Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 216


Hari ini Justin Terlihat sangat kacau, wajah yang kusut sangat terlihat jika ia tidak beristirahat dengan baik.


Selama kehilangan Dea ia kembali tinggal bersama orang tua nya, karena mami alin yang memohon kepada sang putra untuk tinggal bersamanya.


Justin sangat terlihat tidak bersemangat, ia menyesal meninggalkan Dea. andai saja ia tahu bahwa Dea sedang hamil Justin akan berusaha untuk tidak meninggalkan istri nya.


"Bang semangat dong, masa anak mami jadi lecek begini kaya duit cebuan" ucap mami mencoba menghibur.


"Mi Dea belum ketemu mi" lirih Justin.


"Abang tenang aja Dea pasti ketemu, tapi kalo Abang kucel dekil begini mami gak yakin kalo Dea mau ketemu sama Abang" ledek nya.


"CK. mana ada dekil aku tampan mi" balas Justin.


"Cih tampan matamu gundul, nih ya bang semenjak itu istri kamu ilang liat penampilan kamu. jangan kan Dea mami aja males liat muka kamu" decak mami alin.


"Yaampun mi, boro-boro mau Keliat ganteng dah bini lagi gak ada mana mau bergaya" kesal Justin.


"Mami heran kenapa dea mau nikah sama kamu" ledek mami alin.


"Ck. kan mami sama Oma Dea yg maksa kota nikah kalo mami lupa" balas Justin.


"Abang mah ihhh, jangan gitu. lagian kamu juga seneng kan mami kawinin sama Dea" ucap mami alin.


"Iya saking seneng nya aku kehilangan dia sekarang, dan tanpa kita sadari gadis polos itu di incar banyak laki-laki" balas Justin.


"Udah Abang sekarang makan biar punya tenaga, inget bang menerima kenyataan itu butuh tenaga yang ekstra. apalagi mau berjuang nyari istri yang lagi di sekap cowok lain" ucar mami alin. sementara Justin hanya bisa menatap sang mami dengan wajah datar.


...


Di suatu tempat seorang wanita sangat terlihat menyedihkan, wajah pucat tubuh kurus mata bengkak. karena ia tidak berhenti menangis, ini udah satu Minggu dirinya di sekap. bahkan ia tidak yakin jika calon anak nya bisa bertahan dengan keadaan dirinya yang seperti ini.


Dea sangat terlihat stres, bahkan ia sering teriak histeris ya wanita itu adalah Dea putri sulung dari keluarga Artadinata. meskipun begitu Dea masih memiliki kesadaran agar tidak menyakiti anak nya.


"Si*lan kamu bereng*ek! lepasin aku lepasin" teriak nya. setiap hari Dea hanya teriak-teriak dan menggedor pintu kamar. bahkan ia pernah melempar pas bunga ke arah Dodi saat lelaki itu ingin menemui nya. melihat Tingkah Dea yang seperti biru Dodi tercengang, pasalnya Dea yang ia kenal selama ini itu wanita yang lembut.


Mendengar teriakkan Dea Dodi berlari dan membuka pintu kamar Dea, betapa terkejutnya ia saat melihat Dea yang kacau. Dea sangat terlihat tertekan dan stres bagaimana tidak Dea merasa ketakutan dan sakit secara bersamaan, bahkan fikirannya saat ini bercabang. ia memikirkan sang bunda, ayah, Justin dan anak dalam kandungan nya. ia merindukan suaminya, ayah juga bundanya. bahkan yang saat ini selalu menghiasi bayangan nya yaitu Dena adik bontot nya yang selalu melakukan panggilan video Dengan Dea.


"Dea" panggil Dodi, Dea yang terduduk di lantai pun mendongak. ia tersenyum miris bahkan Terlihat menyeramkan untuk di lihat.


"Baj*Ngan. Bu*uh aku Dodi biar kamu puas! ayo sekalian kamu bikin aku dan anak aku gak ada di dunia ini lagi" teriak nya.


"De, bukan ini mau gue. gue sayang sama Lo de, gue gak bisa liat Lo sama orang lain" ujar Dodi.


"Lo bukan sayang sama gue se*an, Lo cuma berambisi" teriak Dea membuat Dodi berjingkat kaget, matanya membulat menatap Dea setelah mendengar ucapan Dea yang kasar.


"De ini bukan Lo yang gue kenal" ucap Dodi.


"Iya karena Dea yang Lo kenal udah ma*i. saat elo bikin dia tersiksa, bahkan Lo bukan cuma siksa dia tapi juga siksa anak yang bahkan belum lahir. anak gue belum liat dunianya seperti apa" teriak nya lagi dengan air mata yang mengalir deras.


"Dea" kiri Dodi.


"Dia hiks, dia bahkan belum tau wajah orang tuanya bahkan jenis kelamin nya pun gue belum tahu. tapi Jahan nya elo bikin dia tersiksa bahkan sebelum ia lahir, sebelum gue liat wajah anak gue! sebelum gue denger detak jantungnya" teriak Dea, dan ia berlari ke arah nakas mengambil kotak tisu lalu di lemparkan ke arah Dodi. Dea kembali mengamuk berteriak histeris minta pulang.


"De, Dea bangun de" ucap Dodi, mengangkat tubuh Dea ke atas tempat tidur.


Dodi segera menghubungi dokter, dan tidak lama dokter pun tiba langsung memeriksa keadaan Dea.


"Gimana?" tanya Dodi kepada dokter itu, yang tak lain adalah temannya.


"Lo gila sii, Lo apain dia sampe dia stres dan tertekan parah kaya gitu" tanya sang dokter.


"Gue, gue culik dia" jawab nya jujur, membuat temannya itu terkejut.


"An*ING gila Lo ya! ngapain Lo culik wanita hamil, itu berbahaya buat janin nya. kalo dia gila gimana" ujarnya. mendengar itu mata Dodi membelalak.


"Dia beneran hamil?" tanya Dodi.


"Parah Lo ya, gak ngerti lagi gue harus gimana sama Lo. dia stres Dodi dia tertekan, Lo liat wajah nya pucat tubuhnya kurus kaya kurang gizi. itu gak baik buat ibu hamil apalagi dia Masi muda" jawab nya, berlalu meninggalkan Dodi dan Dea.


Setelah kepergian dokter yang memeriksa Dea, Dodi mendekati Dea dan mengusap kepalanya. sungguh ia tidak rela jika wanitanya bersama orang lain.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


maaf aku bikin kalian nunggu di usahakan hari ini up banyak ๐Ÿ˜Š


N**: kemana aja Lo?


A: sibuk gue ๐Ÿ˜’


N: gue kira kebawa angin๐Ÿ˜‚


A: Lo kira gue kapas๐Ÿ˜’


N: kan kirain๐Ÿ˜‚


A: hilihh๐Ÿ˜’


**N: ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚***