Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 136


di kediaman Rio Sisil sedang berbincang dengan dua anaknya, tidak hanya berbincang Sisil pun bercanda dengan Rio juga.


"bunda" rengek Dea yang bergelayut manja di lengan sang bunda


"ada apa kak" tanya Sisil


"bunda aku mau Dena bunda" ucap Dea membuat Sisil, Rio juga Dio mengernyitkan dahinya


"Dena? siapa itu Dena?" tanya Sisil bingung


"bunda Dena itu Adek kecil bunda, Dea minta dedek bayi ya" jawab nya mengedip-ngedipkan matanya gemas


"oh yaampun kak, kamu ini udah gede loh ya masa mau Minda dedek lagi" tanya Sisil yang heran. berbeda dengan Rio mendengar permintaan sang putri membuat Rio senang dan bersemangat. akhirnya ada yang memihak ke kubu nya juga, tinggal si wajah datar yaitu Dio yang harus bisa menyetujui permintaan Dea.


"bunda ayolah Bun, Dio udah gede mana mau dia aku cium-cium terus aku unyeng-unyeng" melas Dea


"udah lah Bun turutin aja permintaan Dea toh cuma adik" ucap Rio membela sang putri.


"kamu itu ya yah cuma-cuma kalo kamu mau hamil ya ayok. lagian kan yang mau Dea kalo Dio belum tentu mau dia" balas Sisil menatap putranya yang tak bergeming.


"bang" panggil Rio


"kenapa yah?" jawab nya


"mau punya dedek lagi gak" tanya Rio


"setuju yah" jawab nya cepat sontak membuat Rio dan Dea bersorak gembira.


"oh God keluarga macam apa ini" gerutu Sisil


"bunda kalo mau ada dedek lagi aku minta cewek ya" ucap Dio


"loh emang kenapa bang" Rio bertanya


"yah kalo cowok aku nanti punya saingan kan kalo cewek aku sama ayah yg paling tampan" ucap nya membuat Rio terkekeh


"siap bang ayah usahakan yang keluar nanti Dena ya bukan dava" balas Rio


"oke yah setuju" ucap Dio senang


sementara Dea peduli amat mau yang keluar Dena apa Dava yang penting punya adik fikirnya, Dea tidak terlalu mengharapkan jenis kelamin nya laki atau wanita. yang Dea harapkan hanyalah wujud nya yang sempurna tanpa kurang apapun.


"oke aku setuju" ucap Dea lantang membuat Sisil kesal


"kok kamu setuju si kak?" tanya Sisil heran kepada putrinya


"Emang kenapa bundah" jawab Dea


"kak kalo dedek nya yang keluar itu Dena nanti kamu punya saingan loh kak" ucap Sisil menakuti Dea. namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapan nya, Dea malah terlihat lebih bahagia berbeda dengan dio yang menginginkan adik cewek karena takut tersaingi.


"bundah kan emang dari awal aku minta nya Dena bukan dava, lagian peduli amat aku tersaingi apa nggak aku yakin kok bunda ayah sama Dio itu sayang sama aku meskipun nanti ada Dena. aku cuma mau adik, laki atau wanita nantinya akan aku terima" jawab Dea yang membuat Dio menganga, melihat tingkah Dio jiwa usil Dea muncul seketika.


"ngapa Lo nganga gitu? liur no netes noh" ucap Dea membuat Dio tersentak


"apasi ko kak rese banget" cetus Dio membuat Sisil dan Rio tertawa. tanpa mempedulikan ocehan Dio Dea kembali membujuk Sisil.


"bunda ya bunda aku minta dedek, nanti kalo aku kuliah kan bunda jadi gak sendirian" ucap Dea


"sayang kita tidak bisa terlalu memaksakan keinginan, semua tergantung kehendak dan pemberian nya" balas Sisil


"yasudah kalau begitu ayah sama bunda yang usaha aku dan Dio yang berdoa" ucap Dea polos membuat Sisil dan Rio saling pandang. anak Rio banget emang Dea bener-bener pendukung setia dibandingkan dengan Dio si gurun es fikir Rio.


