
Di dalam perjalanan menuju rumah Julian hanya termenung, setelah memeriksa kandungan Mae Julian merasa tersentuh saat mendengar suara detak jantung calon anak nya.
Hingga membuat matanya berkaca-kaca namun ia segera mengalihkan wajah nya, agar Mae tidak melihat sisi lemah nya.
Ia benar-benar bersyukur karena Mae menjaga buah hati nya dengan baik, meskipun sikap Julian yang kadang eror tapi Mae selalu menjaga anak nya.
Mae menatap Julian dengan bingung apa yang sebenarnya terjadi, karena saat akan pergi ke rumah sakit Julian begitu cerewet namun sekarang ia menjadi pendiam.
"Kamu mau langsung pulang atau mau kemana dulu" tanya Julian.
"Aku mau langsung pulang aja" jawab Mae.
"Capek ya" tanya nya dengan senyuman yang manis.
"Hmmmmm, badan aku lebih cepat lelah dari biasanya. mungkin faktor kehamilan" ucap Mae, membuat Julian menoleh dan mengelus kepala Mae dengan lembut.
Hal itu membuat Mae mematung, mungkin jika Dea sudah sering di perlakukan seperti itu oleh Justin fikir nya. namun berbeda dengan Mae.
"Maaf" lirih Julian.
"Hmmmmm, kenapa?" tanya Mae bingung.
"Harusnya aku yang selalu nemenin kamu di saat-saat seperti ini, tapi aku malah sering bikin kmau kecewa dan sakit hati" jawab Julian.
"Setiap orang pasti akan membuat kesalahan, tapi kan yang terpenting kamu mau merubah dan menebus semua kesalahan kamu" ujar Mae.
"Kamu gak marah?" tanya Julian.
"Ingin, tapi aku gak bisa kamu itu ayah dari anak aku. mana mungkin aku marah sama kamu dan jauhin seorang ayah sama anak nya sendiri, aku gak sejahat itu Julian" jawab Mae membuat Julian terenyuh.
Tidak lama kemudian merekapun tiba di rumah Mae segera turun dari mobil, sementara Julian menatap tubuh Mae yang berjalan ke dalam rumah.
Ia pun langsung melajukan kembali mobil nya menuju kantor, semenjak Julian menikah dengan Mae dan semenjak Julian tahu bahwa Mae mengandung anak nya. ia selalu bekerja keras hingga Julian bisa sesukses sang Abang.
Julian dan Justin memiliki perusahaan sendiri tanpa mengganggu perusahaan keluarganya, mereka membesarkan nama mereka sendiri hingga akhirnya Julian dan Justin terkenal sebagai pembisnis yang handal.
...
Di tempat lain Mae tengah berjalan menuju kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Dea yang terlelap dalam posisi duduk.
Mae yakin itu sangat tidak nyaman apalagi saat ini Dea sedang mengandung, Mae pun dengan hati-hati membenarkan posisi tidur Dea.
Ia menatap wajah sahabat yang sekarang berstatus sebagai kakak iparnya, mata Mae berkaca-kaca saat mengingat kedekatannya dengan Dea dan Nina dulu.
Ia merindukan persahabatan nya namun Mae juga memiliki rasa kecewa yang besar kepada Nina, andai saja gadis itu tidak nekat mungkin saat ini Dea sudah bisa menggendong anak nya.
Mae mengelus kepala Dea dan beralih kepada perut Dea yang semakin membuncit, ia tersenyum saat tangan satunya memegang perut nya sendiri.
"Baby baik-baik di dalam perut mommy kamu ya, kamu beruntung karena di takdirkan menjadi anak nya. Karen mommy kamu adalah wanita yang baik dan juga penyayang, semoga kamu memiliki sifat yang sama seperti mommy kamu" lirih Mae terus mengelus perut Dea.
Setelah merasa puas Mae pergi menuju kamar nya, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Mae kembali membayangkan perlakuan Julian terhadap nya, hingga tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor yang tidak di kenal Mae pun mengangkat nya.
****Panggilan telepon*
Mae**: hallo, assalamualaikum.
???: walaikumsalam, benar ini dengan nona Maesaroh?
Mae: ya saya sendiri, ada apa ya? ini dengan siapa?
???: begini nona kami dari tim rumah sakit ingin mengabarkan bahwa*_....
Namun tiba-tiba mami alin masuk ke dalam kamar nya dengan wajah panik, mami alin yang berada di luar kota segera kembali ingin menemui menantunya.
"Mami ada apa" tanya Mae bingung, ia merasa hatinya tidak enak.
"Mae kamu yang sabar ya nak ya, kamu nggak sendirian kok nak. disini kamu punya mami, Dea, Julian, Justin bahkan keluarga ayah Rio nak" jawab mami alin.
"Mami kenapa? apa maksud mami bicara seperti itu" tanya Mae, ia mulai merasa panik.
Melihat Mae dan Dea penasaran mami alin mulai menceritakan semua yang telah terjadi, dari keluarga ayah Mae yang merasa sirik dengan kesuksesan nya.
Dan tidak terima karena Mae yang menikah dengan putra dari keluarga Abrisham, bahkan Mae yang berada di dalam perlindungan keluarga Artadinata dan keluarga Abrisham.
Hal itu membuat adik tiri ayah Mae melakukan hal yang tidak baik, ia membuat ayah dan mama Mae mengalami kecelakaan.
Labih tepatnya mereka menyabotase rem mobil yang di kendarai oleh ayah Mae, hal itu membuat kedua orangtua Mae kehilangan kendali dan mobil nya masuk kedalam jurang.
Mae yang mendengar cerita mami alin pun mematung dengan mata berkaca-kaca, namun tatapan matanya kosong seakan tidak ada kehidupan di dalam nya.
Mami alin dan Dea saling memandang mereka khawatir, Dea menghambur memeluk Mae penuh sayang.
Meskipun dengan keadaan ngantuk dan kaget karena mami nya pulang dengan heboh, Dea tetap bisa bersikap tenang untuk menenangkan sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: ini part sedih siap-siap tisu dah ya π
N: jahat banget Lo bikin gue sad π
A: Jan seneng Mulu apa kali-kali sedih begituπ
N: oiya namanya kehidupan π
A: nah kah, gue gak mau berasa dalam dongeng aja gitu. pen ada sedih-sedih nya dikitπ
N: lanjutkan Thor π
A: otwπ
N: πππ*