
hari ini Dea pergi ke sekolah bertepatan dengan Justin yang akan pergi ke bandara, Justin kembali ke luar negeri hari ini bersama Julian.
"bang bang" panggil Julian.
"hmmmm" jawab Justin
"Dea bang Dea" ucap Julian menunjuk ke arah mobil Dea.
"biarkan" balas Justin.
dan merekapun bergegas pergi, Justin memikirkan nasib pertunangan nya. namun ia juga masih memikirkan wanita yang pernah dekat dengan nya namu pergi begitu saja tanpa pamit.
...
di sekolah Dea langsung menuju kelas nya, setibanya di kelas Dea duduk di kursi nya dan menenggelamkan wajahnya di atas meja.
ia memikirkan jalan hubungannya, Justin yang masih cuek dan dirinya yang belum terbiasa. ah sudahlah semua akan indah pada waktunya.
"Dea" panggil Mae.
"hmmmmm" jawab nya
"elo kenapa dah" tanya Mae
"gak apa-apa. nina mana?" balas Dea.
"gak masuk dia, gak tau kenapa" ujar Nina.
"yaudah lah gak apa-apa" balas Dea.
"de sejak kapan Lo pake cincin kawin?" tanya Mae membuat Dea mendongak.
"mana ada cincin kawin saroh" jawab Dea.
"Mae ah saroh Mulu" dengus nya.
"haha iyaiya" balas Dea.
"itu Lo sejak kapan pake cincin?" tanya Mae.
"sejak kapan ya? gak tau" jawab Dea membuat Mae mendengus.
"Dea gue laper" ucap Mae.
"makan lah, kenapa malah laporan sama gue" balas Dea.
"maksudnya gue mau ajak Lo ke kantin Uun" kesal Mae.
"sendiri aja si saroh, gue lagi males ini" ucap dea lesu.
"Lo kenapa? cerita dong" ujar Mae.
"gak apa-apa" jawab Dea.
Dea memang belum siap untuk menceritakan kepada sahabatnya, ia takut jika sahabat nya akan memberi tahukan kepada orang lain. karena bagi Dea tempat cerita paling nyaman itu adalah orang tuanya yang tak lain bunda nya.
...
sore hari Dea masuk ke kamar ayah dan bundanya, ia berbaring di atas tempat tidur sang bunda.
"bunda" panggil Dea kepada Sisil yang sedang duduk di sofa.
"bunda kalo aku udah tunangan nikah nya bakal cepet nggak?" tanya Dea.
"ya tergantung" jawab Sisil.
"tergantung apanya?" tanya nya lagi
"tergantung kamu siap apa belum" jawab Sisil.
"bunda nikah nya nanti aja ya, kalo kakak udah kelar kuliah" ucapnya membuat Sisil menatap Dea.
"kenapa kalo udah lulus sekolah?" tanya Sisil.
"yaaaaa bunda ganti judul dong nanti. jadi istri kecil seorang Presdir" jawab Dea membuat Sisil tertawa.
"nggak apa-apa, lagian meskipun kamu sudah nikah kan masih bisa kuliah" balas Sisil.
"gak Bun, aku mau kuliah dulu lagian kan Abang nya masih sibuk suka pulang pergi ke luar" elak Dea.
"ya gak apa-apa lah, itu artinya kamu banyak waktu kan" goda Sisil
"nggak bisa Dea harus kuliah dulu" ucap Dea
"yasudah gimana baiknya kakak aja, bunda sama ayah kan nggak bisa maksa" ujar Sisil membuat Dea tersenyum.
"tapi awas ya bunda kalo nanti tiba-tiba di nikahin aja kaya kemarin" ucap Dea.
"kemarin rencana Oma ya sama mami alin" ujar sisil
"sama aja kan bunda bantuin" ucap Dea
"haha sedikit doang kak" ucap Sisil membuat Dea mencebikan bibir nya.
tidak hanya itu Dea dan Sisil bercerita banyak hal, bahkan Sisil menasehati Dea agar putrinya itu mengerti tentang menjaga hubungan yang baik. Sisil memberi tahu jika Dea harus menemani pasangan nya dalam keadaan apapun, mau itu senang ataupun susah Dea harus menerimanya.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: Mon maap yang ini sedikit π
N: kenapa emang?
A: otak nya belum jalan ini Masi agak lemotπ
N: hilihπ
A: πππ*