"hah_" ucap Sisil terpotong oleh Dio


"SETUJU" ujar Dio kembali membuat Sisil terkejut


"kamu dari tadi cuma setuju-setuju aja. dibayar berapa kamu sama ayah kamu heh" tanya Sisil kepada Dio


"hah? kok di bayar" kali ini Dea yang bingung dengan perkataan sang bunda


"ayo ngaku Dio kamu dari tadi setuju-setuju aja" ucap Sisil


"Bun aku gak dibayar siapa-siapa bun, aku mendukung karena itu emang kebahagiaan keluarga kita kalo aku dan kak Dea punya adik" ujar Dio


"biar apa punya adik" tanya Sisil


"oh my Bun plis, aku pengen rasain kaya kak Dea yang di panggil kakak Bun jadi aku mau juga punya adik" mohon Dio


"kalo kamu pengen di panggil kakak yasudah tukeran peran saja sama kak Dea kamu jadi kakak nya dan Dea jadi adik nya" ucap Sisil membuat ketiga orang di hadapannya bingung dan menganga begitupun dengan Dea


"mana bisa begitu bunda" protes Dea dengan nada lesu nya


"bisa lah kak lagian kalian lahir cuma beda sepuluh menit doang" ucap nya kembali membuat Dea dan Dio menganga


"gak bisa begitu aku mau adik yang bisa aku gendong-gendong kalo kak Dea mana mau dia aku gendong" protes Dio, sementara Rio menahan tawanya melihat dua anak nya sedang berdemo kepada sang bunda.


"iyalah iyalah bunda kalah lihat nanti saja jika diberi kepercayaan kembali maka kalian akan punya adik. namun jika tidak maka kalian harus menerima nya" ucap Sisil membuat Dio dan Dea bersorak riang. sikap dingin Dio hilang seketika mendengar persetujuan dari bundanya.


...


di tempat lain Sabil sedang meringis merasakan sakit dengan perutnya.


"duhhh kok sakit huh...huh...hah...hiks...ini kenapa perut ku" ucap nya menangis


"sayang hiks...hiks... Zian huhu lama banget si perut ku sakit yahampun laki gue kemana Zian huhu" teriak Sabil heboh


"sayang kamu kenapa" tanya Zian panik melihat Sabil yang bercucuran keringat


"perutku ini kenapa sakit hisk...hiks..." jawab Sabil


"kite kerumah sakit sekarang" ucap Zian menggendong Sabil


"cepet Zian ini baby nya udah mau dobrak pintu udah gak sabar dia" ucap Sabil di tengah-tengah tangisnya


"pintu? pintu mana yang mau dia dobrak" tanya Zian bingung


"aaaaaaaakh sakit Zian sakit" teriak Sabil membuat zian gusar.


setibanya di rumah sakit Sabil langsung di bawa ke ruang bersalin, sebelum ikut masuk Zian menelpon Sisil dan Rio terlebih dahulu. saat Rio mengatakan akan segera menyusul Zian pun bergegas menemani sang istri...


dengan penuh perjuangan Sabil melahirkan secara normal disitulah Zian melihat wanita yang dicintainya berjuang...


"sayang semangat kita akan segera bertemu anak kita, aku sayang kamu bil aku cinta kamu" bisik Zian menyemangati Sabil.


Sabil yang mendengar ucapan dan berbagai macam doa yang dibisikkan suaminya merasa tenang, saat fokus dengan suara suaminya dan dengan tarikan nafas yang panjang terdengar lah suara tangis bayi yang menggema di dalam ruangan itu.


Zian dan Sabil saling menatap dan meneteskan air mata, tuhan terimakasih karena telah memberikan suami yang sangat menyayangi ku dan anak yang aku dambakan selama ini, itulah yang ada dalam fikiran Sabil hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. hal itu membuat zian terkejut dan panik melihat Sabil memejamkan matanya.


"dok kenapa istri saya dok" tanya Zian khawatir


"tenang tuan nona Sabil tidak apa-apa nona hanya merasa lelah saja dan mungkin pengaruh Obat juga" jawab dokter menjelaskan.


Zian menerima anak nya yang di berikan oleh perawat, Zian mengajani anak nya. putri yang cantik jelita seperti Sabil wajah anak Zian perpaduan antara Zian dan Sabil.


...


Sisil dan Rio tiba di rumah sakit dan ia menemui Sabil yang sudah di pindahkan ke ruang rawat nya, Sisil melihat box bayi di samping tempat tidur Sabil. ia menghampiri dan menggenggam tangan mungil itu tak terasa air matanya menetes.


