
"Bundaaaaaaaaa" teriak Mei.
"Hehe dikit aja nggak apa-apa kan" ucap Dena tanpa dosa.
"Kamu itu dek kalo gak ponsel ya begini, haish itu aduhhh. bundaaaaaaaaaaa" ujar Mei dan berteriak memanggil Sisil.
Sisil yang mendengar teriakan putrinya itupun segera berlari ke kamar mei, ya semua orang memang selalu membutuhkan Sisil dan pasti mengadu kepada nya.
Bahkan Sisil seperti mengerti mengenai Mei dan Dio, diapun sangat menyayangi Mei dan memanjakan nya. anggap saja Sisil menganggap Mei benar-benar seperti Dea, kasi sayang nya membuat Mei bahagia bahkan sangat bahagia. saking bahagianya tubuh Mei menjadi lebih berisi dari sebelumnya, bahkan Dea saja bisa dibilang kalah oleh Mei meski kadang Sisil mengingatkan jika Putrinya itu banyak ngemil.
"Ada apa kak?" tanya Sisil kaget.
"Lihat itu" ucap Mei menunjuk ke arah Dena.
"Yaampun sayang, apa yang kamu lakuin?" tanya sisil menghampiri putri bontot nya.
"Dandan, cantik kan unda" jawab nya, membuat Sisil dan mei menepuk dahinya.
"Udah bikin salah nyengir tanpa dosa pula" ucap Mei membuat Sisil terkekeh.
"Itu lipstik kamu yang limited kan" ucap Sisil di sela-sela tawa nya.
"Iya Bun, tapi bukan soal limited nya. masalah nya aku beli itu sama Abang kan kenangan banget" ucap Mei membuat tawa Sisil pecah.
"Haha rasain, mangkanya kak bunda kan udah bilang. kalo yang penting buat kamu ya di pisah di laci jangan di meja rias" ucap Sisil.
"Aaaaaaaa bundaa, kapan lagi aku belanja bareng Abang" rengek nya. benar-benar membuat Sisil sakit perut.
"Dek kakak nya marah itu" ucap Sisil kepada Dena.
"Kakak i'm sorry. nanti aku bilang ayah buat beliin yang balu ya" ucap Dena mengedip-ngedipkan matanya.
"Haihh gemas sekali kamu ini" ucap Mei, namun hatinya masih jengkel.
"Bundaaa" rengek nya.
"Cihaha kenapa? bilang ayah sana" ucap Sisil.
"Emang ayah udah pulang?" tanya mei.
"Udah lagi di bawah" jawab Sisil, tanpa menunggu lama Mei pun berlari ke arah Rio. diikuti oleh Sisil dan Dena di belakang nya.
Dan di lihat nya Rio tengah mengobrol dengan Mae, keduanya membicarakan soal pekerjaan Dea di kantor.
Tanpa menunggu lama Mei duduk di samping Rio, dan menggelayut di tangan sang ayah. Rio yang melihat itu merasa bingung.
Lalu pandangan nya di alihkan kepada putri kecilnya yang sedang menyengir, dengan begitu Rio paham jika si bontot sudah membuat kakak nya kesal.
"Kenapa hmmmm?" tanya Rio mengelus kepala Mei, sungguh hati Rio sakit jika mengingat gio Daddy dari Mei.
Maka dari itu Rio dan Sisil selalu memanjakan Mei, agar Mei selalu merasa bahwa gio dan Nita ada di dekatnya. dan agar Mei tidak merasa kekurangan, karena keduanya yakin jika kedua orang tua Mei masih hidup maka Mei akan menjadi tuan putri kesayangan gio dan Nita. jika mengingat ninta yang tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkan Meitha.
"Adek nya nakal" rengek Mei.
"Adek" panggil Rio.
"Hehe i'm sorry ayah" jawab nya.
"Adek ngapain kakak?" tanya Rio.
"Aku mainin makeup kakak, nggak sengaja lipstik kesayangan kakak patah" jawab Dena tertawa.
Rio menghela nafas nya, beginilah rasanya tinggal di tengah-tengah para wanita. jika tidak istrinya yang merengek soal lipstik makan putri gadis nya lah yang merengek.
" Haha kamu apain sampai patah gitu?" tanya Mae tertawa.
"Mau aku pake, tapi aku kepeleset akhirnya jatuh" jawab Dena.
"Aaaaaaaa ayah bukan soal lipstik nya" ucap Mei.
"Soal beli nya, soalnya pas beli itu di pilihin sama Dio" ucap Mae.
"Iya bener, haisshh kemarin parfum ku pecah, terus sepatu kesayangan aku nyemplung kolam. sekarang lipstik, adikku ini sungguh ajaib" ucap Mei.
