
Tiga hari berlalu di kediaman Artadinata kini terlihat tiga ibu hamil yang tengah berbincang, Mae dengan perut nya yang sudah membesar dan mei dengan perut yang sedikit membuncit sementara Dea dengan perut nya yang masih terlihat rata.
Mei sengaja memanggil Dea dan Mae untuk menemani nya tidak lupa juga Aleta dan Aiden yang selalu mengikuti sang mommy pergi, Aleta dan Aiden sibuk dengan mainan nya sementara para ibu sibuk dengan perbincangan nya.
"Gue bingung dah sama mami" ucap Mae yang memulai perbincangan.
"Kenapa tuh" tanya Dea.
"Gue kan gak mau buat beli perlengkapan bayi lagi de, maksudnya yang gue beli buat Aleta aja Masi banyak yang belum kepake Leh ini mami malah sibuk nyari pelengkapan anak lagi" oceh nya membuat Mei tersenyum.
"Turutin aja mami Lo itu kalo kaga di turutin riweh yakin gue" kekeh Dea, ia mengingat betul bagaimana kasi sayang mami alin yang begitu besar.
"Iya kak mending turutin aja, mungkin mami mau nya adil waktu El kan beli baru nah yang sekarang juga beli baru" ucap Mei, meskipun dirinya belum ada persiapan apa-apa dan belum mengerti apapun karena Sisil belum juga kembali maka dari itu Mei mencoba mengerti dari apa yang ia lihat dari Dea.
"Bener tuh Mai" ucap Dea.
"Gue tuh ya pengen banget buat pergi ke salon terus pergi ke mall, tapi gue takut ada apa-apa sama perut buncit gue" ujar Mae.
"Udah gak usah bingung, Lo beli apa-apa kan bisa online lagian kalo mau perawatan Lo bisa panggil orang salon nya ke rumah" ucap Dea, jujur saja ia tidak pernah membayangkan akan tinggal satu rumah dengan mertua dan iparnya.
Bahkan Dea sempat pindah ke rumah baru bersama Justin dan saat kejadian penculikan lah Dea harus kembali tinggal bersama mertuanya, bukan hanya itu Dea juga harus satu rumah dengan Mae.
Saat Rio dan Sisil akan pindah ke luar negri kedua orangtuanya itu sempat meminta Dea tinggal di rumah Rio, namun Dea menolak karena ia tidak mungkin meninggalkan Mae meskipun ia harus meninggalkan Mei.
Dea juga berusaha adil kepada kedua adik ipar nya, ia tidak pernah membedakan Mae dan Mei maka dari itu kedua adik ipar Dea begitu menyayangi nya.
"Bener tuh" ucap Mei menanggapi perkataan Dea.
"Oiya bunda kapan pulang" tanya Dea dan Mae.
"Nggak tau katanya bunda masih belum bisa ninggalin Dena sendiri kak, terus juga Dena lagi sibuk-sibuknya gak bisa libur juga" Jawab Mei.
"Akutuh kangen sama bunda, tadinya aku mau kesana buat nengokin bunda Mei eh keburu Midun kan" ucap Dea membuat Mei terkekeh.
"Mei juga gitu tadinya mau kesana tadi keburu ada dedek disini" ucap nya.
"Yang gue bingung kenapa bisa barengan ya" ujar Mae membuat ketiga nya tertawa.
"Telat mendarat Mai" kekeh Dea.
"Dikira apaan mendarat" ucap Mae.
Saat mereka tengah asik berbincang Aleta menghampiri Mae, gadis kecil itu duduk di pangkuan Mae, Dea dan Mei tersenyum melihat tingkah Aleta.
"Abang ai mana El" tanya Dea, ia mengkhawatirkan putranya itu.
"Ada di depan mom" jawab Aleta.
"Hmmmmm, sama siapa" tanya Dea karena mereka tidak membawa pengasuh.
"Sendiri Abang nya" jawab Aleta, dengan cepat Dea pun keluar dari dalam rumah.
Ia melihat Aiden yang tengah duduk di teras dengan tab di tangan nya, tapi tunggu siapa orang di luar gerbang yang memperhatikan Aiden.
