
Pagi hari Mae terbangun dari tidurnya ia melihat Julian yang tertidur dengan memeluk perut nya, Mae tersenyum senang karena suaminya udah menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Mae terbangun lalu membersihkan diri, kehamilan yang kedua nya tidak membuat Mae rewel. bahkan ia pun tidak membuat Julian kerepotan dengan keinginan aneh nya seperti saat mengandung baby El.
Setelah selesai mandi mae menyiapkan pakaian untuk Julian, setelah itu ia segera membangunkan suami nya itu.
"Pi bangun" panggil Mae.
"Emmmhhh, lima menit lagi sayang" lirih Julian.
"Nggak ada ya tawar-menawar, bangun sekarang Pi aku mau ke kamar El dulu" ujar nya, membuat Julian tersenyum dan mencium pipi Mae.
"Oke ibu Ndut" ledek nya.
"Ndut gini juga gara-gara tongkat sakti kamu yang gak bisa di rem" cebik nya membuat Julian terkekeh.
"Nggak apa-apa, kan bagus nanti El sama adik nya barengan gitu gede nya" ujar Julian.
"Iya juga, tapi nggak kaya begitu juga Pi" ucap mae, Julian yang tidak ingin memancing emosi istri yang kurang stabil itu mengalah dan memilih untuk membersihkan diri.
Sementara Mae merapikan tempat tidur nya, setelah itu ia keluar dari kamar nya hendak ke kamar Aleta yang bersebelahan dengan kamar Aiden.
Saat Mae berjalan ia melihat pintu kamar Dea sedikit terbuka, samar-samar Mae mendengar Isak tangis dan perkataan Justin yang memaksa Dea untuk ke rumah sakit.
Karena memang sejak semalam Dea terus saja muntah-muntah, hingga pagi ini membuat tubuh nya begitu lemas.
Justin yang sangat menyayangi Dea begitu khawatir dengan keadaan istrinya itu, Justin berbicara lembut dengan menciumi wajah Dea.
Siapa sangka melihat sang istri tidak berdaya membuat hati Justin teriris, hingga Justin ikut meneteskan air matanya kala mengingat Aiden yang sangat manja kepada Dea.
Justin berfikir jika Dea sakit maka siapa yang akan memanjakan anak nya, siapa yang akan memeluk Aiden sebelum tidur. meskipun Aiden dekat dengan ana tetap saja putranya itu selalu minta di peluk oleh Dea sebelum tidur.
"Sayang jangan seperti ini" lirih Justin.
"Hiks...hikss" Dea hanya terisak, ia merasa mual namun rasanya tenaga di tubuh Dea sudah terkuras habis.
"Jangan menyiksa aku dan Aiden seperti ini, kami sangat membutuhkan kamu. apalagi Aiden dia sangat membutuhkan kamu" ujar nya.
Mae yang merasa penasaran pun mengetuk pintu kamar Dea, ia memasukan kepala nya dan betapa terkejutnya Mae melihat wajah pucat Dea.
"Loh bang Dea kenapa" tanya Mae.
"Gak tau muntah-muntah Mulu Mai, dari semalam bolak-balik kamar mandi Mulu" jawab Justin.
"Ke rumah sakit ya de" ajak Mae, namun Dea menolak ia merasa tidak apa-apa meskipun tubuhnya merasa lemas.
"Nggak" jawab nya pelan, bahkan suara Dea nyaris tidak terdengar.
"Nggak apa-apa bang, biar Mae panggil dokter nya kerumah. dan Dea bisa di rawat di rumah" ucap Mae, membuat Justin mengangguk.
Setelah mengatakan itu Mae buru-buru keluar dan menghubungi dokter keluarga Abrisham, sementara di dalam kamar Justin membantu Dea untuk duduk dan bersandar.
Justin memeluk Dea ia mengelus perut Dea yang terasa mual, Justin pun membuatkan teh hangat untuk istrinya itu.
"Diminum dulu sayang biar mual nya sedikit hilang, kamu jangan sakit-sakit kaya gini aku gak sanggup liat kamu kaya gini" ujar Justin membuat Dea tersenyum, Dea mengelus wajah suaminya itu dengan penuh kasih sayang.
Seperti biasa Justin selalu merasakan kenyamanan dengan setiap sentuhan Dea, hal itu tidak akan pernah bisa ia dapatkan dari orang lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: Dea ngapa ya, kebanyakan makan sambel kaya nya 🙄
N: dih ngaco Lo Thor 😂
A: gue kan cuma nebak Uun 😁
N: ya nggak gitu juga author 😁
A: iya mon maap ya 😁
N: iya jangan di ulang ya 😂
A: oke Uun 😁*