
Setelah berbincang dengan Dea dan Mei, mereka balik ke kamar masing-masing begitupun dengan Mae.
Mae mengunci pintu kamar nya dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur, iya menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Mae menangis tersedu-sedu, ia begitu jelas melihat tatapan mata Dio untuk Mei saat sedang bernyanyi tadi.
Mae tahan, plis jangan seperti ini. Lo tau perasaan ini salah jangan egois mereka saling mencintai, Lo gak bisa rebut kebahagiaan orang karena itu bukan Lo.
begitulah fikir mae.
Ia benar-benar berusaha untuk membuang perasaannya, hingga suara dering ponsel membuat Mae harus menghentikan tangisnya.
Ia meraih ponselnya dan menekan tombol hijau, setelah melihat nama si penelepon yang tak lain adalah mama nya.
***panggilan telepon
Mama**: assalamualaikum, Mai.
Mae: walaikumsalam, ma.
Mama: giaman kabar kamu nak? Mae baik-baik aja?
Mae: .....(tidak menjawab)
Mama: Mae?
Mae: iya ma, aku baik-baik saja.
Mama: Mae mama mau bicara sama kamu, tapi mama minta kamu tidak marah ataupun menolak.
Mae: mama ngomong aja, Mae gak akan marah atau menolak apa yang akan mama katakan (lirihnya)
Mama: Mae papa sakit nak, dan maaf karena keadaan papa kami harus mengorbankan kamu hiks..hiks...
Mae: apa maksud mama?
Mama: Mae papa kena tipu oleh rekan bisnis nya, hingga papa jatuh sakit disini. dan membutuhkan biaya dan bersyukur ada orang yang membantu kami. tapi_
Mae: tapi apa ma?
Mama: dia meminta agar mama membujuk kamu untuk menikah dengan putranya, maaf Mai mama mengambil keputusan sendiri hiks...
**Duaaaaarrrrrr***....jantung Mae berdegup kencang mendengar ucapan sang mama, begini ternyata yang di rasakan Dea dulu. di jodohkan dengan orang yang bahkan ia sendiri tidak tahu, Dea kita memang selalu bersama. bahkan kita celaka di waktu yang sama, koma juga bersama, bahkan sadar dan sembuh bersama lalu apa ini? nasib kita sama yang sama-sama di jodohkan. batin Mae, ia tidak bisa lagi membendung air matanya yang mengalir deras.
*Mama: Mae maafin mama.
Mae: mama gak salah mungkin ini saat nya Mae balas jasa-jasa mama, mama dan papa udah banyak berkorban untuk Mae.
Mama: mama tahu ini sulit buat kamu, mama tahu ini bukan yang kamu mau nak. mama tahu untuk siapa hati dan cinta kamu, tapi dengan bodoh mama korbankan diri kamu hanya untuk kepentingan mama dan papa.
Mae: mama, Mae gak akan ngelawan Sam mama. dan soal hati juga cinta Mae itu bukan hal yang penting untuk Mae. biarlah perlahan perasaan itu akan menghilangkan*.
dengan cepat Mae mengakhiri panggilan nya, bahkan ia tidak bertanya siapa yang akan di jodohkan dengan dirinya.
Hati Mae hancur sehancur-hancurnya, setelah ia memendam semua kesakitan dan hari inilah puncaknya iya meluapkan tangisnya. namun sekarang di tambah dengan kabar yang ia terima.
Biarlah Mae hidup tidak seindah dalam cerita dongeng, lagipula tidak semua perjodohan itu menyeramkan. buktinya Dea sahabatnya terlihat bahagia dengan Justin, mungkin dengan cara ini pula ia bisa melupakan perasaan nya untuk Dio.
Mae kembali menenggelamkan wajahnya di atas bantal, dan ia teriak dengan kencang untung suara Mae tidak terdengar keluar karena teredam oleh bantal.
"Tuhan jika ini memang takdir ku, jika dia memang bukan jodohku aku mohon jauhkan aku dengannya dan hilangkan perasaan aneh ini untuk nya. aku mohon hiks...hiks... jadikan ini perjuangan akhir ku untuk mengejar nya" ucap Mae di sela Isak tangis nya.