Seperti sedang mencari informasi mengenai putranya itu, untung posisi duduk Aiden membelakangi gerbang jadi wajah nya tidak akan terlihat.
"Ai masuk yuk" ajak Dea, ia merasa tidak tenang.
"Ya mom" jawab Aiden berjalan masuk, sementara Dea menatap lekat orang yang jauh dari pandangan nya itu karena gerbang dan teras rumah yang cukup jauh, bahkan terhalang beberapa tanaman.
Setelah Aiden masuk Dea berjalan mendekati dengan hati-hati, saat sudah dekat matanya membulat sempurna saat melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya.
Wanita yang menjadi sahabatnya dan wanita yang dulu membuat dirinya kehilangan anak yang seharusnya menjadi kakak Aiden, Dea mendekati gerbang dan nampak lah dengan jelas sosok Nina.
"Nina" lirih Dea, wanita itu cih wanita yang sudah lama menghilang kini muncul kembali.
"De" lirih nya, air mata Nina luruh membuat Dea mematung. penjaga sengaja tidak membukakan gerbang karena sejak Nina datang ia menghubungi Dio nmatun Dio meminta jangan membiarkan Nina masuk.
"Lo ngapain disini" tanya Dea, ia tidak ingin keluar dari halaman rumah. karena ia takut jika Nina berbuat buruk kepada nya.
"Gue hiks...gue hamil de" ujar Nina membuat Dea melotot dan menatap perut buncit Nina.
"Tapi tapi ini bukan anak Juna" lirih nya, membuat dea menganga. darimana dia tau jika itu bukan anak Juna lalu anak siapa fikir Dea.
"Bu...bukannya" ucap Dea terhenti.
"Nggak bukan de, saat sama Juna itu gue gak hamil dan berapa lama gue tunggu gak ada gejala hamil. tapi ini emang bukan anak juna" Isak tangis Nina terdengar pilu, namun Dea tidak ingi tertipu lagi.
"Na sorry gue gak bisa bantu" lirih Dea membuat Nina mendongak.
"Lo tega de hah? gue rela meskipun harus jadi pembantu di rumah ini de gak apa-apa sampai anak gue lahir" ucap Nina, namun karena Dea yang cerdas fikirannya langsung traveling.
Jika Nina menjadi pembantu di rumah Rio dea takut kalo Nina akan mengganggu Dio dan Mei, lagi pula Dea tidak sejahat itu menjadikan Nina seorang pembantu.
Saat Dea berfikir Mae dan Mei keluar menghampiri Dea yang tak kunjung masuk kedalam rumah, sementara Aiden sudah berada bersama dengan aleta.
"Dea" panggil Mae membuat Dea menoleh, begitupun dengan Nina yang langsung mengalihkan pandangannya kepada Mae dan perut buncit Mae dan Mei.
"Loh kak Nina" ucap Mei, ia tidak bertanya kenapa Nina tidak di perbolehkan masuk karena ia tahu penjaga nya pasti sudah melapor kepada Dio.
"Mei lirih Nina" mata Nina berkaca-kaca, rasa bersalah begitu terlihat di wajah nya.
Mei dan Mae bisa melihat itu begitupun dengan Dea, namun ketiga wanita itu memilih untuk waspada. bukan takut hanya saja ketiga nya sedang mengandung jadi harus berhati-hati.
"Ada apa" tanya mei dan Mae, Dea tidak menjawab nya namun ia melirik perut Nina yang buncit membuat Mei dan Mae mengikuti arah tatapan Dea.
Betapa terkejutnya Mei dan Mae pasalnya mereka tidak mendengar kabar pernikahan Nina, namun kenapa tiba-tiba seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: Nina tobat belum ya π
N: mana saya tau yang nulis kan anda ππ
A: lah iya lupa gue π
N: kebanyakan mikir Lo ya jadi oleng π€£
A: iya jadi mohon maaf untuk kalian yang gak saya balas komen-komen nya, tapi saya respon nya pake like kok π
N: gue mah ngerti kok lagian kalo Lo balaesin komen nanti ceritanya nggantungπ
A: kalo aku balaesin nanti aku gak bisa kejar-kejaran nulis π
N: mangkanya aku mengerti kamu π
A: maaciw π
N: sama-sama π€*