
Hari ini terlihat Mei sedang mengasuh Dena, ya gadis mungil itu semenjak Dea terbaring di rumah sakit Dena sering di tinggal oleh sang bunda.
"Kakak" panggil Dena.
"Iya dek kenapa?" tanya Dena.
Namun sebelum Dena menjawab gadis mungil itu di kejutkan oleh Dio yang tiba-tiba memeluk Mei, sontak saja mata Dena membulat sempurna.
Emang Abang gak ada ahlak depan anak kecil masih sempet nya meluk Mei, melihat ekspresi Dena yang terkejut Mei melepaskan pelukan Dio.
"Abang" teriaknya.
"Yap?" tanya Dio.
"Ini ada Dena, Abang ih jangan racunin fikiran polos nya Dena dong" kesal Mei. berbeda dengan fikiran Mei Dena justru merasa iri karena dirinya tidak di peluk.
"Abang dahat" teriak Dena, yang membuat Dio dan Mei saling pandang.
"Lah kamu kenapa dek?" tanya Dio bingung.
"Kaka Mei di peyuk Dena nggak" rengek nya membuat Dio terkekeh.
"Adek mau peluk?" tanya Dio.
"Mau" jawabnya antusias dan mengedip-ngedipkan matanya, membuat Dio dan Mei gemas.
"Uluuhhh adik siapa sii" tanya Dio menciumi pipi gembul Dena.
"Hihi Deli Abang Deli" teriaknya.
Sementara Mei memandang keduanya dengan tersenyum, ahhhh kalo nanti udah nikah sama si Abang gini kali ya. ini kalo punya anak cewek yaampun gak sabar gue.
Eh apa katanya tadi? gak sabar. haha ngaco sekolah aja gue belum kelar lah udah mikirin punya anak.
Dio menatap Mei dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, dan hal itu membuat dahi Mei mengkerut.
"Ada apa?" tanya mei.
"Kalo punya anak nanti begini ya" goda Dio.
Eh, ko si Abang bisa tau fikiran liar gue haha.
"Eh, ngaco sekolah aku aja belum kelar" balas Mei.
"Tapi gak apa-apa kan nikah dulu, nanti sekolah nya di lanjut" ucap Dio.
"Nggak mau aku ah" balas Mei.
"Kenapa?" tanya Dio heran.
"Abang plis deh, jangan ngarang. mana mungkin nikah muda" jawab Mei.
"Kak Dea bisa" ucap Dio.
"Kak Dea kan nikah pas udah lulus" ujar Mei.
"Oiya hehe" balas Dio.
"Kebanyakan tinggal di luar negeri, kayanya otak mu ketinggalan bang" ucap Mei terkekeh.
"Iyani otak gue nyangkut di kang kebab" balas Dio, membuat Mei terbahak.
"Haha Masi untung di kang kebab" jawab nya.
"Si*lan ih ngomong nya" balas Mei.
"Si*lan begini gue ganteng Mei iya kan" goda Dio.
"Mana ada, bingung gue bang itu si Nina suka apanya sama Lo sampe gesrek begitu" ucap Mei.
"Itu bukan suka tapi kepengen banget, bo*oh aja pake cara kaya begituan" ucap Dio.
"Emang kalo gak gitu Lo suka bang?" tanya mei.
"Nggak lah, kalo gue sama Dia gue takut ada yang galau" ledek Dio.
"Siapa?" tanya mei bingung.
"Gak usah pura-pura bodoh Mei, tar kalo gue sama Nina Lo bongkar selokan depan sekolah kan bahaya" goda Dio.
"Hahaha jijay mana ada begitu, kerajinan amat" ucap Mei.
"Halah bilang aja iya, kemarin juga pas gue pergi kata bunda Lo guling-guling" ledek Dio.
"Abang sumpah ya Lo nyebelin" decak Mei.
"Ngangenin dong ya" ucap Dio ngeyel.
"Haiiihhhh ada aja orang model begini" kesal Mei.
"Ini ada depan Lo, orang paling tampan sejagat pohon singkong" ucap Dio membuat Mei mencebikan bibirnya.
"Terserah" ucap Mei berlalu meninggalkan Dio yang terkekeh, berdebat dengan mei adalah kebiasaan yang menyenangkan untuk nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
***happy reading 😊🤗
A**: gak tau mau nulis apa jadi begini aja ya😁
N: iyadah asal up aja 😂
A: maunya elo itumah Uun😒
N: emang 🤣
A: sue Lo ketemi 😏
N: 🤣🤣🤣*