"sayang kamu kenapa" tanya Rio menghampiri Sisil


"sayang lihat bayi ini aku mengingat Dea saat masih bayi" lirih Sisil


"yasudah nanti kita bikin Dea kecil ya" ucap Rio yang mendapat cubitan dari Sisil


Sisil pun beralih menatap Sabil yang belum sadarkan diri, ia menggenggam jemari adik iparnya penuh kasih sayang Zian dan Rio yang melihat perlakuan Sisil merasa senang karena Sisil benar-benar menyayangi Sabil. saat sedang fokus menatap Sabil dan mengelus kepala Sabil lembut Sisil pun merasakan ada pergerakan dari tangan Sabil, dan tak lama Sabil pun membuka matanya.


"kakak" lirihnya


"kamu sudah sadar" tanya Sisil tersenyum


"ia, kakak disini" ucap Sabil yang di angguki oleh Sisil


"selamat akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu. aku senang Sabil anak mu sangat cantik seperti dirimu" balas Sisil membuat Sabil tersenyum


"terimakasih, ini semua karena kakak yang selalu memperhatikan aku bahkan kakak selalu memantau keadaan ku" ucap Sabil tersenyum


Zian dan Rio pun menghampiri Sabil dan Sisil yang sedang berbincang, Zian mengecupi wajah Sabil penuh cinta tak peduli jika ada Rio dan Sisil yang sedang menonton kisah romantis nya.


"terimakasih sayang kamu telah menyempurnakan kebahagiaan ku, aku akan berusaha menjadi suami dan Dady yang baik untuk kamu dan anak kita" ucap Zian mengecup bibir Sabil sekilas.


"hmmmm ya sayang" balas Sabil tersenyum


"sorry yo gue kelewat seneng" balas zean


"Yaya gue tau, terus siapa nama anak Lo ini?" tanya Rio kepada zean


"nama anak gue Adelia Zunata putri Yo" Jawab Zian membuat Sabil meneteskan air matanya


"nama yang bagus" ucap Sisil memandangi baby girl di dalam box nya


"lah kamu kenapa nangis sayang" tanya Zian kepada Sabil


"hiks...hiks... aku terharu akhirnya kamu gak namain anak kita Nobita atau si zaka yang bawa golok" jawab Sabil membuat Rio, Sisil dan Zian tertawa


"awas aja kalo si Zian ngasi nama ponakan gue nobita gua mutilasi mau Lo" ancam Rio tertawa


"haha santai Yo gue juga gak gila kali ah elah" ucap Zian.


...


setelah menjenguk Sabil di rumah sakit Sisil ingin langsung merebahkan tubuh nya namun posisinya sebagai pengganti orang tua membuat nya riweh, saat tiba di rumah Sisil melihat kanita yang tengah duduk di sofa dengan memangku kotak buah.


"lah aku kira demit darimana tiba-tiba lagi nyantai di rumahku" ucap Sisil membuat kanita menoleh


"kamu abis darimana si kak aku kan nunggu" balas kanita


"kita abis dari rumah sakit kan, Sabil udah lahiran" ucap Rio


"benarkah? anak nya cewek apa cowok?" tanya kanita antusias


"cewek cakep banget loh kan sumpah pengen aku bawa pulang itu anak" jawab Sisil, sementara Rio melangkah menuju ruang kerja nya.


"yasudah nanti aku jenguk kak sabil" ucap kanita yang di angguki oleh Sisil


"Dea mana kak" tanya kanita


"harusnya si ada di kamarnya" jawab Sisil tak lama Dea pun menghampiri nya


"anteh" teriak Dea dan memeluk kanita


"Hay sayang, gimana kabar kamu" tanya kanita


"aku baik, anteh gimana" jawab nya.


"sama akupun baik" balas kanita.


"anteh ke taman komplek yu" ajak Dea


"ngapain kamu ajak anteh kankan ke taman komplek" tanya Sisil


"yaelah bundah lagian kalo yang aku ajak itu bunda mana mau sii" jawab Dea


"iya juga si lagian bunda capek, lagian kamu mau ngapain jauh-jauh ke taman komplek" ucap Sisil


"aku mau jajan Bun disana banyak yang jual jajanan cilok, bakso, sama mi ayam pokok nya Masi banyak lagi deh" balas Dea, mendengar cilok kanita pun menelan air liur nya. rasanya ia ingin sekali memakan cilok.


"ayo Dea" ajak kanita menarik lengan Dea.


setelah berjalan beberapa menit kanita dan Dea pun tiba di taman komplek yang ramai, apalagi sekarang sudah sore jadi banyak pengunjung disana.