...
Di tempat lain seorang laki-laki sedang melamun dalam pesawat, ia memikirkan ucapan ayah bunda nya tadi.
"Sorry, gue gak bisa balas perasaan Lo mai. gue rasa Lo tau alasan gue, bukan gue gak suka sama Lo sedikit gue punya rasa peduli sama Lo mai. tapi Lo tau gue gak bisa kecewain Mei yang lebih dulu ngisi hati gue" batinnya.
"Gue percaya jodoh gak akan kemana Mai, kalo Lo jodoh gue sekeras apapun Lo menutupi semua pasti akan terbongkar. dan sekeras apa gue menghindar tuhan pasti akan mendekatkan, kehendak nya tidak akan salah jika memang Lo harus bersama Julian gue rela jauh lebih rela Lo sama dia daripada Lo harus sama gue tapi Lo terluka" tambah nya.
.
.
.
Dea mengetuk pintu kamar Mae, ia merasa tidak enak hati karena mengingat Mae yang terlihat sedih.
Tok...tok...tok...
"Mae" panggil Dea.
Tok...tok...tok...
door...door...door... bukan lagi mengetuk tapi Dea menggedor pintu kamar Mae.
"Mae buka pintunya" teriak Dea.
"Ada apa kak?" Tanya mei, yang baru saja datang.
"Mae gak buka pintu dari tadi" jawab Dea, terus menggedor kamar Mae.
"Maeeeeeesarrrrrooohhh" panggil Dea, namun usahanya nihil tetap tidak ada respon.
Mei ayah sama bunda belum balik, tolong panggil Julian buat dobrak pintu. tanpa menunggu lama Meitha berlari kerumah mami alin.
Beberapa menit kemudian mei kembali bersama Julian, Julian bingung kenapa wajah kakak iparnya itu terlihat panik.
"Ada apa de?" tanya Julian.
"Mae gak mau buka pintu Jul" jawab Dea.
"Tidur kali" ucap Julian.
"Nggak mungkin, Mae kalo tidur gak kebo kaya Lo" ujar Dea.
"Terus gimana?" tanya Julian.
"Dobrak" ucap Dea sontak membuat Julian membelalak.
"Lo gila, kalo dia lagi ganti baju gimana?" tanya Julian.
"Nggak bakal gue yakin" ucap Dea, tanpa menunggu lama karena ia pun sama khawatir akhirnya mendobrak pintu itu.
1...2....3... Brrrraaaaakkk.... pintu terbuka dengan keras, namun tidak ada orang di dalam sana.
"Mae" teriak Dea.
"Kak Mae lagi mandi" ucap Mei yang mendengar suara air.
Dea pun menghampiri pintu kamar mandi, dan mengetuk nya namun tidak ada sahutan dari dalam.
Dea berteriak kencang dan menggedor pintu dengan keras, namun sama saja seperti saat ia memanggil Mae di depan pintu kamar nya.
Karena kesal tanpa menunggu lama Julian menendang pintu kamar Bandi hingg terbuka lebar, dan saat pintu terbuka lebar mata ketiganya membelalak kaget melihat keadaan Mae.
Ya karena setelah lelah menangis Mae pergi ke kamar mandi, merendam dirinya dalam bathtub dengan air yang terus menyala. hingga Mae tidak sadarkan diri. dan itu yang membuat Dea, Mei dan Julian terkejut. bahkan kepala Mae sudah mulai tenggelam kedalam bathub.
Julian berlari ke dalam kamar mandi dan mengangkat tubuh mungil Mae, dilihatnya wajah me yang sudah memucat seperti mayat.
Julian berlari membawa Mae ke mobil di ikuti oleh Dea dan Mei, Dea menangis melihat Mae. apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabatnya itu hingga Mae jadi seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
N**: gue nangis Thorπ
A: ngapa Lo π
N: sedih gila sumpah Lo yaπ
A: sabar Uun π
N: dibalik sikap tegar nya ternyata ada rapuh nya jugaπͺ
A: ada lah tiap orang punya kelemahan π meskipun di umpetin di depan orang lain tapi gak bisa di umpetin kalo lagi sendiri π
N: iya bener Thorπ
A: πππ*