"Kamu Masi mending kak, butik bunda noh berkas rahasia dia retas" ucap Sisil membuat Mae dan Mei melongok.
"Dikasi makan apa si Bun? kenapa bisa sampe begini?" tanya mei membuat dena mendengus.
"Aku bilangin kakak Dea ayah, bunda sama kak Mei jahat" kesal nya.
"Anak Dea emang kamu mah, ngadu Mulu sama Kaka kamu itu" ucap Sisil.
"Tau dia Bun ayah nya kalah sama kak Dea" ucap Mei.
"Kalo ada Dea semua gak bisa berkutik ya Bun" ucap Mae.
"Iya bener, lagian Dea tuh ya apa yang Dena mau di kasi aja Mai" ucap Sisil.
"Bahkan Mei aja kalah, Dena udah pegang iPad terbaru di kasi sama dea dan Justin" ucap Sisil.
"Ehhh aku udah di beliin ayah dong haha, iya gak yah" ucap Mei.
"Iya kakak Mei ayah yang beliin" ucap Rio.
"Biarin aja lah, Dena mah punya mesin duit nya sendiri ini. kita mah penuhin apa yang anak-anak butuhin aja" ucap Sisil.
"Tapi tetep aja selalu Dena yang punya apa-apa duluan" ucap Sisil lagi.
"Dena mah punya pabrik berjalan nya Bun" ucap Mei.
"Ayah kadang bingun kenapa Dea dan Justin tau aja apa yang Dena mau" ucap Rio, bukan tidak ingin membelikan. namun usia Dena yang masih terbilang kecil yang membuat Rio membatasi putrinya itu. berbeda dengan mei yang selalu di manjakan oleh Sisil dan Rio, karena Oma Mei dari gio pun selalu meminta Rio untuk memenuhi keinginan cucuk nya. padahal tanpa di minta pun Sisil dan Rio memenuhi keinginan Mei.
"Aku udah minta mobil baru Bun" ucap Mei.
"Nggak apa-apa Mei bunda gak masalah apapun yang kamu mau minta aja sama ayah, tapi kalo Dena Masi kecil belum pantes dia megang barang-barang kaya begitu" ucap Sisil.
"Tapi kenyataannya kita kalah sama Dea Bun, dia tanpa nanya kita udah main kasi-kasi aja" ucap Rio.
"Haih bagaimana tidak suaminya saja pabrik uang yang, apalagi sekarang dia kerja di kantor papa. makin numpuk aja itu duit nya" ucap Sisil.
"Udah ah aku kesini mau ngadu ngapa jadi pada ngomongin duit" kesal Mei membuat Rio terkekeh.
"Jadi gimana ini nasib lipstik aku yang patah tanpa salah itu?" tanya mei.
"Kamu kalo mau ngomongin begituan jangan ke ayah, noh ke bunda kamu" jawab Rio.
"Ayaaah duit nya kan dari ayah" rengek Mei.
"Heh semprul tanpa kamu minta itu duit tiap Minggu ngalir di rekening kamu" ucap Rio.
"Haha iya lupa" ucap Mei cengengesan.
"Lagian kamu juga ayah sering kasi duit tapi kamu jarang pake, kenapa?" tanya Rio.
"Aku tuh sayang sama duit nya yah, ayah kerja keras buat cari uang dan ayah kasi ke aku masa aku mau pake duit ayah buat foya-foya" jawab Mei.
"Ayah kerja cari uang emang buat kalian anak-anak ayah, jadi ayah gak masalah kamu pake uang ayah sebanyak apapun" ucap Rio.
"Iya ya ya aku tahu duit ayah gak akan pernah bisa habis sampai tujuh turunan" ucap Mei membuat Rio tertawa.
"Kalo duit ayah gak habis tujuh turunan gimana duit nya bang Justin ya? kak Dea pusing-pusing dah tuh mau ngabisin duit laki nya gimana haha" ucap Mei membuat Rio dan sisil gemas.
Merekapun berbincang dengan penuh canda dan tawa, Mei pun sesekali melirik tajam sang ayah yang selalu menggoda nya.
Bahkan Mae pun memihak kepada Sisil dan Rio meminta Mei untuk bersabar karena LDR, meskipun mengelak tidak ada hubungannya nama semua tahu jika Dio dan Mei sama-sama memiliki perasaan.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: nih yang minta part Mei ya😁
N: uwuuuu gue pengen punya bapak kaya Rio Thor😂
A: gue juga pengen dah serius🤣
N: hilih ngikut aja Lo Thor😂
A: biarin 😜😂
N: sueee😒
A: 🤣🤣🤣*