Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 289


Keesokan harinya Mae mulai membuka matanya, ia melihat ruangan yang serba putih. Mae pun menatap seseorang yang terlelap sambil memegang tangan nya


Mae menatap langit-langit kamar hingga air matanya kembali menetes, Mae mengingat bagaimana ayah nya menikahkan dirinya dengan Julian.


Bagaimana mama nya memeluk bangga saat Mae menyetujui pernikahan nya, dan bagaimana suara haru mama nya saat mengetahui dirinya tengah mengandung.


Bayang-bayang itu selalu terlintas dalam ingatan nya, Isak tangis Mae terdengar oleh Julian hingga membuat nya terbangun.


Julian mematung saat melihat Mae menangis, ia merasa sesak di dada nya ia tidak ingin wanita di hadapan nya menangis.


"Mae" panggil Julian, hingga membuat Mae menghapus air matanya.


"Hmmmmm" sahut nya mencoba tersenyum, dan hal itu justru membuat Julian semakin teriris. Julian merengkuh tubuh Mae dan memeluk nya, bahkan Julian menciumi puncak kepala Mae dengan sayang.


"Kamu gak sendirian, aku akan selalu bersama kamu dan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi" lirih Julian, membuat Mae semakin terisak.


"Berhenti menangis, ingat anak mu akan itu sedih jika mami nya bersedih" tambah Julian menyadarkan Mae, Mae pun berhenti menangis dan mencoba untuk menguatkan hatinya.


Julian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mae, lalu Julian mengecup bibir Mae sekilas.


"Sudah jangan bersedih, lebih baik kamu makan ya" ucap Julian.


"Aku gak laper" balas Mae.


"Tapi kamu harus makan" ujar Julian.


"Aku gak mau makan" ucap Mae.


"Kamu emang gak mau makan, tapi anak kamu butuh makan" ucap Julian mengelus perut Mae.


"Jul" rengek nya.


"Makan ya sedikit aja, udah itu kamu makan buah biar perut nya gak kosong" ucap Julian.


"Nggak kosong ko, kan di perut aku ada dedek nya" canda Mae membuat Julian terkekeh, Julian merasa salut kepada Mae karena masih bisa bercanda di saat seperti ini.


"Ya iya mangkanya harus makan biar dedek nya gak kelaparan, nanti kalo kamu gak makan dedek nya ngeluh. mami nya jahat gak kasi dedek makan padahal dedek lapel" ucap Julian menirukan suara anak kecil, di kalimat terakhir nya. dan hal itu membuat Mae tertawa.


Mae pun menerima suapan makanan dari Julian, ia tidak ingin merasa egois karena menolak makan.


Mae merasa bersyukur karena di saat seperti ini Julian ada bersama nya, bahkan Julian pun selalu menghibur nya.


Setelah selesai makan Julian memberikan piring berisi potongan buah apel, dan jeruk yang sudah ia kupas. dengan senang hati Mae memakan nya.


Saat tengah asik bercanda keduanya di kagetkan oleh sepupu Mae, wanita itu menatap Mae sinis namun ia tersenyum kepada Julian.


Tujuannya menemui Mae adalah untuk meminta Mae mencabut tuntutan kepada orang tuanya, karena tanpa belas kasih Justin menjebloskan adik tiri dari papa Mae itu ke penjara.


Mae menatap sepupu nya penuh kebencian, Julian merasa hal itu wajar karena Mae sudah kehilangan orang tuanya.


"Ngapain kamu kesini" tanyamae sinis.


"Santai dong gak usah galak gitu" jawab nya.


"Katakan apa yang kamu inginkan" tanya Mae lagi.


"CK, gue cuma mau Lo cabut tuntutan Lo sama orang tua gue" ujar nya.


"Cih, jangan mimpi! gue gak Sudi buat bebasin orang tua Lo" balas Mae sinis.


"CK, Lo tuh terlalu sombong" ucap sepupunya.


Saat tengah berdebat wanita itu di kejutkan oleh kedatangan Dea, wanita yang ia tahu sahabat Mae yang berasal dari kalangan biasa itu datang bersama dengan Justin yang juga merupakan tuan muda Abrisham. bahkan yang semakin meningkat nya terkejut adalah perut buncit Dea.


"Ada apa ini?" tanya Dea dan Justin, keduanya berniat untuk menjenguk Mae.


"Jadi gini_" Julian pun menceritakan semua yang terjadi di ruang perawatan Mae, mendengar itu Dea menatap sinis sepupu Mae. dan Justin dengan wajah datar nya menatap acuh tidak peduli.


"Yang menghukum orang tua kamu itu saya bukan Mae, lalu kenapa kamu menemui Mae" tanya Justin dingin.


Wanita itu menatap ketampanan Justin dengan kagum, ia bahkan tidak menyangka akan bertemu lelaki tampan seperti Justin.


"CK, laki gue itu oyy udah punya anak kaga liat apa bini nya ada disini dengan perut buncit. yang lagi ngandung anak kedua" cetus Dea, membuat Julian menahan tawa nya.


"CK, Lo bininya? ko tuan muda mau ya nikah sama wanita dari kalangan biasa kaya Lo" ujar nya membuat Dea geram, Dea yang memang emosi nya tidak stabil semenjak hamil mengambil kartu nama dan memberikan nya kepada sepupu Mae. ia pun menjabat tangan wanita itu.


"Lo kenal Rio Artadinata?" tanya Dea, dan wanita itupun mengangguk.


"Kenalin gue anak sulung nya" ucap Dea bangga, jujur Dea tidak menyukai cara seperti ini. namun ia merasa kesal kepada wanita di hadapannya.


"CK, jangan mimpi Lo" ledek nya, Dea pun mengambil ponselnya dan menunjukkan foto dirinya bersama Sisil dan Rio. dengan pose Rio dan Sisil dengan mencium pipi Dea, dan hal itu membuat sepupu Mae terkejut.


"Lo mau di hukum di sel mana? atas tanah or bawah tanah" tanya Dea enteng.


Karena merasa takut, dan terlanjur malu juga akhirnya dia pun pergi begitu saja. setelah kepergian wanita itu tawa Julian dan Justin pecah.


Dea hanya mendengus kesal lalu ia menghampiri Mae dan memeluk nya, Dea menenangkan dan meyakinkan Mae bahwa ia akan selalu bersama dengan Mae apapun yang terjadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€—


A**: noh Julian kalo udah bucin Dio pun kalah πŸ˜‚


N: ehhh baper dong gue πŸ˜‚


A: Panjul nya gue mah keren 🀣


N: iyadeh Panjul terdabestπŸ˜‚


A: iya dong πŸ˜‚


**N: πŸ€—πŸ€—πŸ˜‚πŸ˜‚***