bercerita panggilan pun terputus*.
...
Di tempat lain Mae sedang bertemu dengan mei, ya karena Mei penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakak nya. dan juga karena Mei penasaran siapa orang itu.
"Kak" panggil Mei saat melihat Mae.
"Hai" balas Mae tersenyum.
Saat melihat wajah Mae Mei cukup kaget, karena Dio pernah menunjukkan foto mae. namun saat melihat sikap Mae yang baik dan ramah Mei pun tidak berfikir negatif.
"Udah lama Mei?" tanya Mae.
"Nggak juga kak baru sampai" jawab Mei.
"Kak aku mau tanya" ucap Mei.
"Ah iya, jangan disini kita di mobil aku aja ngomong nya" balas Mae mengajak Mei.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Mae bergegas melajukan mobil nya dan itu membuat Mei bingung.
"Kak kita mau kemana?" tanya mei.
"Menjauh dari kampus Mei, daerah kampus gak aman buat kamu" ucap Mae. tentu saja karena Mae tahu jika Nina melihat Mei maka akan kumat gila nya, dan bisa saja ia akan mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti Mei.
"Maksudnya kakak?" tanya mei.
"Kamu pasti ngerti lah Mei" jawab Mae tersenyum.
"Yap." jawab Mae mengangguk.
"Kak Mei gak ada maksud bu_" ucap Mei terhenti.
"Aku ngerti Mei, aku juga tau hati gak bisa di paksain. kalo soal Nina emang orang nya aja gak jelas ngeyel, aku juga sama kita berdua sama-sama suka sama Dio ko" ujar Mae membuat Mei terbelalak.
"Kakak" ucap Mei.
"Ya, aku dan nina suka sama cowok yang sama dan itu adik sahabat kita sendiri gila gak si. tapi aku mikir juga si suka, sayang atau cinta itu gak harus memiliki. dengan kita merelakan dan melihat dia bahagia sama orang yang dia pilih pun itu suatu kebanggaan buat aku. meskipun cewek yang dia pilih itu bukan aku, karena aku yakin Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kita" ujar Mae membuat Mei tertegun, ia merasa kagum dengan sosok Mae.
"Terus apa hubungannya sama kak Dea sama cowok yang ganggu kak Dea?" tanya mei.
"CK. si Nina itu sok-sokan mau jadi macoblang Mei, dia mau Dea Deket sama Dodi dan kalo mereka berhasil pacaran Nina akan manfaatkan hal itu agar Dea merasa berhutang Budi. hingga akhirnya Dea akan menjodohkan Dio dan Nina" jawab Mae.
"Kenapa kakak gak kaya gitu juga?" tanya mei penasaran.
"Menurut aku itu suatu pemikiran yang dangkal karena apa, itu artinya kita terlalu memaksakan ego kita untuk memiliki seorang yang tidak seharusnya bersama kita" jawab Mae.
"Aku suka sama dia, kagum sama dia bukan berarti aku harus jadi orang yang licik buat dapetin apa yang aku mau Mei. apalagi ngelakuin hal bodoh yaitu korbanin sahabatnya sendiri, liat dampak nya sekarang akibat keegoisan nya dea jadi korban kan. dia jadi ketakutan dan sekarang malah jarang ke kampus pula" tambah Mae lagi.
"Aku salut sama kakak, karena bisa berfikir seperti itu" ucap Mei kagum.
"Dan aku juga bangga sama kamu, karena kamu bisa dengerin cerita aku dengan tenang. padahal aku bilang kalo aku suka sama Dio" balas Mae.
"Aku sama Abang gak ada hubungan apa-apa kak" ucap Mei.
"Tapi aku bisa liat kalo dia suka sama kamu Mei, karena jika orang yang benar-benar mencintai bukan dia yang banyak berkata manis. tapi dia yang mampu melakukan tindakan tepat yang membuat kita bahagia and dia yang mau berjuang agar menjadi bukti" ujar Mae.
"Iya kakak bener" ucap Mei.
"Gak ada yang lebih pantas sama dia selain orang yang bisa bikin dia bahagia kan Mei, dan jika kebahagiaan Dio sama kamu bukan masalah buat aku. justru aku akan ikut bahagia, jadi gak usah takut kalo aku akan nekat buat jahatin kamu" ujar Mae tertawa.
"Aku gak ada fikiran kesana kak" ucap Mei tersenyum.
"Pastinya, kamu sama Dea kan sama Mei" balas Mae.
"Maksudnya kakak?" tanya mei bingung.
"Kalian itu sama-sama polos" jujur Mae membuat Mei tertawa.
Keduanya terus saja berbincang dalam perjalanan, Mae mengantar Mei pulang ke rumah Dea. setelah nya ia pun bergegas pulang ke rumah nya.
Dari pertemuan nya dengan Mae, Mei bisa tahu jika awal mula dari ini adalah suatu obsesi yang besar. dari Nina yang terobsesi dengan Dio hingga melibatkan Dodi dan itu malah membuat Dodi terobsesi terhadap Dea.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: gue sibuk tapi kasian sama kalian yang nunggu π
N: auto up dah yaπ€£
A: iya tapi dikit dulu, nanti nyusul π
N: okelah π
A: vote nya yang banyak Uunπ
N: siap Thorπ*