
Malam hari Justin terpaksa menginap di rumah Sisil, lantaran Dea tidak ingin pulang dulu untuk malam ini.
Justin memeluk Dea dan masih berusaha memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk sang istri, namun dalam hati Justin masih penasaran kenapa bisa Dea mengalami hal itu.
"Dea" panggil Justin, kepada sang istri yang berada dalam pelukannya.
"Hmmmmm" jawab Dea mendongak.
"Kamu kenapa? apa yang terjadi sama kamu?" tanya Justin.
"Abang Dea takut" ucap nya kembali.
"Ceritakan" ucap Justin.
"Abang janji jangan bilang ayah sama bunda dulu, aku gak mau mereka khawatir" pinta dea, dan Justin mengangguk.
Dea pun menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya perlahan, Dea menceritakan semua yang di alaminya tadi siang saat di kampus kepada sang suami. dari awal dia sampai dan masuk ke toilet, hingga kejadian saat tangan Dea di tarik oleh Dodi di lorong tepat dekat toilet hingga Joni yang mencoba untuk menc*um nya. mendengar cerita Dea dan reaksi Dea yang kembali ketakutan Justin merasa geram dan murka, berani sekali dia menyentuh wanitanya! wanita yang sekarang sudah menjadi milik Justin seutuhnya.
"Memang tidak ada orang disana?" tanya Justin.
"Nggak ada Abang, orang aku baru keluar dari toilet" jawab Dea.
"Shiiiitttt!" umpat Justin.
(bod*h gue gak nyuru pada pengawal buat ikutin dia sampe ke toilet kan, lagian mana mungkin para pengawal mau ngikutin Dea sampe ke toilet. itu orang pinter dia tahu kalo area seperti itu aman) batin Justin.
Justin ingin sekali marah saat ini namun ia tidak ingin membuat Dea kembali ketakutan, Justin menenangkan Dea hingga terlelap. setelah melihat Dea yang sudah terlelap Justin melepaskan pelukannya perlahan agar Dea tidak bangun.
Justin bangun dan menghubungi seseorang, ia benar-benar tidak bisa menerima orang yang terang-terangan mengganggu Dea.
****percakapan telepon*
Justin**: cari tahu orang yang mengusik kenyamanan istriku.
SK: baik tuan.
justin: lakukan secepatnya. dan aku tunggu kabar dan informasi yang kau dapat.
SK: baik tuan muda*.
telepon pun terputus, Justin kembali ke tempat tidur dan berbaring di samping Dea. ia menatap wajah cantik Dea yang terlelap.
Justin merasa gemas dengan posisi tidur Dea, namun ia di kejutkan dengan Dea yang tiba-tiba menarik tangan Justin dan bergumam tanpa membuka matanya.
"Abang bobok" ucap Dea pelan.
"Astagfirullah, kau ini mengagetkan aku saja" balas Justin tersenyum. mendengar ucapan Justin Dea pun membuka matanya.
"Bobok bang, udah malam ini" ucap Dea.
"Iya saya tidur" balas Justin.
keduanya pun terlelap dengan posisi Justin yang kembali memeluk tubuh mungil Dea, karena itu sudah menjadi kebiasaan nya untuk saat ini.
...
Di tempat lain terlihat Rio yang tengah sibuk untuk mencari tahu siapa yang telah membuat putrinya ketakutan, apapun akan Rio lakukan jika Sudan menyangkut keluarga apalagi anak dan istrinya yang selalu menjadi sumber kebahagiaan untuk Rio.
"Bun apa kamu tidak tahu sesuatu?" tanya Rio.
"Bisa saja orang ini mengancam atau berbuat tidak baik kepada putri Kita" ucap Rio.
"Tentu saja yah, kalo tidak mana mungkin Dea ketakutan seperti itu" balas sisil.
"Siapa yang berani mengusik putriku. aku tidak akan melepaskan nya, berani sekali dia menyenggol keluarga Artadinata!" geram Rio.
Saat sedang berbincang ponsel Rio pun berdering, tanpa menunggu lama Rio langsung mengangkat nya.
Setelah menerima informasi dari anak buah nya yang mengatakan, sama seperti apa yang Dea katakan kepada Justin Rio pun murka.
Meskip belum tahu siapa yang melakukan itu Rio akan terus mencari tahu, ia baru mendapatkan informasi jika Dea mengalami kejadian namun siapa yang melakukan belum ketahuan.
Karena saat itu Dodi membelakangi orang yang melihatnya, jadi belum ada yang bisa menebak.
"Baj*Ngan! beraninya kau menyentuh putriku yang sudah menjadi istri orang lain ke*Arat" geram Rio, Sisil yang mendengar suaminya marah pun bertanya.
Rio menceritakan semuanya hingga membuat mata Sisil membulat sempurna, Sisil takut selain suaminya Justin pasti sudah mengambil tindakan lebih dulu.
"Ayah siapa orang itu, berani sekali dia" tanya Sisil.
"Entahlah bun, yang jelas dia juga bukan orang biasa" jawab Rio.
"Ayah aku khawatir" ucap Sisil.
"Tentu saja orang itu bo*oh. dia melakukan hal itu tanpa menyelidiki siapa putri kita, jika kita masih punya toleransi aku rasa tidak dengan Justin" ujar Rio.
"Maksud ayah?" tanya Sisil Bingung.
"Kita semua tahu jika keluarga Abrisham terkenal kejam Bun, apalagi Justin terbilang pengusaha muda yang sukses tanpa bantuan keluarga nya. dalam dunia bisnis menantu kita itu sangat di takuti, dan aku yakin untuk masalah ini Justin tidak akan memberikan pengampunan apalagi ini menyangkut istrinya. dalam arti wanitanya, milik nya yang sudah di ganggu orang lain" jelas Rio.
"Ayah benar, terlihat dari sorot matanya" ucap Sisil.
Keduanya merasa kesal namun mereka yakin Justin mampu menyelesaikan semuanya, Rio sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi mengenai Dea. semua keputusan dan tanggung jawabnya sudah di ambil alih oleh Justin, ia hanya akan membantu untuk melindungi dan memberikan sedikit pelajaran kepada orang yang menggangu putrinya. selebihnya itu urusan Justin.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: bonus neh bonusπ
N: uwuuuuuuuu di kasi bonusπ
A: vote nya banyakin yaπ
N: hilih ada maunya π€£
A: dikitπ
N: okelah πππ*