"Dea mau beli apa?" tanya kanita


"anteh Dea mau bakso mercon" jawab Dea antusias


"enak kah?" tanya kanita penasaran


"enak anteh Dea dulu sering beli ini, tapi karena ayah tau Dea gak boleh sering makan pedes jadi ayah larang" jawab nya dan kanita pun menemani Dea memesan jajanan nya.


"anteh aku udah selesai anteh mau beli apa?" tanya Dea


"aku mau cilok itu Dea tapi aku juga mau si Abang nya lepas topi" ucap kanita membuat Dea kaget


"apa kenapa Abang nya harus lepas topi" tanya Dea


"gak tau pokoknya aku mau begitu Abang nya lepas topi" jawab kanita kekeh


(oh tuhan kenapa gak om Eza aja yang nemenin kalo tau kayak gini. matilah gue! huhu tapi kata bunda ibu hamil emang suka aneh-aneh apa itu namanya? ah ngidam mungkin anteh lagi ngidam mangkanya aneh. tapi kalo gak di iyain tar adik gue ileran kan gak lucu yak oh my oh my) batin Dea


"Dea ayok" ajak kanita menarik tangan Dea sementara Dea pasrah aja.


"Abang aku mau beli cilok tapi abang nya lepas topi ya" ucap kanita


"kenapa harus lepas topi neng?" tanya si Abang


"aku mau beli kalo Abang lepas topi" jawab nya kekeh


"aduh neng gak bisa neng" ucap si Abang


"Dea Abang nya gak mau" ujar kanita mengadu dan Dea menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya


"Abang anteh nya aku lagi ngidam bang tar kalo gak di turutin adik sepupu aku yang belum lahir ini ileran, plis ya Abang buka topi tar aku bayar uang nya banyak deh bang ciyus" ucap Dea merayu


"aduh neng gimana yak" balas si Abang


"ayolah bang Abang ganteng deh" rayu Dea membuat kanita terbahak-bahak.


(gak usah ngetawain kenapa gue kayak gini kan gara-gara gak mau adik gue ileran, plis anteh aku sayang padamu apapun akan ku lakukan untuk kebahagiaan mu. so dukung ponakan mu yang sedang merayu ini ok) batin Dea menatap kanita sendu


"yasudah baiklah" ucap si Abang melepaskan topinya yang ternyata kepalanya botak dan itu membuat Dea menahan tawa nya.


"ma...makasih bang" ucap Dea menahan tawa


kanita menusuk cilok nya dan memakan nya dengan sangat lahap, hingga tusukan terakhir ia hanya memandangi bentuk cilok yang bulet dan polos itu membuat Dea bingung.


"anteh makan dong kenapa cuma di liatin aja" tanya Dea heran


"Dea kamu perhatiin deh cilok ini gak ada rambutnya ya polos banget" jawab kanita dan Dea pun mengiyakan


"anteh itu kan cilok masa punya rambut?" Dea kembali bertanya


"Dea ciloknya botak sama kayang kepala si Abang nya yang botak pelontos" ucap kanita polos, sumpah demi apapun Dea sudah tidak bisa lagi menahan tawanya hingga akhirnya Dea terbahak-bahak melihat tingkah polos anteh nya. ya bisa dibilang songong menurut Dea udah mohon-mohon buat si abang nya lepas topi eh sekarang malah di katain.


"hahaha iya bener anteh hahaha Abang ngapa cilok nya botak kayak kepala Abang dah" tanya Dea di tengah-tengah tawa nya.


"ya si Eneng kalo mau cilok nya gondrong di pakein wig aja neng" jawab si Abang kembali membuat Dea tertawa.


"jijik lah Abang" ucap Dea.


setelah puas jalan-jalan dan jajan juga puas meledek Abang cilok Dea dan kanita pun kembali ke rumah Rio, Dea merasa puas tertawa ternyata menemani ibu ngidam menyenangkan. entahlah jika ibu-ibu itu orang lain akan sama menyenangkan seperti sang Tante atau akan membosankan begitu fikir Dea.


.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


N**: cilok suru di pakein wig gimana masangnya🤣


A: ya Lo tempel aja pake lem😂


N: nyeplos lah gedean wig nya daripada ciloknya Thor 🤣


A: ajakin lah sebisa-bisa Lo Mumun😁


N: lagi males mikir ah Thor 😂


A: serah Lo dah jamileh😒


N: okelah Thor😂*